PERPUSTAKAAN DAN NEW NORMAL ERA

ADMIN | Senin , 19-Maret-2018

YOGYA (biotifor.or.id) - Dunia baru saja menghadapi era disrupsi dimana segala hal berubah begitu cepat tak terkecuali perpustakaan. Agar tidak ditinggalkan pemustakanya perpustakaan harus berbenah dan ikut berubah. Disrupsi mengubah tatanan lama dan melahirkan model bisnis baru dengan strategi yang lebih inovatif.

Ditengah terjadinya era disrupsi ini, sebagian masyarakat telah mulai beradaptasi dengan fenomena tersebut dan mulai memasuki era baru (New Normal Era). Era dimana orang-orang sudah terbiasa dengan kemudahan transportasi online, kemudahan transaksi online, kemudahan akses sumber daya informasi online dan penggunaan smartphone untuk melakukan kegiatan online.

Hal tersebut disampaikan Dra. Nawang Purwanti, M.Lib.  Kepala Perpustakaan UGM pada saat membuka acara Seminar Nasinal “Perpustakaan di Era Pasca Disrupsi” yang diselenggarakan di Perpustakaan UGM Gedung L1 Lantai 2 pada Selasa (13/3/2018).

Menurut salah seorang nara sumber, Ida Fajar Priyanto, mengatakan bahwa selama sekitar 20 tahun kita berada pada era disrupsi. Keadaan sekarang sudah normal kembali sehingga perpustakaan harus menyesuaikan diri dengan perilaku pemustaka yang sebagian besar adalah generasi milenia dengan menyediakan fasilitas kemudahan akses informasi.

“Perusahaan yang tidak melakukan digitalisasi akan ditinggalkan customernya demikian juga perpustakaan” kata Andang Ashari, nara sumber dari PT Infomedia Nusantara.

Andang menegaskan bahwa perpustakaan saat ini harus melakukan pelayanan perpustakaan dengan mengkombinasikan teknologi dengan 5 C yaitu Collection, Connection, Collaboration, Coffee dan Community.

Psikolog dan dosen UGM Dr. Neila Ramdhani, M.Si. M.Ed. mengatakan bahwa trik untuk menghadapi generasi milenial adalah kita perlu memberikan kesempatan dan mendengarkan mereka bercerita, karena kalau tidak mereka akan mencari tempat bercerita yang lain yang belum tentu sesuai dengan tatanan yang kita harapkan.

“Sebenarnya generasi milenial itu hidupnya penuh tekanan karena adanya persaingan mendapatkan informasi yang begitu cepat disekitar mereka, untuk itu perpustakaan harus dapat memberikan ruang dan kenyamanan bagi mereka,” tegas Neila.

Perpustakaan UGM sebagai sebuah perpustakaan perguruan tinggi ternama tentu sudah bersiap menyongsong hadirnya new normal era dengan melengkapi diri dengan fasilitas yang mendukung. Bagaimana dengan perpustakaan Lembaga Litbang seperti Perpustakaan Balai Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan ??? (EDL)