PENYAKIT PADA ACACIA AURICULIFORMIS

ADMIN | Senin , 8-Maret-2021

Biotifor.or.id – Dua peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Nur Hidayati, S.Hut. M.Sc. dan Prof. Ris Dr. Ir. Rina Laksmi Hendrati, MP telah melakukan penelitian mengenai penyakit pada Acacia auriculiformis yang diterbitkan pada Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12 no 2 tahun 2018 halaman 105 - 113.

“Acacia auriculiformis adalah salah satu jenis tanaman cepat tumbuh dengan pola budidaya yang relatif mudah dan mampu tumbuh dengan baik pada lahan-lahan marginal kering. Namun demikian masih terdapat permasalahan berkaitan dengan ancaman serangan penyakit yang dapat mengurangi potensi nilai ekonomi tanaman A. auriculiformis di hutan tanaman” kata Nur Hidayati.

Sebagai antisipasi pencegahan dan penyelamatan dari ancaman serangan dan gangguan penyakit pada tanaman A. auriculiformis, maka diperlukan suatu usaha untuk mendiagnosis penyakit, khususnya patogen yang menyebabkan gangguan pada tanaman.

“Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab penyakit, intensitas dan luas serangan penyakit pada tanaman A. auriculiformis di dua plot pengamatan, yaitu persemaian dan bank klon di Yogyakarta” jelas peneliti yang akrab dipanggil Inung ini.

Pengamatan tanda dan gejala serangan penyakit dilakukan dengan cara inventarisasi 100% pada saat musim kemarau dan musim penghujan. Selanjutnya dilakukan uji Postulat Koch untuk mengidentifikasi penyebab penyakitnya.

Luas serangan penyakit merupakan persentase tanaman yang sakit dalam suatu populasi tanaman. Sedangkan intensitas serangan penyakit adalah persentase jaringaninang atau organ yang ditutupi oleh gejala atau kerusakan oleh penyakit.

Reset dengan judul Inventarisasi dan identifikasi penyebab penyakit pada Acacia auriculiformis di Yogyakarta ini menunjukkan hasil bahwa embun tepung yang disebabkan oleh jamur Oidium sp. adalah penyakit dominan yang menyerang klon A. auriculiformis baik di persemaian maupun di bank klon. Serangan terjadi pada musim kemarau maupun musim penghujan dengan luas serangan sebesar 100%. Sedangkan intensitas serangan di persemaian pada musim hujan lebih tinggi dari pada pada musim kemarau. Hal ini terjadi karena tanaman di persemaian telah di lakukan pemeliharaan rutin dengan penyemprotan fungisida pada musim kemarau sebelum pengamatan dilakukan.

“Berbeda dengan kondisi di bank klon intensitas serangan embun tepung pada musim kemarau lebih tinggi dari pada pada musim hujan. Hal ini disebabkan karena tanaman berada pada lingkungan terbuka sehingga kondisinya relatif lebih banyak terpaan sinar matahari” Inung menambahkan

Jamur Oidium sp.  yang menyebabkan penyakit embun tepung bersifat parasit obligat yang tidak bisa dibiakkan dalam media buatan. Spora jamur bertunas dipermukaan daun dan menyerang tanaman. Jamur kemudian mengkolonisasi epidermis daun dengan memperoleh nutrisi dari sel tumbuhan tanpa membunuhnya.

Inung juga menuliskan bahwa selain penyakit embun tepung terdapat penyakit lain yang menyerang A. auriculiformis di bank klon yaitu penyakit embun jelaga yang disebabkan jamur Meliola sp, penyakit bercak daun yang disebabkan jamur Phomopsis sp. dan penyakit busuk akar yang disebabkan jamur Ganoderma steyaertanum. Ketiga penyakit ini teramati mempunyai intensitas serangan dan luas serangan kurang dari 10 %.*** (EDL)

 

Selengkapnya dapat dibaca dan diunduh pada link berikut:

http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/article/view/2377

 

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR YOGYA):
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email breeding@biotifor.or.id

Website www.biotifor.or.id

Instagram https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal           http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index