REGENERASI PERAKARAN BIBIT TANAMAN CENDANA HASIL KULTUR JARINGAN

ADMIN | Senin , 22-Maret-2021

Biotifor.or.id – “Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan klon dalam menumbuhkan akar primer maupun sekunder dan perbedaan perkembangan rambut akar dari akar primer dan sekunder saat invitro dan exvitro dalam rangka meningkatkan keberhasilan tahap aklimatisasi kultur jaringan cendana”, jelas Dr. Asri Insiana Putri peneliti BBPPBPTH. Hal tersebut ditulis bersama Dr. Toni Herawan berupa tulisan ilmiah  pada Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (JPTH) volume 12 no 2 tahun 2018 halaman 143-150.

Cendana (Santalum album Linn) merupakan salah satu tumbuhan hemiparasit (membutuhkan inang) yang bernilai tinggi karena kandungan minyak atsiri yang digunakan secara luas dalam industri farmasi dan wawangian. Eksploitasi illegal, serangan penyakit dan kebakaran menyebabkan penurunan populasi di alam. Tingkat regenerasi yang lebih rendah dari tingkat panen menyebabkan hilangnya keragaman genetik dan karakter agronomi, bahkan pada tahun 1998 cendana dinyatakan termasuk kategori spesies “rentan” oleh International Union for the Conservation of Nature’s (IUCN).

“Perbanyakan pohon cendana secara konvensional mengalami hambatan karena ketidakmampuan berkembang biak secara seksual sementara perbanyakan vegetative kayu cendana belum tersedia. Sebagian besar Teknik perbanyakan cendana melalui micrografting, organogenesis dan embriogenesis somatik, sedangkan untuk regenerasi cendana melalui pendekatan invitro masih terbatas karena sulitnya pengembangan tahap perakaran dan aklimatisasi.” Jelas Asri kontributor utama penulisan karya ilmiah ini.

Bahan planlet penelitian ini adalah hasil perbanyakan tunas aksiler, kultur jaringan dari dua klon tanaman cendana yaitu klon dari pulau Rote, NTT (klon A.III.4.14) dan Klon dari plot konservasi genetik di Gunungkidul (klon WS28). Sedangkan rancangan yang digunakan dalam penelitian invitro adalah RCBD (Randomized Complete Block Design) pada 2 klon cendana sebanyak 100 eksplan. Sedangkan pada penelitian exvitro  di rumah kaca menggunakan rancangan CRD ( Completely Random Design) dengan total planlet 160.

Peneliti  yang mempunyai kepakaran pemuliaan tanaman hutan ini mengungkapkan “ pada perkembangan perakaran fase in vitro pembentukan akar primer dan sekunder menunjukkan bahwa klon NTT cenderung membentuk akar primer dengan prosentase lebih rendah (41,85%) sedangkan klon Gunungkidul (60,44%). Sebaliknya klon NTT membentuk akar sekunder lebih banyak (58,15%) dibanding dengan klon Gunungkidul (39,65%). Bentuk akar yang berbeda pada regenerasi cendana dengan media maupun lingkungan in vitro ditengarai dipengaruhi oleh sifat genetic klon.”

Perkembangan perakaran pada fase ex vitro dijumpai fenomena menarik yaitu 67% akar primer yang terbentuk secara in vitro tidak terbentuk rambut akar secara ex vitro, sementara 74 % akar sekunder yang terbentuk secara in vitro memkbentuk rambut akar secara ex vitro. Sampai 30 hari pengamatan pembentukan rambut akar tidak seluruhnya dapat membentuk bibit siap tanam. Ada sekitar 30 % bibit yang membentuk rambut akar dari kedua klon mati. Walaupun demikian terbentuknya akar sekunder dapat digunakan sebagai salah satu seleksi awal in vitro.

“Perbedaan sumber genetik materi eksplan berpengaruh pada tanggapan bentuk perakaran primer dan sekunder in vitro cendana. Stimulasi perkembangan akar sekunder pada fase in vitro meningkatkan keberhasilan aklimatisasi pada kultur jaringan cendana” kata Asri di akhir tulisannya yang berjudul Regenerasi perakaran planlet in vitro dan ex vitro pada kultur jaringan cendana (Santalum album Linn.) .*** (EDL)

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR YOGYA):
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email breeding@biotifor.or.id

Website www.biotifor.or.id

Instagram https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index