KEBUN RAYA BOGOR, SALAH SATU BENTENG TERAKHIR PENYELAMATAN FLORA INDONESIA

ADMIN | Jumat , 19-Mei-2017

BOGOR (biotifor.or.id) – Menurut Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain bahwa Kebun Raya Bogor (KRB) yang awalnya berupa taman belakang Kantor Gubernur Hindia Belanda (Buitenzorg) pada tahun 1817 sekarang telah menjadi kebun raya yang memiliki lima fungsi sebagai pusat konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan lingkungan, wisata dan jasa lingkungan.

Hal ini disampaikan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Puncak peringatan dua abad Kebun Raya Bogor di Lapangan Astrid, KRB, Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/5/2017).

“Kebun Raya Bogor merupakan pusat penelitian dan pusat konservasi luar kawasan (ex-situ) tumbuhan terbesar di Indonesia dengan luas sekitar 87 hadan memiliki koleksi 12.531 spesimen tumbuhan,” kata Iskandar bangga.

Perayaan ini dihadiri Megawati Soekarno Putri selaku Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia, Kepala Staf Kepresidenan RI, Teten Masduki, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudi Antara, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, duta besar Jepang, Belanda, dan Jerman serta undaangan dari instansi pusat dan daerah, perguruan tinggi dan dunia usaha yang terkait dengan konservasi flora.

Teten Masduki mewakili Presiden berharap agar Kebun Raya Bogor dapat ditiru sebagai pusat perlindungan keanekaragaman hayati di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Presiden berharap kepada para kepala daerah yang masih memiliki lahan yang luas untuk mereplikasi KBR ini sebagai tempat konservasi dan penelitian tanaman endemik masing-masing daerah," kata Staf Kepresidenan ini.

Bima Arya Sugiarto selaku Wali Kota Bogor dalam sambutannya mewakili masyarakat Kota Bogor merasa sangat bangga dengan keberadaan KRB ini. Selain sebagai icon juga menjadi salah satu pengerak perekonomian Kota Bogor yang sangat signifikan.

Tahun 1817 Prof C.G.C, Reinwardt, botanis Jerman mengusulkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia G.A.G.P. Baron van der Capellen untuk mendirikan Kebun Botani sebagai lokasi penelitian.Usulan Reinwardt dipenuhi dengan memberikan sebidang tanah di halaman belakang Kantor Gubernur Hindia Belanda yang ada di Bogor. Tanggal 18 Mei 1817 dilakukan pemancangan patok pertama yang dilaksanakan Reinwardt, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent kurator Kebun Raya Kew dari Inggris.

Sudjana Kassan merupakan orang pribumi pertama menjabat kepala KRBpada tahun 1956 yang waktu itu bernama Hortus Botanicus Bogoriensis. KRB merupakan salah satu satuan kerja di bawah LIPI, bersama empat kebun raya lainnya yakni Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, Kebun Raya "Eka Karya" Bali serta Cibinong Science Center-Botani Garden.

Beberapa rangkaian acara peringatan ini adalah penandatanganan Prasasti dan peluncuran Prangko 2 Abad KRB, Pameran Perkebunrayaan, KRB 200K Run, Pendidikan Lingkungan, Sepeda Santai 2 Abad KRB, Seminar Internasional, Festival Seni dan Budaya, Harmoni dalam Seni, Lomba Fotografi Kebun Raya, Lomba Olahraga Antar Kebun Raya.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta berpartisipasi dalam kegiatan pameran sebagai peraih Pusat Unggulan Iptek (PUI). Beberapa hasil litbang seperti Kayuputih, Jati Purwo, Nyamplung, Acacia mangium, A. auriculiformis, Eucalyptus pellita disampaikan kepada pengunjung pameran dalam bentuk publikasi ilmiah cetak, leafleat, buku, contoh produk, serta banner.

Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya tertua di Asia Tenggara dan tertua ketiga di dunia setelah Kebun Raya Pandova di Italia dan Royal Botani Garden Sydney di Australia.Keberadaan Kebun Raya Bogor dari waktu ke waktu berperan penting sebagai salah satu benteng terakhir penyelamatan flora di Indonesia.(lh)

Editor: Lukman Hakim