PERBANYAKAN VEGETATIF WARU (HIBISCUS TILIACEUS)

ADMIN | Senin , 26-April-2021

Biotifor.or.id – “Benih waru sulit diperbanyak dengan biji dikarenakan buahnya banyak yang rusak karena diserang ulat. Kalaupun didapatkan benih dari biji hasilnya kurang memuaskan karena setelah biji di tabur tidak banyak yang tumbuh. Oleh karena itu diperlukan teknik perbanyakan vegetatif yang mampu menghasilkan tanaman baru yang lebih tinggi keberhasilannya dari pada teknik generatif” kata Suwandi, S.Hut. dan Dr. Ir. Rina Laksmi Hendrati, MP, Teknisi dan Peneliti Balai Besar Litbang BPTH dalam buku berjudul “Perbanyakan vegetatif dan penanaman Waru (Hibiscus tiliaceus) untuk kerajinan dan obat”.

Suwandi sebagai penulis pertama buku ini juga menjelaskan bahwa pembiakan vegetatif Waru dilakukan dengan setek (memotong batang/cabang pohon induk untuk di tanam kembali). Pemotongan dilakukan pada pagi hari dengan mengambil batang dengan mata tunas yang sudah membesar hampir berkembang menjadi daun karena pada tahap tersebut hormon pertumbuhan cukup tinggi.

Setek dilakukan dengan menghilangkan seluruh daun dari batang setek untuk mempermudah pengangkutan,jelas Suwandi teknisi BBPPBPTH yang sekarang telah beralih profesi menjadi Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di BBKSDA Riau.

Buku yang diterbitkan oleh IPB Press pada tahun 2014 ini selain mengulas tuntas mengenai pembuatan bibit waru dengan setek juga di jelaskan mengenai tahap-tahap penanaman di lapangan.

“Untuk penanaman bibit Waru dilapangan, agar pertumbuhannya bagus sebaiknya ditanam di daerah panas dengan curah hujan antara 800 – 2.000 ml.”, tambah Rina Laksmi Hendrati, Peneliti Ahli Utama BBPPBPTH yang sudah menjadi salah satu dari enam Profesor Riset Kementerian LHK.

Baca juga: Mari Berkenalan Dengan Para Calon Profesor Riset BIOTIFOR

Rina Laksmi juga menjelaskan bahwa ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pohon waru selain sebagai tanaman perindang. Daun waru muda dapat dimasak dan dijadikan obat batu dan demam. Selain itu daun waru juga dimanfaatkan untuk melancarkan buang air kecil dan penyubur rambut. Hal ini dikarenakan daun dan batang tanaman waru diketahui mengandung zat musilago yang sifatnya berfungsi untuk melapisi dinding saluran cerna, saluran kencing serta tenggorokan. Sementara zat yang lain yakni emolien bermanfaat sebagai pembasmi kuman.

Pada akhir bab diulas juga mengenai prospek pendapatan dari menanam Waru. Waru dapat dimanfaatkan mulai dari kulit, kayu, daun, bunga dan akarnya. Sebagai contoh dari usaha penanaman Waru adalah dengan membuka pembibitan tanaman Waru untuk dijual pada petani. Selain itu bisa juga dengan mambuat kebun Waru untuk kemudian dipanen daunnya sebagai makanan ternak atau dijual ke pabrik sebagai bahan pembuatan shampoo. Selain daun juga dapat dipanen kayunya sebagai bahan bangunan atau pembuatan kapal, sebagai bahan kerajinan serta sebagai kayu bakar.*** (EDL)

 

Informasi lengkap buku ini dapat di download pada link berikut: http://bit.ly/bukuwaru

 

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR YOGYA)
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email breeding@biotifor.or.id

Website www.biotifor.or.id

Instagram https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index