INFORMASI INFORMASI "GENE FLOW" DAN "GENETIC STRUCTURE", HAL PENTING UNTUK MENJAGA HUTAN DAN PERUBAHANNYA DI MASA DEPAN

ADMIN | Kamis , 8-Feb-2018

Yogyakarta. (biotifor.or.id) Informasi mengenai Gene Flow dan Genetic Structure pada jenis flora dan fauna merupakan hal penting untuk menjaga hutan-hutan dan perubahan pada komposisi dan dinamika di masa depan.

Hal ini diungkapkan ILG. Nurtjahjaningsih, peneliti Balai Besar Litbang BPTH sebagai keynote speaker pada 2nd Joint Seminar on Biodiversity and Conservation, dalam presentasinya yang berjudul "Genetic Diversity and Structure at Landscape Features" pada Kamis pagi, (1/2 2018), di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Selanjutnya menurut Nurtjahjaningsih, dikarenakan adanya variasi keragaman genetik pada tiap spesies, populasi maupun jenis penyusun lahan (landscape),  maka informasi yang paling diperlukan adalah mengenai aliran gen "Gene Flow" yang dapat mengubah dinamika struktur genetiknya.

Seminar yang bertemakan "Integrated Approach in Achieving Environmental Sustainable Development of Tropical Biodiversity" yang terselenggara atas  kerjasama beberapa lembaga yang terbentuk dalam INITIATING JOINT ASEAN BIODIVERSITY AND CONSERVATION NETWORK yang terdiri dari Fakultas Biologi – UGM, Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi –  UGM, Faculty of Applied  Science and Technology – Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), dan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan – KLHK, disambut oleh Dr. Budi Setiadi Daryono, Dekan Fakultas Biologi – UGM.

Dr. Budi Setiadi Daryono, mengemukakan pendekatan terintegrasi diperlukan dalam pencapaian pembangunan lingkungan berkelanjutan pada biodiversitas tropis. Melalui langkah tersebut diharapkan tidak hanya mewujudkan pembangunan berkelanjutan saja, tetapi juga kehidupan manusia yang lebih baik di masa mendatang, tegasnya seperti yang dikutip dalam laman http://ugm.ac.id.

Membangun jejaring dan berbagi ide, gagasan serta hasil penelitian terupdate, merupakan hal penting, salah satunya dengan penyelenggaraan Joint Seminar kali ini, kata Budi.

“Melalui seminar ini diharapkan bisa menjadi platform untuk berbagi progress hasil penelitian terkait biodiversitas dan konservasi serta dalam membangun jejaring global,” katanya.

Seminar yang dihadiri kurang lebih 130 peserta dari 4 negara termasuk Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand, yang terdiri dari dosen, staf Kementerian LHK, Perusahaan HTI, dan Mahasiswa ini dibuka oleh Dirjen KSDAE.

Direktorat Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno, M.Sc dalam sambutan pembukaan menyatakan pentingnya sinergi dan kolaborasi dalam pengelolaan kawasan konservasi untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Seperti yang dikutip dalam laman http://ugm.ac.id, Wiratno menyampaikan saat ini pihaknya juga telah membangun call center yang memberikan akses ke seluruh masyarakat untuk turut serta terlibat dalam upaya konservasi. Melalui layanan tersebut masyarakat dapat memberikan informasi terkait segala hal terkait permasalahan konservasi.

Wiratno menambahkan, “Ditjen KSDAE mendapatkan mandat untuk mengelola kawasan konservasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, Indonesia memiliki kawasan konservasi seluas 27,2 juta hektar atau sekitar 30 persen dari luas kawasan hutan di Indonesia.”