PEMBINAAN TEKNISI LITKAYASA B2P2BPTH YOGYAKARTA

ADMIN | Jumat , 27-Okt-2017

YOGYAKARTA (biotifor.or.id) –  “Fungsional pegawai lingkup Badan Litbang dan Inovasi (BLI) merupakan tugas dari Bagian Kepegawaian, Hukum dan Ortala, Sekretariat BLI saat ini telah berkembang organisasinya yang melayani Kepegawaian, Hukum dan Organisasi Tata Laksana, sehingga disana ada 3 bagian.  

Hal tersebut disampaikan Ir. R. Gunawan Hadi Rahmanto, M.Si  dalam Pembinaan Teknisi Litkayasa yang diselenggarakan di ruang rapat Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, Kamis (19/10/2017)

Pembinaan administrasi kepegawaian di B2P2BPTH merupakan tugas pertama di luar Bogor. Kegiatan harian di bagian kami  adalah melayani masalah-masalah kepegawaian lingkup BLI yang berjumlah 20 Satker di seluruh Indonesia,” lanjut Kabag Kepegawaian, Hukum dan Ortala, Sekretariat BLI ini.

Acara dibuka oleh Kepala B2P2BPTH yang diwakili oleh Ir. Ratna Damayanti Titi Muktisari dan menyampaikan banyak permasalahan di lingkup Fungsional Teknisi Litkayasa baik dalam pengajuan angka kredit maupun mengenai pengangkatan Fungsional teknisi yang saat ini masih diperbantukan di fungsional umum.

Harapannya dengan pertemuan pembinaan ini ada solusi-solusi yang dapat mengatasi permasalahan –permasalahan terkait fungsional teknisi yang ada di lingkup B2P2BPTH,” kata Kasubag Kepegawaian dan Tata Usaha.

Amir Hamzah, SAP., selaku Wakil Ketua Tim Penilai Fungsional Teknisi Litkayasa, mengatakan dalam pengajuan angka kredit pada suatu kegiatan, sebaiknya membuat bukti fisik secara lengkap dalam sebuah data agar mendapatkan nilai penuh. Karena kebanyakan, bukti fisik yang diajukan terlalu terpisah-pisah, sehingga mendapatkan nilai angka kredit yang lebih kecil dari seharusnya, dalam paparannya mengenai DUPAK.

Para teknisi litkayasa dihimbau untuk memiliki Buku Petunjuk Teknis Teknisi Litkayasa guna dalam mengajukan DUPAK mendapatkan nilai sempurna dalam tiap butir kegiatan. “ Sayang sekali kalau ingin mengejar kegiatan dengan nilai kredit besar, namun dalam penyampaian DUPAK nya tidak sesuai dengan petunjuk teknis” ujar Amir.

Dalam diskusinya banyak pertanyaan dari para peserta terutama membahas mengenai butir kegiatan pelaksanaan percobaan pada kegiatan-kegiatan teknisi litkayasa. Hal ini sangat berguna untuk kesatuan pemahaman antara pengusul DUPAK dengan Tim penilai DUPAK.

Jumlah teknisi litkayasa di B2P2BPTH berjumlah 23 orang dan berkurang 3 orang, dikarenakan 1 orang sedang mengusulkan pindah jabatan menjadi calon peneliti dan 1 orang lagi pindah tugas ke BKSDA Riau menjadi Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan 1 orang lagi pindah tugas ke Balai Besar Litbang Dipterocarpa Samarinda.(BW)

Editor: Lukman Hakim