PEMULIAAN POHON DALAM MENJAWAB TANTANGAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

ADMIN | Kamis , 8-Okt-2020

BIOTIFOR (08/10/2020) - “Penelitian-penelitian berbasis genetik melalui aplikasi bioteknologi dan pemuliaan pohon merupakan langkah strategis yang dapat menjadi andalan utama dalam mengatasi dan menjawab tantangan permasalahan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia”

Langkah strategis dalam mengatasi dan menjawab tantangan permasalahan HTI adalah dengan menerapkan hasil-hasil penelitian melalui aplikasi bioteknologi dan pemuliaan pohon. Hal ini disampaikan Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Agus Justianto, saat memberikan sambutan sekaligus membuka Webinar BIOTIFOR 2020 Seri 4 bertitel “Pemuliaan Pohon dalam Menjawab Tantangan Hutan Tanaman Industri”,  Kamis (8/10/2020).

“Penemuan inovasi-inovasi baru merujuk pada perkembangan IPTEK dan hasil riset terkait peningkatan produktivitas HTI perlu terus diupayakan dan dikembangkan agar produktivitas dan kualitas tegakan semakin meningkat,” ujar Agus.

Hal itu untuk menjawab beberapa tantangan permasalahan di sektor hulu terkait produktivitas tegakan HTI dan mengakibatkan terjadinya penurunan suplai bahan baku kayu.

Lebih lanjut Agus mengatakan bahwa  beberapa permasalahan itu diantaranya adalah terjadinya serangan hama dan penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma sp., Ceratocystis sp., dan serangan hama monyet khususnya pada tegakan Acacia mangium sebagai tanaman pokok HTI di lahan mineral (dry-land) dengan tingkat kerusakan tegakan bisa mencapai lebih dari 40%.

Sementara itu terkait kondisi tapak, sangat sedikit jenis tanaman yang sesuai untuk bahan baku industri dan mampu tumbuh di lahan basah yang merupakan bagian besar dari lahan HTI, seperti lahan gambut, marine clay dan peralihan tanah gambut mineral,” kata Kabadan kepada sedikitnya 300 peserta webinar yang berasal dari berbagai macam institusi seperti, Kementerian/Lembaga Pemerintah baik pusat maupun daerah, peneliti, akademisi/dunia pendidikan, mitra kerjasama, swasta/industri, LSM, serta masyarakat umum.

Saat ini hanya Acacia crassicarpa yang masih menjadi tanaman pokok untuk sebagian besar lahan basah ini.  Disamping itu praktek-praktek silvikultur pada HTI juga menjadi tantangan tersendiri yang memerlukan penyesuaian terkait dengan dampak dari daur rotasi tanam,” tutur Agus.

Dr. Ir. Eko Bhakti Hardiyanto, M.Sc., dosen Pasca Sarjana Fakultas Kehutanan UGM, juga sangat menekankan apa yang dinamakan best silvicultural practices dalam keberhasilan aplikasi program pemuliaan pohon.

“Apabila hal itu dilupakan, maka genetic gain/peningkatan produksi yang dihasilkan dari program pemuliaan pohon tidak akan terealisasi, tanpa adanya praktik silvikultur yang terbaik untuk spesies maupun klon yang telah dihasilkan itu,” tegas Dr. Eko, narasumber pertama pada webinar kali ini.

Menurut Peneliti Pemuliaan Tanaman Hutan, Dr. Sri Sunarti, S.Hut.,MP., sekarang sudah tiba saatnya kehutanan memiliki varietas unggul, yang mampu menjawab tantangan-tantangan yang akan kita hadapi di hutan tanaman industri, pada masa sekarang maupun yang akan datang.

“Jadi kita harus bekerja keras untuk memperoleh materi-materi genetik yang unggul, untuk menghasilkan varietas-varietas yang unggul,” harapnya.

Sampai saat ini BBPPBPTH telah berhasil mendaftarkan 8 varietas baru hasil litbangnya pada Pusat Perlindungan Varietas tanaman. Pada tahun 2018 berhasil menerbitkan 4 varietas baru yaitu E. pellita Purwo Bersinar Ep006, E. pellita Purwo Bersinar Ep007, E. pellita Purwo Bersinar Ep014 dan Hibrid Acacia Purwo Sri Ah044.

“Sedangkan pada tahun 2020 ini berhasil melahirkan varietas E. pellita Purwo Bersinar Ep058, E. pellita Ep063, E. pellita Ep070 dan Hibrid Acacia Purwo Sri Ah025,” ucap Sri Sunarti.

Baca juga:

BALAI BESAR LITBANG BIOTEKNOLOGI DAN PEMULIAAN TANAMAN HUTAN YOGYAKARTA BERHASIL MENDAFTARKAN KEMBALI 4 VARIETAS BARU PADA PUSAT PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN

Desy Puspitasari, S.Hut.,M.Sc, yang merupakan Project Technician on ACIAR Project FST. 068/2014 “Management Strategies for Acacia Plantation Diseases in Indonesia and Vietnam” menyampaikan bahwa tidak semua penyakit bisa dikendalikan dengan metode yang sudah ada seperti halnya ada interaksi antara tanaman dengan lingkungan.

“Begitu halnya dengan patogen, akan memiliki interaksi masing-masing yang berbeda antar patogen yang satu dengan inang yang lainnya, pemahaman interaksi antara patogen dengan inang sangat diperlukan dalam mengembangkan (teknik) pengendaliannya,” ujarnya. 

Berbagi pengalaman dari apa yang dilakukan oleh PT. Arara Abadi, Program Leader Forest Improvement, R&D, Ir. Bambang Herdyantara, sebagai nara sumber terakhir atau keempat, mengemukakan betapa pentingnya peran pemuliaan pohon dalam produktifitas hutan. “Tentu saja ini harus diikuti komitmen yang kuat dan kolaborasi yang erat, antara research dan development (R & D) dengan tingkat operasional, untuk menghasilkan plantation yang terbaik,” tegasnya menutup paparan. (mna)

 

 

Link materi:

http://bit.ly/MateriWebinarBiotifor4

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email               : breeding@biotifor.or.id

Website           : www.biotifor.or.id

Instagram        : https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook        : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube           : http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal        : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index