PENYEBAB PENYAKIT LODOH PADA SEMAI KALIANDRA

ADMIN | Kamis , 21-Jan-2021

Biotifor.or.id -- Tanaman dapat terserang penyakit karena adanya inokulum oleh berbagai macam patogen, dapat menginfeksi di dalam tanah, air, dan udara, bahkan menginfeksi sel. Salah satu jenis penyakit yang sering ditemukan pada benih dan pembibitan yaitu penyakit lodoh (damping off) yang merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh jamur. Hal ini di tulis oleh Peneliti BBPPBPTH Nur Hidayati, S.Hut., M.Sc. pada Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12 no 2 Desember 2018 halaman 135-142 yang berjudul “Identifikasi penyebab penyakit lodoh pada semai kaliandra”. 

 

“Salah satu faktor yang menentukan berhasilnya pengelolaan hutan adalah tersedianya bibit tanaman kehutanan yang berkualitas. Serangan patogen yang menyebabkan penyakit di persemaian merupakan salah satu penyebab tidak terpenuhinya target penyediaan bibit tanaman kehutanan yang dibutuhkan”, jelas Nur Hidayati.

Oleh karena itu, berkembangnya penyakit di persemaian perlu dipelajari agar dapat dilakukan tindakan pencegahan atau pengendalian secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk isolasi dan identifikasi penyebab penyakit lodoh yang menyebabkan kematian pada kecambah benih kaliandra (Calliandra calothyrsus).

Penelitian ini menggunakan 30 gram benih kaliandra disemaikan dan kecambah benih kaliandra yang menunjukkan kematian karena penyakit lodoh di persemaian diisolasi kemudian isolat diamati secara makroskopis dan mikroskopis, dilakukan uji Postulat Koch untuk mengidentifikasi penyebab penyakit yang menyebabkan kematian pada semai kaliandra. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa penyebab penyakit lodoh adalah jamur Fusarium sp. dan Rizoctonia solani.

 

Jamur Fusarium sp. dapat tumbuh sebagai saprofit pada sisa-sisa tanaman dan dapat disebarkan melalui angin dan hujan. Jamur ini dapat menyebar melalui bagian tubuh jamur yang melekat pada batang bagian luar atau dalam batang dan melalui tanah yang terkontaminasi oleh jamur tersebut. Patogen penyebab layu fusarium ini cepat berkembang pada tanah yang terlalu basah atau becek, kelembaban udara yang tinggi, dan pH tanah yang rendah. "Fusarium dapat hidup sebagai parasit dan saprofit pada berbagai tanaman terutama pada bagian pembuluhnya, sehingga tanaman menjadi mati karena toksin”, tambah Nur Hidayati.

Sedangkan Jamur R. solani dapat berkembang baik pada kelembaban yang tinggi (> 80%) dan suhu 15-35°C. Jamur ini mulai menginfeksi tanaman sejakbiji baru ditanam dengan mengeluarkan stimulant kimia yang dilepaskan oleh sel-sel yang terinfeksi ke tanaman selanjutnya dan menyebabkan gejala khas pada batang, pelepah, daun, dan bulir.  Jamur dapat bertahan hidup pada musim dingin sebagai sklerotia pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dan di dalam tanah*** (EDL)

 

Selengkapnya dapat didownload pada http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/article/view/4635/4658

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR YOGYA):
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email                : breeding@biotifor.or.id

Website             : www.biotifor.or.id

Instagram         : https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook          : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube : http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal           : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index