MENCARI JEJAK TANAMAN MENTAOK DAN TIMOHO DI JOGJA

ADMIN | Selasa , 10-April-2018

BANTUL (biotifor.or.id) – Mentaok dan Timoho adalah dua jenis tanaman yang sangat dekat dengan sejarah dan budaya masyarakat DIY. Hutan Mentaok merupakan lokasi berdirinya kerajaan Mataram Islam. Persebaran Mentaok dahulu cukup luas. Tidak hanya di Yogyakarta saja, tapi di beberapa daerah di Jawa Tengah.

Hal ini disampaikan Hendry saat berdiskusi dengan tim eksplorasi tanaman Mentaok dan Timoho tentang keberadaan jenis tersebut di Makam Raja-Raja Mataram, Kota Gede, Yogyakarta, Rabu (4/4/2018). Pada kesempatan itu Hendry ditemani oleh dua orang rekannya yaitu Ijan dan Nugroho, ketiga orang itu merupakan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.

Tim eksplorasi materi genetik jenis tanaman Mentaok dan Timoho Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta terdiri dari Lukman Hakim, Yuliah dan Peri Mandala Putra mengunjungi beberapa tempat di Kabupaten Bantul.

Kayu Mentaok dahulu sebagai bahan Warangka keris, karena sekarang sulit didapatkan maka beralih ke jenis kayu lainnya. Pohon Mentaok yang masih dapat dijumpai di daerah Bantul antara lain di  dalam Makam Raja-Raja Mataram dan Pasar Kota Gede dan di Desa Wonokromo,  Kec. Pleret, Kab. Bantul.

“Pohon induk Mentaok ini di bagian bawah tumbuh trubusan dan di sekitarnya terdapat anakan yang tumbuh liar,” ungkap Ijan.

Pohon Mentaok di Kota Gede dan di Desa Wonokromo tidak diketahui kapan buahnya masak untuk diunduh. Buah yang matang biasanya akan pecah dan bijinya tersebar. “Menghadapi kendala ini perlu pengumpulan anakan dengan teknik puteran di sekitar pohon induk dan pengambilan bahan vegetatif berupa trubusan untuk kita stek,” usul Lukman untuk memecahkan masalah ini.

Kayu Timoho bersifat lunak, mudah dibentuk dan memiliki corak khas berupa pelet juga merupakan bahan baku Warangka keris. Pohon Timoho dapat dijumpai di Desa Banyu Semurup, Kec. Imogir, Kab. Bantul dan Kantor Dishutbun DIY sekarang sedang berbunga, tapi masih muda.

Menurut Mas Agus pemilik pohon Timoho diperkirakan sekitar 2 bulan lagi baru matang buahnya. Sedangkan menurut Mbah Wuri, salah satu pengrajin Keris di Desa Banyu Semurup bahwa bahan baku kayu Timoho diperoleh dari Krakal dan Kukup, Kab. GunungKidul. “Berdasarkan informasi ini maka perlu dilakukan survey ke lokasi tersebut,” kata Yuliah.

Hasil pengumpulan anakan Timoho dan Mentaok tidak banyak. “Pengambilan materi vegetatif Mentaok dan anakan di Desa Wonokromo akan dilakukan setelah ada sungkup di persemaian B2P2BPTH. Sedangkan untuk pengunduhan benih Timoho ketika buah sudah masak,” ujar Peri.

Pada hari kedua, tim B2P2BPTH berkunjung ke kantor Dinas Kehutanan untuk bertemu dengan Kepala Balai Taman Hutan Raya (TAHURA).  Kedua belah pihak berdiskusi tentang rencana kerjasama dalam penanaman jenis-jenis tanaman langka dan khas DIY di Tahura pada akhir tahun 2018.

Materi diskusi  berupa Peraturan Gubernur DIY No. 5 tahun 2018 tentang Kerjasama Pemanfaatan Hutan Produksi dan Hutan Lindung serta Kerjasama dan Perizinan Pemanfaatan TAHURA. Berdasarkan pasal 17, maka Kepala B2P2BPTH selaku pemohon perlu mengajukan permohonan kerjasama kepada Gubernur.

“Surat permohonan dimaksud memuat tentang objek, luas areal, manfaat, bentuk, tahun angggaran dimulai dan jangka waktu kerjasama,” tutur Ir. Niken Aryani, MP selaku Kepala TAHURA Bunder.(lh)