TULISAN ILMIAH, HASIL KERJA MINIMAL SEORANG PENELITI

ADMIN | Jumat , 20-Juli-2018

CIBINONG (biotifor.or.id) _Mengacu pada Nawa Cita, terutama pada butir ketiga, “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan,” maka paket Iptek hasil riset harus mampu diimplementasikan sampai ke tingkat desa/daerah tertingal. Dengan paket Iptek dari lembaga litbang yang komprehensif ini diharapkan daerah tertinggal dapat cepat mandiri.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Bambang Subiyakto dalam pembukaan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Teknis Penulisan Ilmiah (KTI Nasional) Gelombang II di Kantor Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) Peneliti, LIPI, Cibinong, Selasa (10/07/2018).

Selain hasil riset harus dapat diimplemtasikan di lapangan dalam bentuk paket iptek yang integratif, para peneliti juga dituntut untuk dapat menghasilkan publikasi ilmiah di tingkat internasional.”Kita masih kalah dengan para peneliti Thailan dan Malaysia dalam menghasilkan publikasi ilmiah baik nasional maupun internasional,” ujar Wakil kepala LIPI ini.

Pada akhir sambutanya, Bambang membagi pengalaman pribadinya dalam proses belajar menulis ilmiah.”Ibarat belajar naik sepeda, pada awalnya akan jatuh bangun. Namun harus terus berjuang sampai bisa mengendarai sepeda dengan lihai. Sabar hati dan tidak mudah putus asa untuk mengasah kemampuan menulis ilmiah, adalah salah satu kunci suksesnya.”

Penyelenggaraan Diklat ini merupakan hasil kerjasama antara Pusbindiklat Peneliti-LIPI dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Menristek Dikti selama 4 hari mulai tanggal 10 sd 13 Juli 2018. Peserta berjumlah 30 orang peneliti pertama dan peneliti muda yang berasal dari Lembaga Litbang di bawah Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian.

Menurut Ika Susanti, M.M. selaku Ketua penyelenggara, bahwa tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan motivasi para peneliti dalam mempublikasikan hasil penelitian dalam jurnal ilmiah nasional terakreditasi. Sedangkan sasaranya agar mampu merevisi artikel sesuai dengan kaidah ilmiah dalam penulisan jurnal nasional terakreditasi.

“Beberapa materi diklat antara lain Etika Publikasi dan Hak Cipta, Startegi Menulis di Jurnal Terakreditasi, Praktek Revisi Arikel (bimbingan), Pengarahan Program dan Evaluasi Program, dan Manajemen Referensi dan Pengecekan Plagiat,” kata Kabid Penyelenggaraan Diklat ini.

Lukman Hakim, S.Hut,MP sebagai wakil B2P2BPTH Yogyakarta menyampaikan artikel berjudul “Keragaman Kandungan Lemak Nabati Spesies Shorea Pengahsil Tengkawang dari Beberapa Provenans dan Ras Lahan.” Artikel ini telah di-submit ke Jurnal Ilmu Kehutanan UGM dan sudah pada tahap editing.

Diklat ditutup oleh Ratih Retno Wulandari M.Si pada Jumat (13/07/2018). “Kemampuan dalam menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) adalah merupakan kompetensi utama dan merupakan output kinerja pagi para peneliti.”

Modal yang sudah didapatkan para peserta di Diklat ini diharapkan dilanjutkan di tempat kerjanya masing-masing dengan model pengembangan kompetensi lainya seperti coaching, sharing, dan mentoring dengan para peneliti senior.

“Standar kompetensi penulisan ilmiah sebagai syarat jabatan fungsional peneliti yang lebih dikenal dengan Hasil Kerja Minimal (HKM) secara umum ada dua, yaitu kemampuan melakukan penelitian sesuai kaidah ilmiah dan kemampuan mengkomunikasikannya baik oral maupun tulisan,” tutup PLT Kapusdindiklat Peneliti ini. (LH)