Hutan Penelitian Padepakanmalan Situbondo

ADMIN | Rabu , 24-Juli-2013

A.  Pendahuluan

Hutan Penelitian Padekanmalang, kabupaten Sitobondo, Propinsi Jawa Timur dibangun tahun 1952 dengan luas 21,4 ha, pada awalnya dikelola oleh Lembaga Penelitian Hutan (LPH) Bogor yang saat ini bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi alam (P3HKA).

Hutan Penelelitian Padekanmalang ini (masih bernama kebun penelitan) diserahkan pengelolanya  kepada Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP2TPDAS) Surakarta tahun 1997, selanjutnya dilimpahkan kepada Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemulian Tanaman Hutan pada tahun 2000. Berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No. 294/KptsII/2003 tanggal 26 Agustus 2003 ditetapkan pengguna kawasan hutan seluas 21,4 ha di padekanmalang, Sitobondo untuk tujuan penelitian (KHDTK). 

Hutan Penelitian  Padekanmalang memiliki koleksi tanaman hutan sebanyak 26 jenis, berasal dari 13 lokasi baik dari dalam maupun luar negeri yang mewakili jenis-jenis tanamandataran rendah. Jumlah tanman yang ada sebanyak 1.865 pohon (termasuk tanaman rehabilitas jati tahun 2003 dan trubusan jati).

Pada saat dikelola oleh BP2TPDASIBB Surakarta kegiatan penelitian yang dilakukan di hutan Penelitian Padekanmalang dititikberatkan pengamatan pertumbuhan tanaman, pembangunan , kajian konservasi tanah, inverstarisasi petak dan kajian social ekonomi. Sejak pengelola diserahkan dari BP2TPDAS-IBB Surakarta kepada P3BPTH adalah kegiatan yang dilaksanakan P3BPTH adalah kegiatan pengamanan, pemeliharaan dan penataan ulang,. Penataan ulang yang telah dilakukan adalah kegiatan pengamatan tentang lokasi-lokasi yang masih kosong dan memungkinkan untuk dijadikan areal penelitian baru. Sejak tahun 2003 dilakukan kegiatan rehabilitas tanaman jati dengan luas 10 ha. Pemeliharaan dan pengamatan terhadap hasil rehabilitas terus dilakukan.

B.  Lokasi

 Secara administrative hutan penelitian Padekanmalang terletak di desa Paowan, Kecamatan Panurukan, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Dari kota Situbondo ke hutan Penelitian dapat ditempuh kurang lebih 20 menit melaju jalan darat dengan kondisi jalan beraspal.

C.  Kondisi Klimatologi

Menurut Schmidt dan Ferguson, Hutan Penelitian Padekanmalang termasuk tipe iklim D, curah hujan 1300 mm/tahun terbanyak bulan Februari bulan Januari dan bulan Februari curah hujan sudah berkurang.

D.  Kondisi Topografi

Jenis tanah asosiasi latosol coklat, rata-rata kelerengan berkisar 0-100% dan merupakan fisolgrafi dataran serta ketinggian 13 m diatas permukaan laut.

E.  Tanaman Penggangu

Tanaman penggangu yang sering ditemukan adalah pertumbuhan gulma berupa semak (putri malu, alang-alang).

F.   Core Research

Dalam tahun 2004, sejalan dengan perkembangaan kebijakan Badan Litbang Kehutanan untuk menata kembali setiap KHDTK, hutan Penelitian Padekanmalang dalam pengembanggan diarakan menjadi Hutan Penelitian dengan core research konservasi genetik untuk mendukung program pemuliian dan kontribusi terhadap konservasi biodiversitas serta program lain yang relevan (rehabilitas lahan kering). Dimanfaaatkan soeptimal mungkin sehingga memungkinkan untuk dikembangkan berbagai jenis terutama jenis-jenis yang dapat tumbuh pada kondisi ekologis hutan dataran rendah dangan tipe iklim kering.

G.  Status Kegiatan Penelitian

Hutan Penelitian Padekanmalang yang dibangun tahun 1952 sebagai kebun uji coba intruduksi jenis yang secara ekologis dapat tumbuh pada hutan dataran rendah dengan tipe iklim kering, sampai saat ini terdapat 26 jenis tanaman dari 13 lokasi baik dalam maupun luar negeri. Sejak dikelola BP2TPDAS-IBB Surakarta sampai dengan tahun 2000, jenis-jenis kegiatan yang telah dilakukan antara lain kegiatan pengamatan pertumbuhan tanaman dan pembungaan, kajian kesusaian jenis tanaman, inventaritasi petak, pengamatan erosis dan kajian sosial ekonomi =, serta pembuatan petakontrur dan peta tanaman.

