FORENSIK DNA, UPAYA MENEKAN PERDAGANGAN KAYU DAN HEWAN DILINDUNGI SECARA ILEGAL

ADMIN | Kamis , 27-April-2017

YOGYA (biotifor.or.id) – Perdagangan kayu maupun hewan yang dilindungi secara ilegal semakin marak terjadi di Indonesia. Kayu ilegal yang diperdagangkan baik di pasar domestik maupun internasional, diperoleh melalui cara-cara yang melanggar ketentuan perundangan, baik menyangkut penebangan, pengangkutan, pengolahan dan jual belinya.

Menurut Dr. Ir. AYPBC Widyatmoko, M. Agr., perdagangan kayu secara illegal ini tidak saja menimbulkan kerugian ekonomi secara langsung, namun juga mengakibatkan kerusakan lingkungan dan sumberdaya hutan. Indonesia mengalami kerugian hampir Rp. 30 trilyun/tahun dari akitivitas perdagangan kayu ilegal. Perdagangan illegal satwa liar yang dilindungi semakin menurunnya di populasi alamnya.

Hal ini disampaikan Peneliti Bioteknologi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta saat presentasi pada Press Tour  BLI di kantor B2P2BPTH, Kamis (20/4/2017).
Penanda DNA merupakan metode yang dapat mengatasi masalah identifikasi tersebut. Kegiatan penyelidikan kejahatan seperti perdagangan kayu illegal dan perburuan, pembunuhan, perdagangan dan koleksi hewan yang dilindungi menggunakan penanda DNA disebut Forensik DNA.

“Laboratorium Genetika Molekuler B2P2BPTH telah melakukan penelitian DNA log-tracking sejak tahun 2009. Database awal untuk jenis merbau dan meranti telah dibangun. Saat ini juga tengah dilakukan penelitian DNA barcoding untuk lebih dari 100 jenis Dipterocarpaceae,” kata Doktor lulusan Jepang ini.

Dengan teknologi ini, bila ada permintaan negara pengimpor kayu Indonesia akan adanya informasi genetik tentang asal-usul kayu, akan dapat dipenuhi. Data genetik ini juga dapat digunakan untuk menguji keabsahan jenis kayu yang diperdagangkan, sehingga dapat menjadi pelengkap dokumen prosedural yang telah diberlakukan dalam SVLK.

“Sejak 2012 telah dilakukan penelitian mengenai hewan yang dilindungi untuk jenis banteng. Penyusunan database keragaman genetik banteng yang tersebar pada 4 Taman Nasional di Pulau Jawa, selain untuk kepentingan konservasi jenis tersebut, juga dapat digunakan untuk kegiatan forensik DNA,” lanjut Dr. Widyatmoko.

Dengan didukung oleh peralatan yang memadai dan para penelitinya yang telah berpengalaman dalam aplikasi DNA, Laboratorium Genetika Molekuler B2P2BPTH dapat digunakan sebagai laboraroium Forensik DNA.

“Namun masih diperlukan beberapa sarana dan prasarana pendukung lainnya untuk meningkatkan kapasitasnya, dan pelatihan khusus untuk peneliti yang akan menangani Forensik DNA,” tutup peneliti yang baru selesai mengikuti training di Negara Paman Sam ini.

Acara Press Tour BLI ini dihadiri diliput oleh wartawan dari Jakarta dan DIY serta dihadiri oleh pejabat teras BLI, pejabat struktural dan peneliti lingkup B2P2BPTH dan perwakilan UPT lingkup KLHK di Yogyakarta.

Setelah presentasi dan diskusi, para wartawan pusat dan lokal diajak melihat fasilitas dan proses kerja di Laboratorium Genetika Molekuler. Diakui bahwa penelitian DNA ini sangat mendukung Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.(lh&mna)

 

Editor: Lukman Hakim