UPAYA KONSERVASI BANTENG: MEMERLUKAN SINERGI BERBAGAI STAKEHOLDER DAN DATA YANG KOMPREHENSIF

ADMIN | Kamis , 17-Sept-2020

 

“Upaya konservasi Banteng merupakan hasil kegiatan integratif dari berbagai stakeholder dengan melibatkan data dan informasi yang komprehensif termasuk informasi tentang karakter dan keragaman genetiknya”

“Upaya konservasi banteng merupakan hasil kegiatan integratif dari berbagai stakeholder dengan melibatkan data dan informasi yang komprehensif termasuk informasi tentang karakter dan keragaman genetiknya,” ujar Kepala Badan Litbang dan Inovasi-KLHK, Agus Justianto, saat membuka Webinar BIOTIFOR 2020 Seri 3: yang bertajuk “Konservasi satwa liar banteng di Indonesia”,  Kamis (17/9/2020).

Lebih lanjut Agus menjelaskan bahwa upaya konservasi banteng telah dilakukan sejak lama bahkan telah dituangkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan No P.58/Menhut-II/2011 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Banteng (Bos javanicus) tahun 2010-2020.

“Saya yakin kegiatan ini dapat bermanfaat bagi para peserta, membangun jejaring kerjasama dan upaya-upaya peningkatan konservasi satwa liar khususnya banteng di Indonesia,” tegas Agus.  

Sebagaimana diketahui, banteng (Bos javanicus D’Alton 1828) merupakan salah satu mamalia besar yang masih eksis di beberapa wilayah di Indonesia. Satwa ini merupakan satwa endemik yang termasuk dalam kategori terancam punah (endangered) berdasarkan IUCN RedList  dan dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/Kum.1/12/2018.   

Ancaman terhadap kelestarian banteng saat ini disebabkan karena berbagai hal seperti penurunan kualitas dan kuantitas habitat, perburuan serta penurunan keragaman genetik karena jumlah populasinya yang kecil.

Banyak pihak telah berperan aktif dalam upaya konservasi banteng melalui berbagai cara baik berupa rekomendasi ilmiah yang diterbitkan maupun dengan langkah nyata membangun penangkaran semi in situ untuk meningkatkan jumlah populasi banteng seperti yang dilakukan oleh Taman Nasional Baluran.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), Dr. Nur Sumedi, S.Pi.,MP., yang mengatakan saat ini tidak hanya data dan informasi tentang ekologi banteng saja, namun karakter dan keragaman genetik satwa ini mulai dijadikan pertimbangan dalam strategi konservasi secara menyeluruh.

Visi dan tantangan konservasi banteng di Indonesia

Narasumber pertama adalah Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut.M.Sc. yang memaparkan visi dan tantangan konservasi banteng di Indonesia. Menurutnya ada beberapa parameter konservasi satwa liar dikatan berhasil atau tidak.

“Yang pertama dilihat dari populasinya secara ekologis harus berfungsi. Banteng yang tersisa sekarang, kita harapkan semuanya memiliki fungsi ekologis yang nyata di dalam habitat dimana dia hidup,” ujar Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM ini.

Ia juga menegaskan bahwa hal yang terpenting adalah populasi tersebut diapresiasi keberadaannya, jadi harus “appreciated by human kind”.

“Yang kedua, populasi yang ada itu harus merepresentasikan keragaman genetik dari spesies dan ada replikasinya di semua setting ekologis dan di semua ring,” lanjutnya.

Sebagai contoh banteng Jawa ada yang setting ekologisnya agak basah seperti di Jawa Barat, ada pula setting ekologi yang agak kering seperti di Jawa Timur (Baluran) dan yang agak basah di Taman Nasional Meru Betiri dan lain sebagainya.

Konservasi Genetik Banteng (Bos javanicus)

Paparkan Konservasi Genetik Banteng, peneliti BBPPBPTH, Maryatul Qiptiyah, S.Si.,M.Sc menyampaikan bahwa ketika kita berbicara tentang genetik tetap akan ada kaitannya dengan berbagai aspek lainnya.

“Bagaimana pengelolaan habitatnya, pengendalian perburuan liar, hal-hal terkait dengan polusi, eksploitasi berlebihan. Jadi hal itu semua terkait dengan konservasi genetik berbagai jenis satwa termasuk banteng,” ujar Maryatul.

Lebih lanjut ia menjelaskan untuk mendefinisikan konservasi genetik ini memerlukan perangkat analisis biologi dalam hal ini menggunakan DNA yang dianalisis secara molekuler. Hal-hal yang diperoleh dari analisis molekuler ini dapat untuk mengidentifikasi spesies maupun mengukur jarak genetik antar sub spesies.