Sejak diserahkan kapada P3BPTH pada tahun 2000, kegiatan masih terbatas karena berbagai pertimbangan termasuk kondisi lapangan dan keamanan tanman penelitian. Kegiatan masih difokuskan pada pemeliharaan, pengamanan dan identifikasi serta penataan kembali lokasi-lokasi yang kosong. Pada akhir tahun 2003 dilakukan kegiatan rehabilitas dengan penanaman tanaman jati dan pemeliharaan trubusan jati seluas 10 ha.

Rehabilitas lahan dilaksanakan dengan penanaman jati sebanyak 6.000 bibit dan ditanam diantara trubusan jati. Benih tanaman berasal dari hutan jati di pasir putih, Situbondo. Hutan jati Pasir Putih adalah tanaman jati pohon plus untuk tujuan wana wisata, mempunyai pohon induk yang baik dan memungkinkan untuk dikembangkan menjadi areal produksi benih. Kegiatan rehabilitas dimaksudkan untuk mengoptimalkan pemanfaattan lahan terutama lahan-lahan kosong dan masih terbuka sehangga dapat merugikan evapotranspirasi mengingat kondissi iklim di hutan Penelitian tersebut kering (tipe iklim D menurut Schimidt dan Ferguson).

Berdasarkan hasil evaluasi bulan April 2004, jumlah tanaman jati hasil rehabilitas yang tumbuh sebanyak 1.517 batang  (25,28%). Disamping tanaman jati, terdapat pula trubusan jati sebanyak 1.448 batang. Identifikasi di lapangan menujukan bahwa kwberhasilan tanaman sangat dipengaruhi oleh peranan tanaman bahwa dan kelerengan lahan. Pada kondisi lahan datar dengan tanaman tertutup oleh tumbuhan bahwa memberikan keberhasilan hidup mencapai 66,34%. Bahkan hasil uji cob bibit jati dari beberapa produsen yaitu PT Katama  Surya Bumi (Jati Emas), PT. Fiotek (Jati Unggul), KBP Lamongan (Jati Jul), Jati biji Cepu (PT. Argomiliarto), Jati dari CSO dan Jati lokal Situbondo memperperlihatkan keberhasilan 72,23% dengan kondisi tertutup tanaman bawah, tropgrafi datar dan solum tanah tebal.

Namun sebalik kondisi lahan dengan 8% tanpa tanaman bawah keberhasilannya sekitar 10%. Hasil pengamatan menunjukan bahwa penanaman pada lahan datar dan turtutup tananam bahwa keberhasilannya signifikadibandingkan tanpa tanaman bahwa dapat mengurangi evapotranspirasi mengingat kondisi iklim di Sitobondo sangat kering.

Selain tanaman jati, di hutan penelitian padekanmalang  terdapat pula tanaman permudaan dengan sistem trubusan cukup banyak yaitu 1448 batang, maka langkah awal yang telah dilakukan adalah melakukan inversitas trubusan. Pengukuran awal menujukan bahwa tinggi dan diameter rata-rata tanaman umur 3,5 tahun masing-masing adalah 3,5 tahun masing-masing adalah 6,5 m dan 8,55 cm.

Mengacu pada core research yang telah ditetapkan yaitu konservasi genetik dan pertimbangan diatas, kegiatan penelitian yang memungkinkan dalam beberapa tahun mendatang antara lain barupa introduksi jenis-jenis tipe hutan dataran rendah iklim kering dari berbagai provenans, pengujian kesesuaian jenis-jenis tanaman,pengamatan pada lokasi tersebut dimaksud menjadi penyedia materi genetik tanaman hutan pada tipe hutan daratan rendah dengan iklim kering sebagai materi dalam rangka program pemuliaan tanaman dan program terikat lainnya.

H.  Jenis Tanaman

Hutan Penelitian Padekanmalang yang dibangun tahun 1952 memiliki 26 jenis tanaman. Untuk memperkaya koleksi tanaman, dalam tahun 2003 telah dilakukan rehabilitas hutan. Jenis tanaman yang ada dilokasi tersebut disajikan pada Lampiran1..