AKSI RIMBAWAN JOGJA DUKUNG INDUSTRI PARIWISATA ALAM

ADMIN | Senin , 19-Maret-2018

YOGYA (biotifor.or.id) – Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ), Dr. Drs. Sugeng Priyanto M.Si. menyampaikan bahwa industri pariwisata alam menjadi trend dunia saat ini. Begitupun di Indonesia dengan Program Prioritas Nasional, menjadikan Indonesia sebagai target destinasi wisata dunia bermodalkan atraksi wisata kekayaan dan keindahan alamnya.  

Hal itu disampaikannya ketika membacakan pidato Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Apel Rimbawan dalam rangka peringatan Hari Bakti Rimbawan  ke-35 Tahun 2018, di halaman kantor Dinas Kehutanan DIY, Jumat (16/03/2018).

Tema Hari Bakti Hari Bakti Rimbawan  ke-35 Tahun 2018 adalah “Melalui Bakti Rimbawan, Kita Tingkatkan Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Kesejahteraan Rakyat.”

“Kekuatan alam Taman Nasional kita dicirikan oleh kekayaan keanekaragamanhayati yang berada pada rangking II di dunia untuk ekosistem darat, dan rangking I untuk ekosistem lautan,” lanjut Sugeng.

Berkaitan dengan hal itu, segenap rimbawan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam peringatan Hari Bakti Rimbawan kali ini melaksanakan beberapa kegiatan. Aksi nyata para rimbawan untuk mendukung pariwisata alam ini diantaranya bersih-bersih sampah dan sosialisasi penanganan sampah di obyek wisata Tlogo Muncar Kaliurang, pada Rabu (14/03/2018).

Pada kesempatan itu selain bersih-bersih sampah di sekitar Tlogo Muncar juga dilakukan penanam oleh perawakilan dari beberapa UPT seperti TN Gunung Merapi, BPKH, KPH, BPDASHL SOP, BKSDA, P3EJ dan BBPPBPTH dan Dishut DIY.

Obyek wisata Kaliurang sendiri sebagian wilayahnya merupakan daerah penyangga karena letaknya berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Beberapa titik obyek wisata seperti Tlogo Muncar, Tlogo Putri dan Goa Jepang bahkan termasuk dalam kawasan.

Setelah penanaman, rimbawan diberikan sosialisasi pengolahan limbah sampah oleh Sugeng Wachyono dari P3EJ. Sugeng mengatakan bahwa didalam menangani sampah perlu diperhatikan 3R yaitu “Reduce, Reuse dan Recyle”.

Selain 3R juga dijelaskan bagaimana cara pemanfaatan sampah sekitar menjadi pupuk, seperti sampah organic menjadi pupuk organik, contohnya air bekas cucian beras yang dicampur dengan batang bonggol pisang bisa dibuat pupuk cair.(ds&mna)

 

 photo by doc. b2p2bpth/ds&mna