“Dengan metode tertentu juga bisa mengenali individu “a” dengan “b” itu berbeda atau sama. Kita juga dapat menentukan bagaimana tetua mereka, jenis kelamin, untuk identifikasi karakter populasi secara genetik maupun komposisi populasinya,” papar peneliti bidang genetika ini.

Sukses story breeding semi alami Suaka Satwa Banteng (SSB) BTN Baluran

Kepala Seksi PTN Wilayah I, Taman Nasional Baluran, Muhammad Wahyudi, S.Hut. menyampaikan berbagai hal terkait sukses story breeding semi alami SSB di  Balai Taman Nasional (BTN) Baluran.

“Dibangunnya SSB bertujuan untuk mengembangbiakkan banteng secara semi alami, meningkatkan populasi banteng di habitat alami, serta meningkatkan kualitas genetik banteng di alam,” jelas Wahyudi.

Lebih lanjut ia menerangkan, TN Baluran telah menjalin kerjasama dengan Copenhagen Zoo untuk kesehatan banteng. TN Baluran juga baru saja melakukan realase (pelepasliaran) 2 banteng jantan pada 5 September 2020. Sebelum dilepas ke alam, banteng-banteng itu terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan  DNA oleh BBPPBPTH dengan hasil genetiknya memang banteng, sehingga tidak berpengaruh dengan genetik banteng di alam.

“Uji laboratotium tehadap penyakit menular dan berbahaya oleh Balai Veteriner Wates dengan hasil sehat dan tidak akan berpengaruh dengan populasi banteng di alam,” tambah Wahyudi.

Berdasarkan data kamera trap, dinamika populasi banteng TN Baluran cukup menggembirakan. Berturut-turut mulai tahun 2015 berjumlah 46 ekor, 2016 sebanyak 45 ekor, 2017 naik menjadi 77 ekor, 2018 meningkat menjadi 112 ekor, dan pada 2019 bertambah lagi menjadi 132 ekor.

Konservasi Banteng Boss javanicus lowii di TN Kayan Mentarang


Paparan terakhir dari TN Kayan Mentarang, oleh Kepala Seksi PTN Wilayah II Long Alango, Tamsil, S.Hut.,M.Si. yang menceritakan upaya konservasi banteng Kalimantan (Bos javanicus lowii) di Taman Nasional Kayan Mentarang.

“Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki luas 1,2 juta ha, terbagi dalam 3 seksi pengelolaan. Habitat banteng berada di Seksi Wilayah II tepatnya di Resort Sungai Bahau,” ujarnya membuka paparan.

Pengelolaan banteng dinaungi dengan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor    : SK. 890/Menhut-IV/2013, tanggal 12 Desember 2013, tentang Dewan Pembina dan Pengendali Pengelolaan Kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentarang (DP3K). “Dengan demikian hal-hal terkait pengelolaan banteng pihak Taman nasional Kayan Mentarang selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaksana di lapangan,” kata Tamsil.

Lebih lanjut Tamsil menerangkan status populasi banteng terancam punah (endangered species) sehingga harus di konservasi dengan target peningkatan populasi 10 % per tahun. Populasi banteng di TN Kayan Mentarang 13 ekor pada awal tahun 2014 dan pada tahun 2019 ada 18 ekor 12 betina 5 jantan dan 1 anakan banteng.

Salah satu metode yang dilakukan pihak TN Kayan Mentarang adalah pencegahan perburuan liar melindungi populasi banteng. Hal ini dilakukan bekerjasama dengan masyarakat setempat melalui penyuluhan, edukasi dan pendekatan dengan aturan adat setempat.

Program lain adalah edukasi terhadap generasi muda terkait dengan perubahan perilaku yaitu dengan perekrutan masyarakat menjadi Tenaga Pengaman Hutan Lainnya (TPHL). “Selain itu, juga memfasilitasi untuk melanjutkan sekolah di SMK Kehutanan Samarinda, serta menyelenggarakan Sekolah Alam Ujung Negeri (SAUNG) mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA,” terang Tamsil.

Sebagai informasi, diskusi yang dipandu oleh calon Profesor Riset BBPPBPTH, Dr. Ir. AYPBC Widyatmoko, M.Agr. ini diikuti sedikitnya 300 peserta melalui aplikasi virtual meeting yang berasal dari lembaga pemerintah baik pusat maupun daerah, peneliti, akademisi/dunia pendidikan, mitra kerja sama, lembaga konservasi, serta masyarakat umum. Selain itu, ada juga banyak peserta yang menyaksikan acara tersebut melalui channel live streaming youtube Biotifor Jogja.***(mna)

Link Materi:
http://biotifor.or.id/content-1098-webinar-biotifor-2020-seri-3.html


 

 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)
Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email                : breeding@biotifor.or.id
Website            : www.biotifor.or.id
Instagram          : www.instagram.com/biotifor_jogja
Facebook         : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294
Youtube            : http://youtube.com/c/BiotiforJogja
E-Journal          : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index