BIO-BASE ECONOMY, PELUANG PEMANFAATAN KEKAYAAN ALAM INDONESIA DI ERA REVOLUSI INDUTRI 4.0.

ADMIN | Senin , 30-Juli-2018

YOGYAKARTA (biotifor.or.id)_Bio-based economy adalah paradigma yang menggunakan konsep ekologi dalam perekonomian. Lingkupnya meliputi produksi komoditas dengan bahan baku alam, hemat energi, dan memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai tambah.

Hal ini disampaikan Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku Dekan Fakultas Biologi UGM dalam pembukaan Seminar Nasional Biotropika 2018 di Auditorium Fakultas Biologi UGM, Sabtu (28/07/2018).

Menurut Prof. Dr. Ir. Yusman Syaukat, paradigma ini telah berkembang menjadi strategi pembangunan ekonomi alternatif dan sudah diaplikasikan oleh 40 negara.

“Indonesia sebagai negara mega bio-diversities semestinya mampu mengembangkan paradigma baru ini dalam sistem pembangunan dengan memanfaatkan kekayaan alam, baik flora maupun fauna yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Guru besar IPB saat plenary session.

Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc selaku Keynote speech yang lain berpendapat pada era revolusi industri 4.0, riset dan sumber daya manusia yang inovatif memegang peranan penting agar mampu mendisrupsi pasar, termasuk inovasi berbasis bio seperti flora, fauna, dan mikroorganisme yang ada di hutan tropis Indonesia.

“Indonesia dengan 70% wilayah perairan, Mikroalga sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam industri pangan, pakan, energi, farmasi, dan biomaterial,” kata dosen Fakultas Biologi UGM ini.

Seminar Nasional Biologi Tropika ini diselenggarakan setiap tahun, tema pada tahun 2018, “Pemanfaatan Biodiversitas Tropika untuk Mewujudkan Bio-Based Economy.” Pada plenary session menampilkan empat Keynote speech, dua dari Perguruan Tingggi, satu wakil Pemerintah, dan satu dari perusahaan.

Bambang Riznanto, S.T.,M.T. yang mewakili Menteri Perindustrian menyampaikan, di era Revolusi Industri 4.0., Kementerian Perindustrian telah menerbitkan Roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0.

“Presiden Jokowi berharap sektor Industri era ini dapat penciptaan lapangan kerja dan investasi baru yang berbasis teknologi lebih banyak,” kata Kabid Pengkajian dan Penerapan Teknologi Industri pada Puslitbang Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual.

Sedangkan Dr. Harry Murti dari PT. Kalbe Farma menyampaikan salah satu tantangan dalam penerapan bio-based economy adalah tuntutan untuk memenuhi standard baku industri biopharmaceutical.

Diperlukan penelitian dan inovasi yang mendukung hilirisasi dan komersialisasi produk yang berbasis bio-based economy. Selain itu, sinergi antara Pemerintah, akademisi, dan industri diperlukan agar dapat menstimulasi pemanfaatan keaneragaman hayati dengan bijak dan berkelanjutan,” tutup Harry.

Peserta Seminar Nasional Biologi Tropika 2018 merupakan mahasiswa, akademisi dan peneliti dari Perguruan Tinggi dan lembaga Litbang. Lukman Hakim, S.Hut,MP sebagai peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta menyampaikan artikel berjudul “Potensi Jenis-Jenis Shorea Penghasil Tengkawang.”

Menurut Lukman, Dipterocarpaceae, merupakan suku terpenting flora hutan tropis Indonesia, dimana marga Shorea spp yang dominan. Terdapat 13 jenis Shorea penghasil tengkawang yang tersebar di hutan alam tropis Kalimantan dan Sumatera.

Buah tengkawang merupakan mascot Kalimantan Barat, jenis asli dan primadona komoditas eksport ke Malaysia sebagai bahan baku industri kosmetik, obat-obatan, subtitusi lemak coklat, lemak nabati, bahan pembuatan lilin, sabun, margarin, minyak pelumas. Masyarakat suku Dayak menyebutnya sebagai pohon kehidupan,” kata peneliti Konservasi Sumberdaya Genetik ini.

Nilai ekonomi yang tinggi, nilai ekologi sebagai jenis endemik serta peningkatan penguasaan teknik budidaya dan pengolahan pasca panen pada petani tengkawang merupakan potensi pengembangan dalam program rehabilitasi kawasan hutan/lahan. Beberapa kegiatan rehabilitasi tersebut antara lain Hutan Rakyat, Hutan Kemasyarakatan maupun Hutan Tanaman Industri dengan benih hasil pemuliaan.

“Pada era industri 4.0. dan era digital ini, para petani tengkawang dengan pendampingan oleh pemerintah diharapkan dapat mendistrub pasar atau langsung menjual hasilnya kepada industri tanpa melewati tengkulak. Dengan demikian, harga bisa bersaing dengan produk kelapa sawit dan karet yang merupakan produk saingannya,” kata Lukman.

Salah satu rekomendasinya, Lukman berharap agar Pemerintah mengeluarkan aturan dalam pembangunan HTI mengunakan tanaman pokok dari suku Dipterocarpaceae, khususnya jenis penghasil tengkawang (70%). Selain itu, membangun pabrik olahan produk turunan buah tengkawang sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai komoditas eksport. (LH)

Editor: Nunuk Tri Retnaningsih