LIMBAH "EMAS" INDUSTRI MINYAK NYAMPLUNG

ADMIN | Senin , 8-Maret-2021

Biotifor.or.id – Berbicara tentang tanaman penghasil bioenergi, pada artikel sebelumnya telah disampaikan beberapa jenis tanaman yang berpotensi menghasilkan bioenergi dan hal-hal terkait. Salah satu tanaman penghasil bioenergi yaitu nyamplung tidak hanya menghasilkan biofuel saja. Limbahnya pun sangat potensial untuk dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Seperti yang dijelaskan Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, MP dalam buku “Kumpulan Pemikiran 17 Profesor Riset untuk Pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan”. 

Limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan biofuel nyamplung cukup banyak dan hampir semua limbah dapat dimanfaatkan, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Limbah dan produk dari pemanfaatannya antara lain yang pertama adalah cangkang/tempurung buah untuk briket arang, arang aktif, nano arang dan asap cair (anti hama, pengawet, pupuk cair).

“Kedua adalah bungkil hasil pengepresan biji sebagai pakan ternak dengan kandungan protein kasar tinggi dan bioetanol,” jelas Prof. Budi dalam tulisannya. 

Menurutnya kandungan protein kasar bungkil nyamplung dua kali lipat dibandingkan bekatul. Hal ini terbukti dari hasil analisis di Laboratorium Biokimia Nutrisi Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan UGM. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan protein kasar pada bungkil biji nyamplung sangat tinggi sebesar 21-23%. Lebih tinggi dari bekatul (11-13%) dan biasa digunakan sebagai konsentrat pakan ternak. Sehingga secara teori, bungkil telah memenuhi syarat untuk pakan ternak.

Sebagai pengujian, Prof. Budi telah melakukan penelitian pada ternak kambing yang mengkonsumsi pakan ternak dari bungkil. Upaya ini menghasilkan peningkatan berat badan yang signifikan, hampir 200 gram per hari. Selain itu, badan kambing makin sehat, cepat gemuk serta usia panen kambing makin singkat, cukup 3-4 bulan saja.

Namun demikian, sebagai pakan ternak, bungkil biji nyamplung tersebut harus diolah menjadi "burger" pakan ternak yang terfermentasi sehingga bisa tahan lama dan bergizi. Hal ini dapat mengatasi kekurangan hijauan ternak pada musim kering. Teknologi tepat guna tersebut telah ditransfer kepada Kelompok Tani Setya Kawan di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Pemanfaatan ketiga adalah getah (gum) sebagai limbah cair proses pemisahan minyak dengan getah (degumming) yang mempunyai kandungan resin kumarin tinggi, berpotensi sebagai bahan baku obat, kosmetik, bahan flouresensi pada industri tekstil dan kertas. Terakhir adalah gliserol, sebagai limbah akhir dari proses transesterifikasi dapat digunakan untuk bahan sabun.

Industri yang telah berkembang saat ini dari pemanfaatan minyak nyamplung (yang dikenal dengan nama Tamanu oil) selain untuk bioenergi adalah untuk industri obat dan kosmetik herbal dengan harga yang cukup tinggi. Hal ini karena mempunyai khasiat yang berbeda seperti anti-peradangan, antiinflamasi, anti-aging, anti-bakteri, antiseptik dan anti-oksidan.

Khasiat tersebut membuat Tamanu oil banyak digunakan untuk menyembuhkan luka dan infeksi pada kulit, mempercepat pertumbuhan jaringan baru yang sehat, sehingga memfasilitasi penyembuhan luka dan sifat anti-oksidannya meningkatkan penampilan yang diremajakan dengan menghaluskan tampilan kerutan.

Tamanu oil dapat meningkatkan sirkulasi darah, sifat ini mencegah dan menghilangkan munculnya memar. Selain itu, sifat anti-bakteri membuatnya bermanfaat untuk praktik kebersihan dan untuk mengatasi dermatitis, infeksi psoriasis, ruam kulit, dan bau badan. Tamanu oil juga bekerja sebagai perawatan antiseptik dan anti-inflamasi yang mengatur produksi minyak kulit dan membantu meningkatkan kejernihan kulit serta sangat baik untuk merangsang produksi kolagen, sehingga berguna untuk perawatan wajah dan leher, tetapi juga berguna terutama pada area kulit kering dan area yang terus mengalami kekeringan, seperti kaki dan siku.***(mna)

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR YOGYA):

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email                : breeding@biotifor.or.id

Website            : www.biotifor.or.id

Instagram         : https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook          : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube             : http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal           : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index