KEBERHASILAN IMPLEMENTASI REDD+ DI INDONESIA DAPAT DI ADOPSI NEGARA LAIN

ADMIN | Rabu , 25-April-2018

YOGYA (biotifor.or.id) –“Kita mungkin berharap melihat keberhasilan implementasi REDD + di semua provinsi di Indonesia, dan bahkan pelajaran yang didapat dari Indonesia dapat diadopsi di negara lain”, Dr. Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) pada saat membuka Pre-Event of the 3rd Asia Pacific Rainforest Summit 2018 dengan tajuk “Scientific Dialogue on REDD+ Implementation at Sub-National Level” yang dihelat di Hotel Alana, Yogyakarta, (22/04).

“Oleh karena itu kami perlu menaruh perhatian dan upaya yang kuat untuk mensukseskannya”, tegas Agus.

Menurut Agus, bahwa dalam mempersiapkan REDD+ di tingkat nasional, dibutuhkan usaha yang terus-menerus, salah satunya adalah penyelenggaraan acara ini. Selain itu acara ini adalah bagian dari upaya kami untuk menjadikan REDD+ berhasil.

Namun, untuk itu harus maju bersama membuat REDD + diimplementasikan dan bermanfaat bagi semua pemangku kepentingan di tingkat nasional, sub-nasional dan lokal.

Agus menyampaikan terima kasih kepada CIFOR dan World Bank atas dukungan kuat mereka dalam penyelenggaraan pra-acara ini. Ia juga senang, karena kembali bertemu dengan orang-orang yang turut berjuang dalam penerapan REDD+ di Indonesia.

Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan penting untuk APRS 3rd, yang dilaksanakan dua hari setelahnya, yaitu 23-24 April 2018. Peserta yang hadir pada kesempatan ini terdiri dari berbagai kalangan, baik dari Kementerian dan Lembaga (K/L) maupun peneliti. Acara ini juga dihadiri oleh lembaga Center for International Forestry Research (CIFOR) dan World Bank.

Fokus pembahasan diskusi kali ini adalah pengalaman penerapan REDD+ di tingkat sub nasional, termasuk tantangan dan peluangnya. Dalam pembukaan, Dr. Agus Justianto, Kepala BLI mengatakan bahwa telah memahami bahwa REDD + menjadi skema penting untuk merekonsiliasi pembangunan ekonomi dan konservasi, khususnya dalam aksi mitigasi perubahan iklim, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. (***MNA)

 

Editor : Priyo Kusumedi

 

 

Foto dok. B2P2BPTH/nurdin