MENGGALI POTENSI MENUJU KHDTK MANDIRI

ADMIN | Selasa , 14-Juli-2020

Kekayaan Materi Genetik dan Potensi Khas KHDTK Balai Besar Litbang Yogya

Tim Penilai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK), Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI-KLHK) mendapat tugas untuk melakukan monitoring, evaluari dan penilaian terhadap beberapa KHDTK yang dikelola oleh UPT-UPT di bawah BLI. Beberapa KHDTK yang dikunjungi adalah KHDTK yang dikelola oleh Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta.

Tim ini bertugas memberikan pembinaan dan masukan dengan memperhatikan unicness/kekhasan dari masing-masih KHDTK. Tim Penilai banyak melakukan diskusi di kantor dan mendapatkan penjelasan data serta informasi dari pengelola. Termasuk potensi-potensi riset maupun potensi lain yang bisa dikembangkan kemudian ditambah dengan kunjungan lapangan.

Sebelum ke lapangan, pada hari Jumat, (10/07/2020) Tim Penilai telah berdiskusi dengan Kepala Bidang Data Informasi dan Kerjasama (DIK), Retisa Mutiaradevi, S.Kom.,M.CA beserta beberapa orang staf. Dalam paparannya, Retisa menyampaikan sekilas profil KHDTK Gunungkidul dan Kaliurang,  yang mencakup data-data potensi, hasil litbang yang telah dilakukan maupun tantangan dalam pengelolaan, serta Rencana Pengelolaan Jangka Panjang KHDTK 2020-2024.

Kunjungan lapangan pertama ke KHDTK Gunungkidul Blok Playen yang mempunyai luas 102,5 ha. KHDTK ini memiliki kekayaan materi genetik cukup banyak dan pengelolaan KHDTK sudah melibatkan atau ada partisipasi dari masyarakat. Menurut tim penilai kondisi KHDTK terlihat sudah dikelola namun rencana pengelolaannya secara basicly masih lebih kepada penelitian dan pengembangan.

Menurut Dr. Ika Heriansyah, salah seorang anggota tim, mengatakan bahwa areal yang cukup luas, masyarakat yang cukup kooperatif dan pada umumnya ulet, apabila akan memandirikan KHDTK Blok Playen bisa mendirikan suatu usaha yang mengintegrasikan beberapa unit usaha. “Berdasarkan apa yang terlihat di lokasi, usaha yang memungkinkan adalah mengkombinasikan peternakan dengan agroforestry,” tuturnya saat dilapangan, Sabtu (11/07/2020).

Potensi yang terlihat dikawasan ini bukan hanya materi genetik yang memang sudah unggul, tetapi juga sudah ada pengembangan-pengembangan yang melibatkan masyarakat. Salah satunya adalah penyulingan kayuputih. “Melihat kegiatan penyulingan ini masih banyak yang bisa dikembangkan dari sisi teknologi penyulingannya dengan menggunakan alat yang lebih praktis, modern dan efisien dalam penggunaannya,” lanjut Dr. Ika.

Sedangkan terkait dengan kawasan, area ini sudah cukup stabil. Kepastian kawasan bisa diharapkan, atau dengan kata lain dari sisi stabilitas luasan dapat kita pertahankan. “Jadi kepastian kawasan yang saya maksudkan adalah bagaimana kita mengelola bukan hanya kawasannya itu yang diakui oleh masyarakat tetapi juga kepastian kawasan dalam arti bahwa setiap blok-blok yang direncanakan itu akan sesuai,” tegasnya.

Rombongan tim penilai yang terdiri 6 orang ini, kemudian melanjutkan perjalannya ke KHDTK Gunungkidul Blok KHDTK Watusipat. Area ini mempunyai lahan seluas 10,4 ha. Salah satu yang menarik bagi tim penilai di sini mempunyai potensi yang menurutnya bisa keluar dari pemikiran riset dengan scope kecil. Di KHDTK Watusipat ada uji jenis cendana, tanaman ini bukan asli setempat atau didatangkan dari daerah asalnya di Nusa Tenggara.

Ternyata perkembangan tanaman ini luar biasa, karena ada seed dispersal, dalam hal ini burung-burung pemakan biji-bijian. Cendana yang tumbuh tidak hanya yang ditanam saja, tetapi karena ada burung-burung tersebut, sekarang cendana sudah menyebar cukup luas bahkan banyak yang tumbuh di lahan masyarakat.

“Ke depan dapat di lakukan riset yang sifatnya keluar seperti riset tentang burung-burung yang menyebarkan biji-biji cendana tersebut. Apabila kita mau mengkonservasi/mengembangkan cendana maka kita juga harus mengkonservasi seed dispersal tadi dan menyediakan habitatnya,” tutur peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembanagn Hutan (P3H) ini.

KHDTK Kaliurang adalah kawasan terakhir yang dikunjungi, area seluas 10 ha inipun menyimpan potensinya luar biasa terutama potensi wisata. Selain koleksi jenis yang memang asli dengan ukuran yang besar di sinipun sudah ada trek yang dilalui untuk lava tour. Area KHDTK ini juga merupakan salah satu destinasi untuk mereka berhenti dan menikmati keindahan dan keasrian hutan dataran tinggi.

Disamping itu, di area ini banyak spot-spot yang bersifat tematik, seperti spot-spot tanaman bambu, puspa dan rasamala. Kontur tanah yang beragam di sini cukup exciting, apalagi untuk pencari olah raga yang menantang, terlihat ada beberapa spot untuk trek motor trail. Area ini sangat dekat dengan pemukiman, tetapi gangguan terhadap area ini relatif tidak ada.

Dari beberapa catatan yang disampaikan oleh penilai KHDTK kepada crew www.biotifor.or.id yang turut mendampingi selama dilapangan, masih banyak catatan atau temuan baik kekurangan maupun potensi yang telah digenggam oleh tim penilai. Nantinya catatan/temuan itu akan dibahas dan dirumuskan secara lebih mendalam sebagai bahan masukan dalam RPJP KHDTK, dan tentunya menuju KHDTK yang mandiri. (mna&mi)

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun Pakem Sleman DI Yogyakarta (Indonesia)
Telp. (0274) 895954 ; 896080 Fax. (0274) 896080

Email                     : breeding@biotifor.or.id
Website                 : www.biotifor.or.id
Instagram             : www.instagram.com/biotifor_jogja
Facebook              : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294
E-Journal               : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index