BIOENERGY PARTNERS E-WORKSHOP

ADMIN | Rabu , 3-Juni-2020

Assessing Bioenergy Plantation Potensial on Degraded Land

BIOTIFOR (Yogya, 02/06/2020) Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Selasa (2/6) melakukan Bioenergy E-workshop dengan mitra kerjasama dari The Center of International Forestry Research (CIFOR), National Institute of Forest Science (NIFOS) Korea Selatan, Pusat Penelitian Hutan Tropis  (Pusrehut) Universitas Mulawarman (UNMUL) Samarinda, Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMP) dan  Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang.

Pada E-Workshop kali ini, dari Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan yaitu Prof Dr. Ir Budi Leksono, MP sebagai Koordinator kerjasama penelitian menyampaikan “Progress and Planning Research 2020: Assessing Bioenergy Plantation Potensial on Degraded Land”.  Kegiatan penelitian yang dilaporkan merupakan progres kerjasama dari tahun 2017 sd 2020, meliputi Plot pertanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum) pada lahan gambut terdegradasi di Kalampangan, Palangkaraya (Kalteng) dan lahan bekas kebakaran di Tahura Bukit Soeharto, Samboja (Kaltim); serta Plot pertanaman Malapari (Pongamia pinnata) pada lahan gambut terdegradasi di Kalampangan dan Uji keturunan Malapari di Wonogiri (Jawa Tengah). Pertumbuhan Nyamplung di lahan bekas kebakaran terbukti dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik dengan perlakuan pemupukan, bahkan temuan yang menggembirakan adalah pada umur 2 tahun sudah mulai berbunga dan berbuah serta mendatangkan beberapa jenis burung dan serangga seperti kupu-kupu dan kumbang yang mengindikasikan peningkatan biodiversitas pada pertanam tersebut”, ujarnya. Sedangkan pada lahan gambut terdegradasi, Nyamplung juga tumbuh menjanjikan meskipun pertumbuhannya masih di bawah lahan mineral seperti di Boekit Soeharto. Namun pada tanaman nyamplung yang ditanam lebih awal (umur 3 tahun) di lahan gambut yang sama, juga telah mulai berbunga dan berbuah, lanjutnya.

”Overall perkembangan dari plot uji coba penanaman Nyamplung yang sudah dijalankan sejak tahun 2017 cukup baik”, ujar Himlal Baral, PhD selaku project manager penelitian bioenergi CIFOR disela sela e-workshop tersebut

”Walaupun benih yang digunakan berasal dari Tegakan Benih Provenan Nyamplung di Wonogiri (Jawa Tengah), namun tidak ada perbedaan signifikan mengenai pertumbuhan tanaman yang ditanam di Kalimantan Timur, ini dapat diartikan bahwa kerjasama ini dapat berlanjut dan kedepannya dapat menjadikan Nyamplung sebagai salah satu tanaman alternatif untuk restorasi di lahan terdegradasi,” papar Dr. Nur Sumedi, S.Pi, MP selaku Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.

”Kedepannya selain Nyamplung yang sangat potensial untuk biofuel (terutama biodisel), juga dikembangkan jenis tanaman alternatif bioenergi seperti  Malapari yang berpotensi untuk bioavtur (aviation turbine) meskipun rendemen minyak mentahnya (crude oil) masih di bawah nyamplung. Namun jenis tersebut juga dilibatkan dalam project kerjasama penelitian ini, sehingga kita dapat memiliki beberapa jenis tanaman alternatif bioenergi untuk biofuel (biodiesel dan bioavtur),” tambah Prof Dr. Ir Budi Leksono, MP mengakhiri sesi E-workshop tersebut. ***(UMP)