B2P2BPTH DUKUNG UPAYA PENEGAKAN HUKUM BAGI KEJAHATAN KEHUTANAN MELALUI DNA FORENSIK

ADMIN | Senin , 10-Sept-2018

YOGYA (biotifor.or.id) - “Sebagai lembaga riset, kami, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) bekerjasama dengan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan serta United Nation Development Program (UNDP) mendukung upaya penegakan hukum bagi perdagangan ilegal terhadap satwa dan flora dilindungi di Indonesia melalui kegiatan pelatihan ini,” ujar Ir. Tandya Tjahjana, M.Si.

Hal itu disampaikan oleh Kepala B2P2BPTH, saat memberikan sambutan pada Pelatihan Pengambilan dan Penanganan Sampel Barang Bukti untuk Tujuan Test DNA Forensik, di Swiss Belboutique Hotel Yogyakarta, Kamis (06/09/2018).

Lebih lanjut Tandya menyampaikan bahwa saat ini perburuan ilegal terhadap satwa/fauna dan flora yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia semakin marak. Berbagai macam cara sudah dilakukan Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk melindungi satwa-satwa dari perburuan atau perdagangan ilegal dan flora khususnya dari pembalakan liar (illegal logging).

“Masih banyak ditemukan kasus perburuan atau perdagangan ilegal beserta barang buktinya. Tidak mudahnya membuktikan adanya perburuan atau perdagangan ilegal tersebut salah satunya disebabkan karena penanganan barang bukti yang belum optimal,” tambah Tandya.

Untuk itu diperlukan pengetahuan yang cukup bagi para petugas lapangan yang menemukan atau mengambil barang bukti sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Petugas juga harus tahu bagaimana cara menyelamatkan barang bukti, sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti yang kuat, dan dapat dibuktikan kebenarannya secara hukum untuk proses peradilan di pengadilan.

Senada dengan Tandya, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Ditjen Gakkum KLHK, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si, menyampaikan bahwa kunci penegakan hukum kejahatan kehutanan tidak hanya sebatas melakukan penangkapan terhadap pelaku.

“Pembuktian atas kejahatannya adalah hal yang tidak kalah penting. Diperlukan profesionalisme dan kecermatan bagi para penegak hukum baik polhut maupun penyidik dalam mengkonstruksikan sebuah kasus menjadi sebuah penuntutan yang secara yakin dapat dimenangkan dan memberikan efek/sanksi yang memberikan efek jera pelaku,” tegas Sustyo.

Sustyo melanjutkan, selain dengan metode lacak balak, pengujian DNA Forensik khususnya Tumbuhan Satwa Liar (TSL) akan memberikan keakuratan pembuktian suatu kasus yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah/scientific base.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan para petugas lapangan di lingkup Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Direktorat Penegakan Hukum Pidana, Direktorat Konservasi Kenaekaragaman Hayati dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, yang ditugaskan ke lapangan, baik untuk patroli maupun penanganan kasus dengan penemuan barang bukti baik flora maupun fauna.

Melalui kegiatan ini diharapkan, 1) Peserta memahami peraturan dan perundangan yang berhubungan dengan perdagangan flora dan fauna ilegal; 2) Peserta mengetahui sampel flora dan fauna untuk tujuan DNA forensik; 3) Peserta mengetahui metode pengambilan dan penanganan sampel flora dan fauna untuk tujuan DNA forensik.

Kegiatan pelatihan diselenggarakan selama dua hari, yakni pada Hari Kamis dan Jumat tanggal 6 dan 7 September 2018. Hari pertama disampaikan paparan teori oleh para narasumber yang berasal dari PUSLABFOR POLRI, Lembaga EIJKMAN, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fakultas Kehutanan UGM dan B2P2BPTH.


Pada kesempatan itu peneliti B2P2BPTH yang meyampaikan paparan adalah ILG.Nurtjahjaningsih, Ph.D, materi yang disampaikan adalah Dasar Identifikasi Jenis dan Populasi /Asal-usul Menggunakan Penanda DNA. Berikutnya adalah Dr. Ir. AYPBC. Widyatmoko, M.Agr. membawakan materi Identifikasi Jenis dan Asal-usul Sampel Flora (Kayu) Menggunakan Penanda DNA.

Hari kedua dilaksanakan praktek lapangan dengan narasumber beberapa peneliti B2P2BPTH. Praktek pengambilan dan penanganan sampel dilaksanakan di arboretum. Sampel yang telah diambil kemudian dibawa ke laboratorium Genetika Molekuler, di situ peserta melihat bagaimana peneliti melakukan analisis DNA.

Peserta pelatihan sejumlah 35 orang dari berbagai instansi lingkup Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan yaitu dari Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Direktorat Penegakan Hukum Pidana, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, serta Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK.(mna)

 

Editor : Nunuk TR

Foto : Dokumentasi B2P2BPTH