BLI SIAP BEKERJASASAMA DENGAN BERBAGAI PIHAK DALAM RESTORASI LERENG GUNUNG MERAPI

ADMIN | Senin , 7-Agust-2017

YOGYA (biotifor.or.id) - Menurut Dr. Henry Bastaman, salah satu rangkaian Konferensi IUFRO-INAFOR 2017 adalah penanaman dan penandatanganan prasati di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Pengelolaan Kali Kuning Park tempat penanaman ini telah dikelola sebagai daerah wisata alam bersama dengan masyarakat sekitar.

“Ini artinya sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk memberikan akses hutan untuk kesejahteraan dan ekonomi masyarakat,” kata Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) ini saat sambutan di Joglo Kali Kuning, Sleman, Yogyakarta, Senin (24/07/2017).

Kegiatan ini adalah ide dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) agar para peneliti nasional maupun internasional peserta IUFRO-INAFOR dapat memberikan input bagaimana metode restorasi kawasan TNGM yang terkena eropsi Gunung Merapi pada tahun 2010.

“Menanam pohon ini sebagai salah satu simbol komitmen kita bekerjasama dengan beberapa pihak dalam merestorasi di ekosistem Gunung Merapi,” lanjut Kepala BLI dihadapan Dubes Finlandia, Presiden IUFRO, Gubernur Bangka Belitung, Dirjen dari Kemenristek Dikti, Kadishut DIY, Kepala B2P2BPTH, Kepala TNGM, dan awak media.

Jenis bibit tanaman asli ekosistem Gunung Merapi yang ditanam oleh beberapa tamu VVIP IUFRO-INAFOR 2017 antara lain tesek, puspa, berasan, nogosari, kemenyan, dan pronojiwo. Selain prosesi penanaman, sebagai bukti komitmen bersama restorasi lereng Gunung Merapi ditancapkan Prasasti yang akan ditandatangani oleh Menteri LHK dan Gubernur DIY.

Menurut Ir. Ammy Nurwati, M.Sc bahwa Kali Kuning sangat cocok digunakan untuk kegiatan berkemah, camping ataupun outbond training. Wisatawan dapat melihat pemandangan dari dekat puncak Gunung Merapi dan tebing bebatuan andesit yang sangat menawan.

“Lokasi ini merupakan wisata alam di lereng gunung Merapi yang dekola bersama masyarakat sekitar,” lanjut Kepala Balai TNGM ini.
Terdapat mata air di Kali Kuning ini yang bernama Umbul Wadon pada ketinggian 1.250 mpl. Umbul Wadon ini merupakan hulu dari aliran air sungai DAS Opak, Das Progo dan Das Oya dengan debit 650 liter/detik saat musim penghujan dan 400 liter/detik saat musim kemarau.(lh)

 

Editor: Lukman Hakim