PERSEMAIAN TANAMAN LANGKA KHAS DIY, LABORATORIUM ALAM MINI KEANERAGAMAN HAYATI TINGKAT DIY

ADMIN | Rabu , 9-Mei-2018

YOGYA (biotifor.or.id) – “Persemaian tanaman langka khas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini bisa sebagai laboratorium alam keaneragaman hayati mini di tingkat DIY, sebagai tempat penelitian maupun wisata ilmiah bagi para pelajar dan mahasiswa yang datang ke kantor B2P2BPTH,” ujar Lukman Hakim, S.Hut, MP, saat berdiskusi dengan anggota tim Pengelolaan Pengembangan Jenis Khas DIY di persemaian, Selasa (17/04/2018).

Lebih lanjut Lukman menjelaskan bahwa persemaian merupakan tempat memproses benih (bahan generatif) atau  bahan vegetatif (pucuk, batang, atau akar) untuk menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Salah satu persemaian yang ada di kantor B2P2BPTH Yogyakarta adalah jenis tanaman langka khas DIY.

“Kegiatan pengumpulan materi genetik, pembuatan bibit dan penyebarluasan jenis tanaman khas DIY ke masyarakat sudah berlangsung sejak tahun 2008 sampai dengan sekarang,” kata penanggung jawab Pengelolaan Pengembangan Jenis Tanaman Langka Khas DIY pada tahun 2018 ini.

Setelah ditunjuk sebagai penanggung jawab, tugas pertama yang dijalankan adalah melakukan pemeliharaan persemian yang terletak di tengah Arboretum sebelah utara Gedung kantor B2P2BPTH. Kegiatan pemeliharaan persemaian yang utama adalah pembersihan dari rumput atau tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar bedengan maupun di polibag sebagai pesaing bibit.

“Selain itu, menghitung jumlah bibit masing-masing jenis agar kita bisa mengetahui kegiatan penelitian yang bisa dikerjakan dari bibit yang tersedia,” kata Lukman.

Hasil kegiatan pemeliharaan persemaian dan pendataan menunjukan jumlah jenis tanaman khas DIY ini sebanyak 48, dimana tiap jenis tidak sama jumlahnya. Ada yang lebih dari seratus, namun ada juga yang tidak sampai 10 bibit.

“Dari 48 jenis, yang jumlahnya cukup sebagai bahan untuk diteliti hanya 26 jenis, diantaranya Nogosari Putih, Kepel, Nam-nam dan Pronojiwo. Pada akhir tahun, sebagian akan digunakan sebagai materi uji jenis di Tahura Bunder,” tambah Peneliti Muda di Kelti KSDG ini.

Menurut Yuliah, “Beberapa kegiatan penelitian yang bisa dilakukan antara lain teknik propagasi baik mikro maupun makro, perlakuan dosis pupuk dan lain-lain. Analisis DNA untuk menjawab jenis Mentaok (Wrightia javanica) yang merupakan sinonim dari Wrightia pubescens subsp. Laniti juga perlu dilakukan.”

Berdasarkan hasil diskusi ini, menurut Yayan Hadiyan bahwa materi genetik yang cukup banyak, kegiatan ini bisa melibatkan mahasiswa yang magang atau mengerjakan skripsi.(LH&MNA)

 

Editor : Nunuk Tri R.