INDONESIA BERSAMA NEGARA-NEGARA DI KAWASAN ASIA PASIFIK BERKOMITMEN MENJAGA HUTAN HUJAN TROPIS

ADMIN | Rabu , 25-April-2018

YOGYA (biotifor.or.id) – Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara di kawasan Asia Pasifik yang memiliki hutan hujan tropis (Asia-Pacific Rainforest Summit - APRS) ke-3 tahun 2018, berlangsung di Hotel Alana Yogyakarta, Senin, (23/4/2018). Acara ini merupakan pertemuan penting yang membicarakan arah kebijakan pelestarian hutan hujan tropis dunia.

Tema Asia-Pacific Rainforest Summit ke-3 tahun 2018 ini adalah ‘Protecting Forests and People Supporting Economic Growth’. Dari pertemuan APRS III ini, Indonesia bersama negara-negara di kawasan Asia Pasific berkomitmen untuk menjaga hutan hujan tropis.

Menteri Lingkungan Hidup dan Energi Australia, Josh Frydenberg menyampaikan bahwa, menjaga hutan hujan tropis Asia-Pasifik merupakan hal yang penting untuk menjaga komitmen, mengendalikan perubahan iklim dan juga mendukung negara-negara sahabat untuk mencapai tujuan keberlanjutan ekonomi.

“Hutan hujan tropis menyimpan 25% stok karbon dunia, dan kawasan Asia-Pasifik merangkul 740 juta Ha hutan dunia, ini mewakili 26% daratan dan 18% tutupan hutan”, tambahnya.

Josh melanjutkan bahwa pada tahun 2017, pendanaan hijau atau Green Climate Fund telah mencapai kesepakatan untuk melakukan program percontohan (pilot project) sebesar AUS$ 500 juta untuk REDD+. Ada tujuh negara yang telah bekerjasama dengan Australia dalam implementasi REDD+ ini yaitu Indonesia, Laos, Myanmar, Papua New Guinea, Kamboja, Malaysia, dan Vietnam yang juga telah memasukkan data referensi kehutanan mereka ke UNFCC sebagai dasar ukur dalam pencapaian penurunan deforestasi dan degredasi hutan.

Josh juga menekankan betapa pentingnya kolaborasi aktif antara pemerintah dengan sektor swasta. Di bawah perjanjian Paris Australia berkomitmen melalui pendanaan, untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26-28% dari kondisi di tahun 2005 dan mentargetkannya pada tahun 2030.

Senada dengan Josh, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengatakan bahwa hutan hujan tropis, menghasilkan banyak hal termasuk keanakaragaman hayati. Bila kita melihat Sustainable Development Goals (SDGs), maka hutan memiliki peran untuk mencegah perubahan iklim, sumber air, makanan, energi, kesehatan bahkan ekosistem kawasan, bahkan ekonomi masyarakat.
 
Siti Nurbaya melanjutkan, bahwa pertemuan ini akan membahas tujuh topik penting mulai dari Hutan dan target NDC, Restorasi dan Manajemen Keberlanjutan Gambut, Mangrove dan Karbon Biru, Perhutanan Sosial, Ekoturisme, Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Pembiayaan Kehutanan, Investasi dan Perdagangan, yang semuanya bernaung dalam tema pertemuan tahun 2018 ini dengan tujuan menjaga keberadaan hutan tropis dan pemanfaatkan berkelanjutan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Dalam konferensi pers, Siti Nurbaya juga menjelaskan bahwa hutan Indonesia, berkontribusi sebesar setengah dari target NDC, yaitu mengurangi 29% emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada 2030, dimana hutan menyumbangkan 17,2% pada target ini.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir ini, Indonesia berhasil mengurangi deforestasi dari 1,09 juta Ha, dan turun menjadi 0,61 juta Ha, dan akan berupaya menurunkannya menjadi 0,45 juta Ha saja pada 2020, serta 0,35 juta Ha pada 2030.

Sementara itu Wakil Gubernur D.I. Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X dalam sambutannya mengatakan bahwa, hutan merupakan pengatur iklim mikro dan penjaga plasma nutfah, yang diberikan Tuhan untuk memberi kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

“Saya berharap pertemuan menjadi momentum yang baik untuk meningkatkan kesadaran global tentang mitigasi perubahan iklim dan peran penting hutan dalam perubahan iklim”, harapnya.

Bersamaan dengan acara itu juga dilmeriahkan dengan adanya pameran yang menampilkan pavilion Kementerian LHK, Cifor, Dinas Kehutanan DIY dan beberapa mitra.  Pada hari ke-3, Rabu, (25/4/2018) dilaksanakan field trips dengan tujuan yaitu Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan KPHP Kayu Putih. (***MNA)

 

Editor : Priyo Kusumedi

Foto dok. B2P2BPTH/nurdin