PENGELOLAAN PENYIMPANAN BENIH TANAMAN HUTAN, PERLU SEGERA "MOVE ON"

ADMIN | Kamis , 8-Juni-2017

YOGYA (biotifor.or.id) – Belum tersedianya sistem informasi yang cepat dan efisien dalam pengelolaan dokumentasi/penyimpanan benih tanaman hutan, sebagai material penelitian di Dry Cold Storage (DCS) di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta perlu mendapat inovasi alternatif.

Hal ini mengemuka pada presentasi hasil Kerja Praktek Khoirul Umam, mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) yang dibimbing oleh Yayan Hadiyan, S.Hut, M.Sc, dan Adityo Permana Wibowo, S.Kom., M.Cs., dosen UTY di ruang rapat pemuliaan BBPBPTH Yogyakarta, selasa (6/6/2016).

Kondisi kritis pengelolaan benih sebagai salah satu material penelitian di DCS bisa saja terjadi manakala data dan benih tanaman yang disimpan semakin banyak, sementara pengelolaan dokumentasinya masih dilakukan secara manual.

Pencarian dokumen secara manual pada DCS yang kapasitas besar berpotensi menyulitkan manajemen terkait, para peneliti ataupun user  lainnya. Bahkan kelemahan pengelolaan DCS dapat mengancam kekeliruan identitas benih dan berdampak pada kesalahan (error) penelitian dalam jangka panjang.
 
Menurut Yayan Hadiyan bahwa seiring dengan kegiatan konservasi sumber daya genetik di B2P2BPTH, dirancanglah sebuah System Informasi Pengelolaan Penyimpanan Benih Tanaman Hutan (SIM-P2BTH) berupa aplikasi yang menggunakan bahasa script PHP, HTML dan java Script sejak 6 bulan lalu.

“Sistem informasi ini menyajikan sistem informasi pengelolaan benih yang meliputi perekaman data koleksibenih, penerimaan, penyimpanan, pencatatan mutasi dan monitoring benih dalam DCS. Dengan membagi hak akses terbatas kepada admin/manajemendan para peneliti, SIM-P2BTH dapat menghasilkan output laporan periodik untuk stok, penyimpanan dan mutasi benih,” kata Peneliti KSDG ini.

Beberapa aplikasi ini bermanfaat 1) Membantu memperbaiki pengelolaan penyimpanan benih di B2P2BPTH; 2) Memberikan kemudahan bagi peneliti dan pengelola dalam mengelola penyimpanan koleksi benih serta memonitor keluar masuknya benih; 3) Membantu petugas terkait pengolahan data, pemrosesan data, pencarian data menjadi lebih mudah dan efisien; 4) Pembuatan dokumentasi koleksi dan penyimpanan benih menjadi lebih aman, tertata dan mudah diakses oleh pengelola dan peneliti.

Dr. Arif Nirsatmanto mengatakan aplikasi ini sudah cukup baik untuk tahap inisiasi, namun ke depan perlu penyesuaian beberapa menu input dan tampilan (output) agar dapat mendukung keperluan dokumentasi penelitian pemuliaan.

Sedangkan menurut wakil manajemen Ir. Budiastuti dan tim, mengapresiasi inovasiawal ini dan jika telah disempurnakan beliau berharap agar segera ada transfer pengetahuan kepada tim manajemen untuk bisa ditindaklanjuti dan tentu bersama dengan para peneliti terkait. (yh)

 

Editor: Lukman Hakim