PEMBINAAN TEKNIS PEMBANGUNAN KEBUN BENIH SEMAI SENGON DI BPDASHL UNDA ANYAR, BALI

ADMIN | Kamis , 15-Juni-2017

Denpasar (biotifor.or.id) – Menurut Ir. Tandya Tjahjana, M.Si, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta telah menghasilkan beberapa benih unggul dan Iptek bidang pemuliaan tanaman hutan yang didukung oleh sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan litbang bioteknologi hutan dan pemuliaan tanaman hutan.

“Kemenristekdikti telah mengakuinya dengan menganugerahkan B2P2BPTH dengan status sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) di bidang Pemuliaan Tanaman Hutan Tropis,” kata Kababes dalam pembinaan dalam rangka pembangunan Kebun Benih Semai (KBS) Sengon di kantor Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dan Hutan Lindung (BPDASHL) Unda Anyar, Denpasar, Bali, Senin (12/6/2017).

“Sudah sangat tepat hasil litbang yang kami hasilkan dapat diaplikasikan di lapangan untuk mendukung pembangunan di lapangan. Semoga alih tehnologi untuk menghasilkan benih unggul sebagai bahan pembuatan bibit untuk penanaman Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Rakyat (HR) yang lebih produktif,” lanjut Pria asli Solo ini.

Nara sumber kegiatan ini adalah Dr. Liliana Baskorowati, peneliti pemuliaan pohon B2P2BPTH Yogyakarta dan dihadiri oleh pejabat struktural dan staf BPDASHL Unda Anyar, Bali yang terkait dengan perbenihan tanaman hutan.

Menurut Dr. Liliana Baskorowati, jenis sengon (Falcataria moluccana) sangat diminati para petani di Jawa sebagai bahan baku industri karena memiliki harga jual yang baik dan biaya pengelolaan yang murah dan sederhana. Semakin meluasnya budidaya sengon secara monokultur berpotensi meningkatkan intensitas serangan penyakit karat tumor di berbagai wilayah di Indonesia. Karat tumor (gall rust) menjadi salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi tanaman sengon.

“Hasil penelitian dari 3 kebun benih semai uji keturunan di Jawa Timur pada umur 1,5 th memperlihatkan 43 family yang sama sekali tidak terserang penyakit karat tumor di semua lokasi. Terdapat 29 family yang sama sekali tidak menunjukkan gejala penyakit dan kemudian kita rekemondasikan untuk dikembangkan melalui teknik perbanyakan kultur jaringan,” kata peneliti pemuliaan pohon ini.

Salah satu penggembangan benih sengon toleran terhadap penyakit dengan 43 family, B2P2BPTH bekerjasama dengan Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Bali Nusra yang ditanam 2013 di Jembrana Bali Barat. Hasil evaluasi pengembangan tanaman sengon di 3 lokasi pada tahun 2015 menunjukkan semua tanaman sengon tidak ada yang menunjukkan gejala terserang penyakit karat tumor.

Menurut Ketut Wiradana, bahwa tegakan ini sudah berbuah, namun sampai tahun 2017 ini belum ada tindakan seleksi. Data hasil pengukuran terakhir diharapkan dapat ditemukan family mana saja yang akan diseleksi sehingga tegakan ini statusnya bisa menjadi KBS Sengon dan benih yang dihasilkan merupakan benih unggul untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

“Kami akan berkordinasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Bali dan akan segera merencanakan kegiatan seleksi serta akan berkomunikasi dengan pihak B2P2BPTH sebagai supervisi kegiatan teknis di lapangan,” kata Kepala Seksi yang menangani kegiatan ini.

Manfaat langsung adalah tersedianya bibit unggul sengon toleran karat tumor bagi pengelola hutan maupun industri sengon untuk menahan laju perkembangan penyakit yang cepat (ledakan/outbreak) atau menunda terjadinya epidemi dan secara tidak langsung menurunkan tingkat populasi penyakit karat tumor.(lh)

Editor : Lukman hakim