KLON UNGGUL CENDANA BABES YOGYA, SOLUSI PENINGKATAN KEBERHASILAN RESTORASI POPULASI CENDANA DI INDONESIA

ADMIN | Senin , 27-Jan-2020

BIOTIFOR (Yogya, 2020)_Senin (27/01) menjadi salah satu hari tersibuk pada laboratorium kultur jaringan. Pada hari itu, kegiatan penelitian aklimatisasi dengan teknik microcutting dilakukan oleh tim peneliti cendana bersama seluruh teknisi yang ada pada laboratorium Kultur Jaringan di BBPPBPTH Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, 400 tunas cendana hasil perbanyakan invitro dari klon unggulan ditanam pada pagi itu juga. Dengan mengerahkan 7 orang, pekerjaan aklimatisasi berhasil diselesaikan hanya dengan waktu 2 jam saja. Hal ini dirasa cukup signifikan, mengingat kegiatan serupa pernah dilakukan pada bulan Oktober tahun 2019 dengan personil sebanyak 4 orang, memakan waktu hinga 4 jam.

“Aklimatisasi cendana merupakan salah satu tahapan dalam kultur jaringan yang bertujuan untuk mempersiapkan tanaman tersebut untuk beradaptasi secara bertahap dengan lingkungan luar. Tanpa adanya tahapan aklimatisasi yang sesuai, tunas hasil perbanyakan kultur jaringan berpotensi besar mengalami kematian yang tinggi secara cepat”, ungkap Yohannes Wibisono, S.Hut.,M.For.Ecosys.Sc., salah seorang tim peneliti.

“Teknik microcutting dalam aklimatisasi dilakukan dengan cara menanam tunas hasil perbanyakan tanpa melalui fase perakaran invitro. Pengakaran tunas bersamaan dengan aklimatisasi diharapkan dapat memangkas sumber daya dan waktu yang dibutuhkan”, sambungnya.

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta telah memiliki beberapa koleksi klon unggul cendana hasil seleksi dengan produktivitas kadar santalol tinggi bahkan beberapa klon memiliki kandungan santalol sesuai standart minimal perdagangan global ISO 3518 2002 yaitu kandungan senyawa a- dan b-santalol masing-masing 41-55% dan 16-24%.  Cendana dari Indonesia adalah jenis Santalum album merupakan jenis sandalwood yang paling banyak mengandung minyak (6-7%) dibandingkan dengan jenis sandalwood lainnya seperti S. yasi (5%), S. austrocaledonicum (3-5%), S. spicatum (2%) dan S lanceolatum (1%).

Liliek Haryjanto, S.Hut.,M.Sc. pakar cendana menyebutkan bahwa melalui teknik microcutting diharapkan klon-klon tersebut dapat dimultiplikasi dalam jumlah banyak dengan efisien dan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam peningkatan keberhasilan restorasi populasi cendana di Indonesia, khususnya di provinsi NTT.

“Kita ingin memulangkampungkan cendana ke asalnya dengan klon unggul yang kita miliki”, tambah Kepala BBPPBPTH, Dr. Nur Sumedi, S.Pi., MP. Lebih jauh, pengembangan klon cendana unggul tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.***(WB)