TANAMAN-TANAMAN PENGHASIL BIOENERGI DI LAHAN TERDEGRADASI

ADMIN | Minggu , 14-Feb-2021

Biotifor.or.id – Menurut Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, MP., peneliti BBPPBPTH, sudah banyak dilakukan penelitian untuk mendapatkan spesies tanaman hutan sebagai energi terbarukan yang berasal dari bahan baku organik, terutama pada lahan terdegradasi.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi adalah dengan mencari peluang pemanfaatan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Bioenergi yang memanfaatkan potensi dari tanaman dipandang sebagai salah satu alternatif terbaik.

Prof. Budi menjelaskan bahwa CIFOR bekerjasama dengan BBPPBPTH melakukan riset identifikasi jenis-jenis tanaman yang berpotensi sebagai penghasil biofuel sekaligus potensi tanaman untuk melindungi bentang alam sekitar, berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Riset ini dilakukan dalam kerangka besar kegiatan restorasi dan rehabilitasi lahan.

“Penelitian inovatif ini bertujuan merespon keraguan global tentang bagaimana Indonesia menyeimbangkan tanggung jawab lingkungan dengan laju pembangunan, atau dikenal sebagai trilemma lingkungan-energi-pangan,” jelasnya.

Prof. Budi memberi contoh beberapa tanaman untuk biodiesel misalnya dari spesies Nyamplung, Malapari, Bintaro dengan memanfaatkan bijinya karena produktvitas buah dan rendemen minyak tinggi.

Untuk bioethanol dari spesies Sagu, Lontar, Aren, Nipah dengan memanfaatkan kandungan pati/gulanya yang tinggi,” ujarnya saat menjadi nara sumber acara Bincang Hutan produksi CIFOR, yang dilaksanakan secara teleconference, Rabu (10/02/2021).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa untuk briket/pellet dari spesies kaliandra, Akor, Lamtoro, Gamal dengan memanfaatkan kayunya yang mempunyai riap volume tinggi, trubusan melimpah, nilai kalor dan kandungan lignin tinggi serta kadar abu dan nitrogen rendah.

Beberapa spesies tersebut sudah barang tentu tumbuh pada kisaran habitatnya dan berbeda antara satu spesies dengan spesies lainnya. Untuk menetapkan spesies yang sesuai pada setiap karakeristik lahan, diperlukan 2 pendekatan yaitu studi dari pustaka dan uji coba di tingkat lapang. Melalui studi pustaka diperoleh informasi habitat dari spesies tanaman hutan yang sesuai dengan target lokasi pengembangan.

Namun karena kondisi lingkungan pada lahan terdegradasi telah berubah ekosistemnya akibat kerusakan lahan dan hutan, maka perlu dilakukan uji coba pada tingkat lapang,” ujar peneliti yang sejak tahun 2009 melakukan penelitian Pemuliaan jenis-jenis tanaman hutan untuk tujuan bioenergi dan pengembangannya di lahan terdegradasi.

Di dalam menentukan spesies yang sesuai pada lahan terdegradasi, selain dari kesesuaian habitat juga dilihat dari tujuan akhirnya. “Apakah tanaman penghasil energy khsusunya untuk bahan bakar dalam bentuk cair (bioetanol, biodiesel, minyak nabati murni) atau biomassa untuk bahan baku bioenergi padat (briket, pellet) dan gas (biogas),” ungkap peneliti kelahiran pekalongan ini.

Pengembangan tanaman energi pada lahan-lahan terdegradasi, didasarkan pada kebijakan Pemerintah saat terjadinya krisis energi dunia pada tahun 2006. Salah satu kebjakan Energi Nasional pada saat itu adalah sesuai Inpres No.1/2006 yang memberikan mandat kepada Kementerian Kehutanan (saat ini: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), untuk berperan dalam penyediaan bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN), termasuk pemberian ijin pemanfaatan lahan hutan, terutama pada lahan yang tidak produktif. Hal ini agar tidak terjadi baku tarik kepentingan dengan lahan untuk kebutuhan pangan.

Seperti diketahui bersama bahwa saat ini Pemerintah melalui Kepmen LHK No. 306/2018 berkomitmen untuk melakukan restorasi dan rehabilitasi lahan kritis seluas 14 juta 6.450 ha. Lahan kritis tersebut sebagian besar disebabkan karena kondisi lahan telah mengalami kerusakan/degradasi, sehingga tidak dapat melakukan fungsinya.

Dan hal ini harus kita dukung untuk pengembangan hutan tanaman energi pada lahan-lahan tersebut dengan spesies tanaman hutan yang sesuai dengan karakterisik lahannya,” tegas Prof. Budi.

Sebagai upaya mengoptimalkan produktivitas lahan dan meningkakan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan, dalam pengembangan hutan tanaman energi, maka dapat menerapkan beberapa pola tanam.

Pola tanam Agro-Forestry dan Silvo-Pasteur pada lahan kering, serta Silvo-Fishery pada lahan basah, atau Intergrated-Farming (gabungan semua pola tanam) pada lahan yang sesuai, sehingga akan memperoleh hasil antara dan hasil tambahan pada pengembangan hutan tanaman energi pada lahan terdegradasi.

Pola tanam tersebut sudah terbukti menghasilkan pendapatan masyarakat yang tinggi dari penelitian yang kami lakukan di Jawa Tengah, DIY, Bali dan Sumatera Selatan,” imbuh Prof Budi.

Terkait dengan Kebijakan Energi Nasional, Pemerintah menargetkan pemanfatan energi baru dan terbarukan (EBT) setidaknya mencapai 23% dari bauran energi primer nasional pada tahun 2025 dan mencapai 31% pada tahun 2050. Rencana Undang-undang (RUU) Energi Baru Terbarukan di Indonesia sudah masuk dalam Program Legislatif Nasional (PROLEGNAS) prioritas DPR 2020-2024.

Prof. Budi berharap bahwa RUU Energi Baru Terbarukan ini bisa menjadi payung regulasi untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan energi nasional, sehingga Indonesia dapat mencapai target 23% bauran energi terbarukan di tahun 2025. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Pemerinah serius dalam menangani energi baru terbarukan.

Menurutnya, saat ini bauran energi untuk campuran solar dari bodisel kelapa sawit telah mencapai proporsi 30% atau B30. Apabila kebijakan Pemerintah ke depan agar tidak terjadi baku tarik kepetingan dengan pangan (kelapa sawit) maka diperlukan bahan bakar nabati dari Non-edible oil. Hasil penenlitian dari komoditas penghasil Non-edible oil telah diperoleh sehingga dapat diimplementasikan ke depan.

Pemasaran produk biodiesel tentu saja akan dilakukan secara bertahap diawali untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri. Untuk pengembangan bioenergi, berbagai upaya penciptaan pasar yang dilaksanakan Pemerintah, antara lain pengembangan hutan tanaman energi dan pemanfaatan lahan-lahan sub optimal untuk biomassa melalui kerjasama dengan KLHK, K/L terkait dan Pemda.

Terkait kebijakan tersebut, maka untuk memacu persiapan bahan baku perlu segera ditetapkan komoditas yang akan dikembangkan paling tidak untuk 10 tahun ke depan sehingga akan tersedia tanaman energi dalam luasan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri biodiesel sesuai dengan target daerah pengembangan,” pungkasnya.***(mna)

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR YOGYA):
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email                : breeding@biotifor.or.id

Website            : www.biotifor.or.id

Instagram         : https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook          : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube             : http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal           : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index