NYAMPLUNG SI PENGHASIL BIODISEL DARI BIOTIFOR YOGYA

ADMIN | Rabu , 6-Mei-2020

Pemuliaan Nyamplung: Upaya Meningkatkan Keberhasilan Perbanyakan Vegetatif dengan Teknik yang Tepat

Jenis tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) merupakan salah satu jenis asli yang tumbuh di Indonesia dan memiliki sebaran yang sangat luas, terutama pada daerah pesisir pantai di Pulau jawa, Papua, Maluku Utara dan pantai Barat Sumatera. Tanaman ini merupakan sumber potensial penghasil biodiesel. Nyamplung memiliki produktifitas dan rendemen minyak bijinya tinggi, sehingga menjanjikan bagi masa depan bioenergi.

Produktifitas biji nyamplung dapat mencapai 40-150 kilogram per pohon per tahun atau 20 ton per hektar per tahun. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman jarak pagar (5 ton per hektar per tahun) dan sawit (6 ton per hektar per tahun).

Penelitian pemuliaan tanaman nyamplung oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Litbang BPTH/Biotifor) sebagai Satuan Kerja Kementerian LHK di Yogyakarta telah memasuki tahap seleksi pada tingkat individu yang memiliki sifat kualitas dan rendemen minyak yang tinggi.

Untuk mempertahankan keunggulan sifat tersebut sangat diperlukan teknik perbanyakan vegetatif yang tepat untuk memperbanyak individu-individu terseleksi,” ujar Tri Maria Hasna, peneliti Babes Litbang BPTH di ruang kerjanya, Senin (04/05/2020).

Lebih lanjut Hasna menerangkan bahwa tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bahan stek pucuk nyamplung dari trubusan pada anakan dan pohon induk nyamplung. Penelitian disusun dengan rancangan acak lengkap pola faktorial. Faktor yang diuji adalah faktor bahan stek yaitu trubusan pada anakan dan trubusan pada cabang pohon induk, dan faktor kedua yaitu aplikasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) (kontrol, larutan/pasta dan serbuk).

“Faktor pemilihan bahan stek pada tingkat juvenilitas (tahapan muda) yang tepat, ukuran stek dan penggunaan ZPT sering menjadi penyebab rendahnya keberhasilan tumbuh stek pada tanaman berkayu,” terangnya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam karya ilmiah yang dimuat pada Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol. 13, No. 1, Juni 2019. menyebutkan bahwa hasil pengamatan menunjukkan setelah umur 4 bulan sejak penanaman stek diperoleh persentase hidup (%) materi stek dari bibit sebesar 69,68% dan dari pohon dewasa sebesar 73,20% dengan rata-rata persentase hidup stek 71,44%. Sedangkan persentase hidup stek pucuk pada masing-masing perlakuan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) diperoleh dari kontrol sebesar 82,30%, bentuk pasta sebesar 80,09% dan bentuk serbuk sebesar 51,92%,

Dari data di atas menunjukkan bahwa persentase hidup stek dan pertumbuhan stek dari anakan dan pohon induk relatif sama akan tetapi pada persentase berakar dan pertumbuhan stek sangat dipengaruhui oleh interaksi kedua faktor. Persentase hidup stek pucuk bervariasi dari 51,92-82,30% dan persentase berakar berkisar 32,00-70,00%.

“Berdasarkan penilaian menggunakan skor diperoleh total skor tertinggi adalah pada perlakuan tunas dari anakan dengan pemberian ZPT dalam bentuk pasta yang menunjukkan kemampuan tumbuh stek dan bertunas yang lebih baik,” pungkasnya.***(MNA).

 


Dokumentasi : Hendra Firdaus dan tim

 

Artikel terkait: Buku Budidaya Nyamplung (https://biotifor.or.id/content-408-budidaya-nyamplung.html) 

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun Pakem Sleman DI Yogyakarta (Indonesia)

Email                     : breeding@biotifor.or.id

Website                 : www.biotifor.or.id

Instagram             : www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook              : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

E-Journal               : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index