BENIH UNGGUL NYAMPLUNG, TAWARAN SOLUSI KRISIS ENERGI MASA DEPAN

ADMIN | Selasa , 25-April-2017

YOGYA (biotifor.or.id) – Krisis energi dunia mendorong banyak negara untuk mencari energi terbarukan yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019, pada akhir tahun 2019 ditargetkan produksi Bahan Bakar Nabati (BBN) nasional berupa biodiesel 2,35-4,12 juta kilo liter dan bioetanol 0,2-0,58 juta kilo liter.

Menurut Prof (Ris). Dr. Ir. Budi Leksono, MP. energi terbarukan yang dimaksud adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang berkelanjutan, diantaranya dari sumber daya hutan seperti bioenergi dari biji tanaman hutan.

Hal ini disampaikan Peneliti Utama Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta saat mendampingi Dr. Henry Bastaman selaku Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) di sela-sela acara Press Tour BLI di kantor B2P2BPTH, Kamis (20/4/2017).

“Salah satu komoditas dari sumber daya hutan yang telah diidentifikasi memiliki potensi tinggi untuk bioenergi adalah Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) dengan memanfaatkan bijinya,” kata Prof. Budi.

Tanaman ini dibudidayakan sebagai tanaman wind breaker pada daerah marginal di tepi pantai atau sebagai tanaman konservasi pada lahan-lahan kritis. Variasi ukuran buah, biji dan pertumbuhan tanaman dari populasi nyamplung di seluruh Indonesia menunjukkan peluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

Sedangkan menurut Dr. Henry Bastaman, upaya untuk mendorong pengembangan biofuel, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan ijin pemanfaatan lahan hutan yang tidak produktif untuk pengembangan jenis-jenis tanaman penghasil energi terbarukan.

“Biodiesel yang merupakan produk biofuel, mampu mengurangi emisi hidrokarbon tak terbakar, karbon monoksida, sulfat, hidrokarbon polisiklik aromatik, nitrat hidrokarbon polisiklik aromatik dan partikel padatan sehingga ramah lingkungan,” lanjut Kabadan.

Seperti kunjungan Menteri LHK beberapa tahun yang lalu, Kepala BLI berkesempatan untuk menuangkan 1 liter biodisel dari minyak nyamplung ke mobil dan mengendarainya untuk memutari kantor B2P2BPTH.

Menurut Prof. Budi, hasil penelitian di B2P2BPTH menunjukan rendemen minyak nyamplung (crude calophyllum oil/CCO) dari 12 populasi yang berasal dari 7 pulau di Indonesia, mempunyai variasi yang tinggi yaitu antara 37-58 % lebih tinggi dibandingkan jarak pagar 25-40%, saga hutan 14-28%, kepuh 24-40%, kesambi 30-40% dan kelor 39-40%.

“Satu liter minyak nyamplung dapat dihasilkan dari 2-2,5 kg biji yang diperoleh dari pengolahan CCO menjadi biodisel nyamplung melalui proses degumming, esterifikasi, transesteriikasi, washing dan drying. Hasil analisis sifat fisiko-kimia biodisel nyamplung yang dihasilkan telah memenuhi 18 karakteristik biodisel sebagai syarat mutu biodisel (SNI 04-7182-2006),” lanjut Budi.

Pengembangan nyamplung sebagai tanaman energi, telah dibangun uji coba penanaman, pembangunan sumber benih unggul, pengolahan minyak nyamplung dan pemanfaatan limbahnya.

“Benih unggul dari Tegakan Benih Provenan (TBP) dan aplikasi teknik silvikultur yang tepat, tanaman telah berbuah pada umur 3 tahun dan menghasilkan rendemen CCO sebesar 61,92 – 64,79% atau meningkat 11 – 14% dibandingkan populasi asalnya (Gunung Kidul) sebesar 50 – 50,12%,” tambah peneliti berprestasi ini.

Nyamplung selain menghasilkan BBN juga berpotensi menghasilkan produk lain dari pemanfaatan limbahnya antara cangkang buah untuk briket arang dan arang aktif, asap cair untuk pengawet kayu, bungkil untuk pakan ternak, resin/getah untuk obat-obatan, kosmetik dan pewarna tekstil, serta gliserol untuk sabun.
 
“Manfaat ekonomi pengusahaan budidaya nyamplung dan pengolahan biji nyamplung dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat serta penduduk di sekitar hutan. Melalui teknik yang tepat, pengolahan biji nyamplung menjadi biofuel mengikuti konsep ‘zero waste’ (tanpa limbah),” tutup Budi. (lh&mna)

 

Editor: Lukman Hakim