BIBIT UNGGUL SENGON TOLERAN KARAT TUMOR, HASIL LITBANG UNTUK MENAHAN LAJU PERKEMBANGAN PENYAKIT YANG CEPAT (OUTBREAK)

ADMIN | Jumat , 28-April-2017

YOGYA (biotifor.or.id) – Menurut Dr. Liliana Baskorowati, permintaan dan nilai ekonomi yang tinggi dari kayu sengon (Falcataria moluccana) menyebabkan masyarakat antusias untuk mengembangkannya. Namun meluasnya budidaya sengon secara monokultur berpotensi meningkatkan intensitas serangan penyakit karat tumor di berbagai wilayah di Indonesia. Sejak tahun 2015 telah terjadi epidemik, yaitu menyerang secara luas dan sulit untuk dibasmi.
 
“Pengendalian secara mekanis dan kimia masih menjadi pilihan, meskipun kurang efektif untuk skala luas. Oleh karena itu, usaha mencari sengon yang toleran terhadap penyakit karat tumor serta meningkatkan produktivitas sangat diperlukan,” kata Dr. Liliana.

Hal ini terungkap saat presentasi Press Tour Badan Litbang dan Inivasi (BLI) di kantor Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, Kamis (20/4/2017).

Program pemuliaan pohon berguna untuk memelihara dan meningkatkan variabilitas genetik di dalam satu populasi. Pembangunan kebun benih dilanjutkan dengan seleksi untuk memperbaiki dan menghasilkan pohon yang baik dan resisten terhadap hama dan penyakit harus dilakukan.

Eksplorasi materi genetik dari sebaran alam sengon di Papua serta Kepulauan Solomon tahun 2010 untuk mendapatkan sengon dengan variasi genetik yang luas. Pembangunan kebun benih semai uji keturunan sengon mulai ditanam tahun 2012 di 3 Jember, Lumajang dan Bondowoso. Pembangunan plot uji resistensi juga dilakukan di Candiroto Jawa Tengah tahun 2013.

Lembih lanjut, hasil penelitian dari 3 kebun benih semai uji keturunan di Jawa Timur umur 1,5 th menunjukan ada 43 family yang sama sekali tidak terserang penyakit karat tumor di semua lokasi dan dilakukan uji penyakit di tingkat persemaian dengan memberikan penyakit secara buatan dan menunjukkan terdapat 29 family yang sama sekali tidak menunjukkan gejala penyakit.

“Family-family inilah yang kemudian kita rekemondasikan untuk dikembangkan melalui teknik perbanyakan kultur jaringan,” sambung Liliana.

Penggembangan benih sengon toleran terhadap penyakit dengan pola kerjasama dengan BPTH Bali Nusra tahun 2013 di Jembrana Bali Barat, BPTH Jawa Madura tahun 2014 di Jampang, Sukabumi, serta Dinas Kehutanan Kab. Kepahiyang, Bengkulu di Kepahiyang pada tahun yang sama. Hasil evaluasi pengembangan tanaman sengon di 3 lokasi pada tahun 2015 menunjukkan semua tanaman sengon tidak ada yang menunjukkan gejala terserang penyakit karat tumor.

Setelah acara presentasi dan diskusi, wartawan berkunjung ke Laboratorium Genetika Molekuler, Kultur Jaringan dan Bioenergi dari Nyamplung.

Menurut Dr Asri Insiana Putri, strategi pemuliaan modern penanggulangan penyakit terpadu dapat dilakukan dengan pendekatan bioteknologi menggunakan metode seleksi genetik sengon toleran karat tumor in vivo dan in vitro. Identifikasi ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit dapat dilakukan melalui pengamatan sifat anatomi, proses biokimia dan susunan DNA molekuler.

“Hasil penelitian menunjukkan seleksi semai secara langsung in vivo dan seleksi tidak langsung sel in vitro efektif untuk mendapatkan sengon toleran karat tumor. Kultur jaringan efektif dan efisien untuk perbanyakan sengon toleran karat tumor dengan  stabilitas toleransi yang tinggi dalam mendapatkan bibit secara vegetatif dengan sifat toleran dari tetua,” kata peneliti kultur jaringan ini.

Penggunaan tanaman yang toleran terhadap suatu penyakit secara ekonomi dapat mengurangi tambahan energi untuk mencegah atau menanggulangi kerusakan dan tetap menjaga keberadaan tanaman-patogen di dalam keseimbangan ekosistem.

Manfaat langsung adalah tersedianya bibit unggul sengon toleran karat tumor bagi pengelola hutan maupun industri sengon untuk menahan laju perkembangan penyakit yang cepat (ledakan/outbreak) atau menunda terjadinya epidemi dan secara tidak langsung menurunkan tingkat populasi penyakit karat tumor.

“Perbanyakan kantong-kantong benih unggul berupa pembangunan sumber benih F1 maupun F2 serta kultur jaringan F2 di tingkat daerah dapat dilakukan oleh institusi pemerintah maupun swasta, harap Doktor yang baru lulus dari UGM ini.

Monitoring dan pemusnahan inang atau bagian inang dengan sanitasi dan tindakan silvikultur yang tepat seperti persemaian sehat, lokasi penanaman, penanaman multikultur, pemeliharaan intensif merupakan tindakan yang perlu diperhatikan pada pengelolaan terpadu sengon toleran karat tumor ini.(lh&bw)

 

Editor: Lukman Hakim