PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN KAYUPUTIH, "DARI KEPULAUAN MALUKU UNTUK INDONESIA"

ADMIN | Selasa , 25-April-2017

YOGYA (biotifor.or.id) – Hampir tidak ada rumah tangga yang tidak menyimpan sebotol minyak kayuputih. Minyak kayuputih memang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Namun mungkin tidak banyak yang mengetahui asal-usul minyak kayuputih.

“Selama masih ada bayi yang lahir dan orang tua, maka minyak kayuputih akan terus berproduksi,” kata Dr. Anto Rimbawanto. Hal ini disampaikan oleh peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta tersebut saat kunjungan lapangan Press Tour BLI di Hutan Penelitian Gunungkidul, Kamis (20/4/2017).

Kayuputih (Melaleuca cajuputi subsp.) dari 3 subspecies yaitu subsp. cajuputi, subsp. cumingiana, dan subsp. platyphylla, ketiganya tumbuh alami di berbagai pulau Indonesia, yaitu di Ambon, Buru, Seram, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Timor dan Papua. Dari ketiga sub species tersebut, hanya subsp. cajuputi yang mengandung minyak kayuputih dalam kadar tinggi.

Menurut Dr. Anto, jenis ini tumbuh alami di Kepulauan Maluku dan dimanfaatkan rakyat setempat untuk menghasilkan minyak kayuputih, sehingga masyarakat sering mengaitkan minyak kayuputih dengan Ambon. Tumbuhan kayuputih mulai dikembangkan di Jawa oleh Perum Perhutani di KPH Gundih pada tahun 1964.

Sebagian besar minyak kayuputih dihasilkan dari pertanaman di Jawa, baik yang dikelola oleh Perum Perhutani maupun oleh KPH Yogyakarta. Total produksi minyak kayuputih nasional diperkirakan mencapai 400 ton yang dihasilkan oleh industri minyak kayuputih di Jawa sebesar 300 ton/tahun dan Kepulauan Maluku 100 ton/tahun.

“Kebutuhan industri farmasi nasional pada tahun 2016 diperkirakan lebih dari 3.500 ton/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku minyak kayuputih, dilakukan impor bahan substitusi berupa minyak ekaliptus,” tambah peneliti Bioteknologi ini.

Minyak ekaliptus memang mengandung 1,8 cineole, seperti yang dikandung oleh minyak kayuputih, tetapi tidak mengandung aroma khas minyak kayuputih. Impor minyak ekaliptus ini juga menyedot devisa negara hingga lebih dari USD 54 juta.

Salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan industri minyak kayuputih adalah rendahnya rendemen minyak yang dihasilkan dari tanaman kayuputih. Rata-rata 1 ton daun hanya menghasilkan 80 kg minyak atau rendemen sebesar 0.8%.

Dr. Anto menjelaskan bahwa B2P2BPTH telah menemukan individu pohon/famili dengan sifat genetik unggul yang menghasilkan rendemen minyak lebih dari 2 %dan kadar1,8 cineol lebih dari 60%. Dua varietas benih unggul telah dilepas secara resmi yaitu benih unggul KPP-01, SK Menteri Kehutanan SK 372/Menhut-VIII/2004 benih klon unggul KPP klon-01,SK 352/Menlhk-Setjen/2015.

“Beberapa kegiatan pengembangan benih unggul ini antara lain industri minyak kayuputih skala kecil di Paliyan Gunungkidul, Pilot Project industri kayuputih di Biak Numfor, dan pertanaman kayuputih skala komersial di Bima NTB oleh PT. Sanggaragro Karyapersada seluas 4.000 ha,” tutup peneliti senior B2P2BPTH ini.

Benih unggul kayuputih ini secara perlahan memberikan kontribusi untuk peningkatan produksi minyak kayuputih, agar dapat mengurangi impor minyak substitusi. Para wartawan berkunjung ke Pabrik Minyak Kayuputih yang dikelola KPH Yogyakarta yang benih unggulnya hasil riset B2P2BPTH.(lh&mna)

 

Editor: Lukman Hakim