CENDANA PENGHASIL KAYU AROMATIK BERNILAI TINGGI YANG PERLU DILESTARIKAN

ADMIN | Rabu , 18-Maret-2020

Pentingnya Mikoriza Arbuskula dan Inang Pada Aklimatisasi Plantlet Cendana

Cendana adalah penghasil kayu aromatik bernilai tinggi yang dibutuhkan di berbagai industri. Seperti diketahui Cendana telah ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) sebagai spesies pohon yang terancam punah. Salah satu solusinya adalah melalui perbanyakan dan penanaman bibit cendana yang berkualitas.

Upaya perbanyakan bibit cendana berkualitas yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Litbang BPTH) salah satunya adalah melalui kultur jaringan. Kultur jaringan untuk konservasi dan perbanyakan cendana adalah teknik yang menjanjikan untuk mengurangi tingkat kepunahan serta meningkatkan pasokan bahan baku industri.

Dalam kultur jaringan, plantlet adalah hasil perkembangan kaalus yang telah nampak seperti tanaman aslinya, memiliki daun, batang, dan akar yang jelas. Sedangkan mikoriza arbuskular merupakan asosiasi antara fungi tertentu dengan akar tanaman dengan membentuk jalinan interaksi yang komplek. Mikoriza dikenal dengan fungi tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer).

Peran mikoriza arbuskula dan tanaman inang pada proses aklimatisasi cendana (Santalum album Linn.) sangat penting. Pengayaan mikoriza arbuscula dan penggunaan inang merupakan interaksi penting dalam upaya menurunkan tingkat mortalitas plantlet dan meningkatkan pertumbuhan bibit pada aklimatisasi kultur jaringan cendana.

“Plantlet cendana yang ditanam bersama inang Portulaca sp atau masyarakat mengenal dengan nama krokot, mempunyai persentase mortalitas yang lebih rendah dibandingkan tanpa inang. Rata-rata pertambahan tinggi bibit cendana yang ditanam bersama inang Portulaca sp. lebih baik dibandingkan tanpa inang,” sebagimana disampaikan Toni Herawan, peneliti Balai Besar Litbang BPTH, Rabu (16/03/2020).

Lebih lanjut Asri Insiana Putri, peneliti sekaligus Ketua Kelti Bioteknologi Hutan menjelaskan bahwa rata-rata pertumbuhan tinggi bibit cendana terbaik secara signifikan adalah pada penambahan 5 gram mikoriza arbuskula. Plantlet cendana memerlukan penambahan mikoriza di awal aklimatisasi tanpa menggunakan inang, setelah 12 minggu inkubasi memerlukan inang untuk meningkatkan pertumbuhan bibit.

“Masalah utama dari kultur jaringan cendana adalah terhambatnya pertumbuhan dan mortalitas yang tinggi plantlet pada tahap aklimatisasi,” tambah Toni.

Menurutnya penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh aplikasi mikoriza arbuskula pada aklimatisasi plantlet kultur jaringan cendana dengan dan tanpa inang. Klon A.III.4.14 dari Plot Konservasi Genetik di Gunung Kidul, Yogyakarta digunakan sebagai bahan plantlet, Acaulospora sp. dan Gigaspora sp. digunakan sebagai isolat MA, dan Portulaca sp. digunakan sebagai tanaman inang.

Pasir dan kompos digunakan sebagai media aklimatisasi di pembibitan. Larutan fungisida digunakan untuk mensterilkan plantlet. Plantlet cendana ditanam bersama dengan inang dan penambahan MA sesuai dengan perlakuan. Inkubasi dilakukan di rumah kaca selama 4 bulan.

Pengamatan tinggi benih dilakukan 4 minggu setelah sungkup polybag dibuka. Penambahan mikoriza pada plantlet cendana yang ditanam tanpa Portulaca sp. dalam jumlah yang sesuai menghasilkan tingkat mortalitas yang lebih rendah (8%) setelah inkubasi 12 minggu.

Rata-rata pertumbuhan tinggi semai terbaik adalah pada penambahan 5 g MA dan dengan inang (5,17 cm ± 1,21) setelah inkubasi 16 minggu di rumah kaca. Hasil penelitian ini membuktikan pentingnya pengayaan dengan mikoriza eksogen dalam jumlah yang sesuai dan tanaman inang dalam aklimatisasi kultur jaringan cendana. Hal ini disebutkan dalam karya ilmiah yang dimuat pada Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 2 (2018).

Tanaman bermikoriza cenderung lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (Hidayati, et al., 2015). Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualisma antara cendawan dan perakaran tumbuhan tingkat tinggi, simbiosa ini saling menguntungkan dimana cendawan memperoleh karbohidrat dan unsur pertumbuhan lain dari inangnya, sebaliknya cendawan membantu tanaman menyerap unsur hara terutama unsur P (pospor).

Hasil penelitian diatas diharapkan dapat menjadi model yang digunakan pada aklimatisasi cendana di persemaian karena sangat membantu pertumbuhan dan kebutuhan hara khususnya N, P, dan K yang terbukti dapat memacu perkembangan perakaran pada fase aklimatisasi yang merupakan fase yang sangat krusial untuk pertumbuhan tanaman tingkat tinggi khususnya cendana, dengan demikian diharapkan bahwa program introduksi bibit cendana yang dicanangkan Balai Besar Litbang BPTH untuk menunjang penanaman di lahan marginal khususnya di NTT dapat berjalan dengan lancer***(MNA&TH).

 

Dokumentasi : Tim peneliti

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun Pakem Sleman DI Yogyakarta (Indonesia)

Email                     : breeding@biotifor.or.id

Website               : www.biotifor.or.id

Instagram            : www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook            : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

E-Journal             : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index