MENDESAK DAN PERLU: SUMBER BENIH TANAMAN HUTAN ADAPTIF DAERAH EXTRIM KERING

ADMIN | Rabu , 31-Mei-2017

Bali (biotifor.or.id) - Menurut Ir. Tandya Tjahjana, M.Sibahwa Balai Besar Penelitian dan Bioteknologi dan Pemuliaan tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta mendukung kegiatan aksi-aksi adaptasi perubahan iklim di daerah ekstrim kering.

Hal ini disampaikan Kepala B2P2BPTH saat pembukaan Training of Trainer (ToT) kepada 55 orang fasilitator desa dari Kabupaten Manggarai, Sabu Raijua dan Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kuta Bali, Senin, (22/05/2017).

"Upaya berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk menyeleksi spesies dan membangun sumber benih tanaman hutan pada daerah ekstrim kering diharapkan dapat dicapai dalam kegiatan pelatihan ini," lanjut Kababes.

Acara TOT ini dibuka oleh Direktur Adaptasi Perubahan Iklim DJPPI Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dra. Sri Tantri Arundhati, M.Sc. dan sebagai nara sumber adalah para peneliti B2P2BPTH, yaitu Dr. Rina Laksmi, Liliek Haryjanto, S.Hut, M.Sc dan Yayan Hadiyan S.Hut, M.Sc.

"Kami berkomitment untuk dapat mendampingi para fasilitator hingga rencana aksi tersebut diimplementasikan di lapangan," kata Yayan.

Adapun beberapa materi pelatihan antara lain Peran Tanaman Dalam Perubahan Iklim, Seleksi Species pada Daerah Kering, Cara Membangun Kebun Benih Semai, Tegakan Benih Provenans, Penunjukan Tegakan Benih Teridentifikasi/Terseleksi dan Pembuatan Persemaian serta menyusun rencana aksi masing-masing group peserta.

"Tema TOT adalah "Kebun Benih Tanaman HutanAdaptif Kekeringan Bagi Fasilitator Desa dan LSM Mitra SPARC", diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para fasilitator desa dalam merancang upaya adaptasi perubahan iklim di daerah ekstrim kering dan ekstrim lainnya," lanjut Ahli KSDG ini.

Para peserta dibekali pengetauan dasar tentang cara seleksi jenis-jenis tanaman hutan adaptif, penyediaan sumber benih dan pembibitan. Pengetahuan ini diharapkan dapat mendukung aksi adaptasi perubahan iklim, konservasi untuk memecahkan masalah-masalah ekologis dan membuka peluang meningkatkan mata pencaharian masyarakat dimasa mendatang.

SPARC (Strategic Planning and Action to strengthen climate resilience of Rural Communities) sendiri adalah sebuah proyek yang mendapat dukungan dana dari GEF/Special Climate Change Fund (GEF/SCCF) berfokus pada penguatan dan pengembangan institusi dan masyarakat pedesaan yang tahan terhadap perubahan iklim dalam tiga bidang kehidupan yang meliputi penghidupan, ketahanan pangan dan air.

Sampai dengan akhir tahun 2016, SPARC telah melaksanakan kegiatan di 21 desa pilot di 3 kabupaten (Manggarai, Sabu Raijua dan Sumba Timur) dan kegiatan pembangunan PLTMH melalui dana CSR Bank NTT di Kecamatan Elar, Kab. Manggarai Timur. Pelaksanaan kegiatan aksi adaptasi di tingkat masyarakat telah berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat rentan di desa.(yh)

Editor : Lukman Hakim