NET WORKING, KUNCI KEMANDIRIAN BENIH UNGGUL NASIONAL

ADMIN | Kamis , 8-Sept-2016

BOGOR (biotifor.or.id) – Kebutuhan benih unggul untuk memenuhi kebutuhan Hutan Tanaman dapat ditempuh dengan memperkuat jejaring kerja (net working). Jaringan Kerja Pemuliaan Pohon Hutan (JKPPH) yang diinisiasi Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (yang sekarang bernama B2P2BPTH) Yogyakarta dan dideklarasikan 2001 mampu mendorong pembangunan 25 Kebun Benih Semai (KBS) F-1 seluas 50 ha dan 43 KBS F-2 seluas 70 ha untuk jenis akasia dan ekaliptus.

Hal ini disampaikan Dr. Ir. Budi Leksono, MP saat pengukuhan Prof. Riset bidang Pemuliaan Tanaman Hutan di Ruang Sudiarto, Kampus Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Bogor, Selasa (06/09/2016).

“Mensinergikan seluruh potensi dan fasilitas yang dimiliki pemerintah maupun swasta pada sektor kehutanan secara optimal untuk membangun sistem perbenihan tanaman hutan secara nasional. Upaya yang dilakukan melalui jejaring kerja (net working) harus disesuaikan dengan kondisi di Indonesia sehingga kemandirian benih unggul cepat tercapai,” kata Pria asal Pekalongan saat orasi yang berjudul Seleksi Berulang pada Spesies Tanaman Hutan Tropis untuk Kemandirian Benih Unggul.

Metode seleksi berulang sederhana (simple recurrent selection) merupakan strategi pemuliaan agar dapat diaplikasikan dalam skala luas, multi generasi, dan multi lokasi. Jika seleksi dilakukan dengan hati-hati, peningkatan genetik dapat terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan ekonomis serta tetap terjaga basis genetik yang luas untuk kepentingan program pemuliaan.

“Beberapa hasil benih unggul yang sudah di-launching Menteri Kehutanan antara lain A. mangium dan E. pellita dari KBS F-1 dengan SK Menhut No. SK.370/Menhut-VIII/2004 dan SK.371/Menhut-VIII/2004 yang merupakan benih unggul pertama kali di Indonesia. Kemudian benih unggul dari KBS A. mangium dan E. pellita F-2 dilepas dengan SK Menhut No. SK.790/Menhut-II/2013 dan SK.791/Menhut-II/2013,” lanjut Bapak 3 anak ini buah pernikahannya dengan Masti’ah Adi, S.Pd yang sudah menginjak 25 tahun pada bulan ini.

Sedangkan untuk jenis-jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang ditangani oleh Balai Besar Penelitian dan Pemuliaan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta antara lain nyamplung (Calophyllum inophyllum) untuk energi, tengkawang (Shorea spp.) untuk pangan dan kosmetik, kayu putih (Melaleuca cajuputi) untuk obat, dan tusam (P. merkusii) untuk produksi getah.

Pembuatan peta jalan (roadmap) program pemuliaan akan memacu kemandirian benih unggul yang memuat arah dan tahapan program perbenihan tanaman hutan secara nasional sehingga diharapkan hutan tanaman akan lebih produktif.

“Dengan program ini, partisipasi masyarakat dalam industri kehutanan pada babap baru akan menjadi semakin luas, dan program pro-job, pro poor, pro-green dapat ditumbuhkembangkan di Indonesia,” lanjut Budi mengakhiri orasinya.

Selain Dr. Ir. Budi Leksono,MP yang dikukuhkan sebagai Profesor Riset oleh Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), namun juga Dr. Erdy Santoso, Peneliti Utama pada Puslitbang Hutan Bogor. Dr. Erdy Santoso menyampaikan orasi yang berjudul Pengembangan Teknik Budidaya dan Peningkatan Kualitas Gaharu Berbasis Mikoriza dan Fusarium.

“Kedua Peneliti Utama ini menjadi Profesor Riset yang ke 460 dan 461 dari 9491 Peneliti di Indonesia. Dan menjadi Profesor Riset yang ke 18 dan 19 di Badan Litbang dan Inovasi,” kata Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Sekretaris Majelis Pengukuhan Profesor Riset saat menyampaikan sambutan mewakili Ketua LIPI sekaligus Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset.

Dr. Henry Bastaman, M,.ES, Kepala BLI dalam sambutannya mewakili Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc., Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa Profesor Riset merupakan sebuah pencapaian puncak karir fungsional seorang peneliti.

“Saya berharap Pengukuhan Profesor ini dapat memotivasi semua pejabat fungsional peneliti khususnya lingkup Badan Litbang dan Inovasi agar lebih produktif lagi menghasilkan karya-karya nyata yang bermanfaat untuk bangsa dan negara, serta mencapai puncak kariernya,”kata Kabadan membacakan sambutan Menteri LHK.

“Dengan demikian para pejabat fungsional peneliti tidak perlu ragu lagi akan jalur kariernya dan akan kegunaaan karya-karyanya,” tegas Kabadan mengutip sambutan Menteri LHK.

Pada akhir sambutannya, Kabadan mengajak kepada seluruh Peneliti, terutama Profesor Riset untuk memberikan karya terbaiknya bagi masyarakat serta kejayaan Bangsa Indonesia. Penyelenggaraan Orasi Pengukuhan dua Profesor Riset BLI yang pertama kali di Kampus BLI Gunung Batu, Bogor ini selain dihadiri oleh para peneliti dan pejabat struktural lingkup BLI, juga dihadiri oleh mantan pejabat BLI yang telah purna tugas maupun yang masih menjabat di eselon I lain di lingkup KLHK.

Setelah selesai acara pengukuhan, Dr. Ir. Budi Leksono, M.P. bersama keluarga dan juga rekan-rekan dari BBPPBPTH baik struktural, non struktural maupun tim peneliti, berkesempatan foto bersama untuk mengabadikan moment tersebut. (BW)

Editor: Lukman Hakim

 

 

 

 

Foto: edy wibowo/BBPPBPTH