DAYA DUKUNG PAKAN KOMODO, MENGANCAM KELESTARIAN SATWA DILINDUNGI DUNIA

ADMIN | Rabu , 18-Okt-2017

YOGYAKARTA (biotifor.or.id) - Salah satu permasalahan yang dihadapi pengelola Taman Nasional Komodo (TNK) adalah menurunya populasi Kerbau dan Kuda sebagai pakan Komodo. Penurunan populasi kedua pakan Komodo ini dikawatirkan akan terjadi inbreeding dan dalam jangka panjang bisa terjadi kepunahan.

Kegalauan akan kecenderungan menurunya daya dukung pakan utama Komodo ini disampaikan oleh Ir. Sudiono, M.Si, saat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pemetaan Genetik Kerbau dan Kuda yang berada di TNK di kantor Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, Selasa (17/10/2017).

Masalah ini diharapkan dapat dipecahkan dengan analisis DNA untuk menentukan strategi konservasi genetik kedua satwa oleh peneliti B2P2BPTH yang memiliki Laboratorium DNA. “Jika tidak, maka lama kelamaan karena kurangnya pakan, bisa jadi Komodo ini akan bermutasi menjadi Kadal,” kata Kepala TNK dengan nada gurau.

PKS antara B2P2BPTH dengan TNK ditandatangani oleh Ir. Sudiono, M.Si, Kepala TNK selaku Pihak Kesatu dan Ir. Tandya Tjahjana, M.Si, Kepala B2P2BPTH sebagai Pihak Kedua.

“Pada awalnya, ukuran badan Komodo bisa sampai 6 meter, namun sekarang paling besar 3,1 meteran, salah satu dugaannya karena semakin berkurangnya kualitas dan kuantitas pakan Komodo,” lanjut Kepala TNK ini.

Ruang lingkup PKS ini meliputi kegiatan pengambilan sampel materi genetik Kerbau dan Kuda, analisa genetik dengan penanda DNA untuk Kerbau dan Kuda, serta penyusunan strategi konservasi genetik kerbau dan kuda sebagai pakan Komodo di Taman Nasional Komodo.

Data-data tentang hasil inventarisasi Komodo, pakan Komodo, pakan Kuda dan Kerbau, jenis tumbuhan lokal dan lain-lain cukup banyak di TNK. Berdasarkan hal ini maka ruang lingkup PKS ini kedepan bisa berkembang sesuai kebutuhan.
“Kami juga butuh bimbingan, terutama para PEH dalam menentukan metode penelitian dan penulisan secara ilmiah,” harap Kabalai.

Sedangkan menurut Ir. Tandya Tjahjana, M.Si, bahwa PKS ini merupakan tonggak sejarah dalam rangka penyelamatan Komodo yang namanya sudah mendunia. “Kedepan mungkin akan berkembang tidak hanya Kuda dan Kerbau, tapi bisa ditemukan pakan-pakan baru dari hasil penelitian ini.”


Penandatanganan PKS ini dihadiri oleh para pejabat Struktural dan Ketua Kelti lingkup B2P2BPTH serta beberapa peneliti Genetika Molukuler. Jangka waktu PKS ini berlaku untuk 2 tahun sejak tanggal ditandatangani dan dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. Selain itu, PKS ini juga mengatur tentang hak dan kewajiban, hasil kerjasama dan hak kekayaan intelektual, pembiayaan yang timbul dan lain-lain. (LH)

Editor: Lukman Hakim

Foto: Edy Wibowo/BBPPBPTH/2017