FILOSOFI KI HADJAR DEWANTARA MASIH RELEVAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN GENERASI MILENIAL

ADMIN | Selasa , 2-Okt-2018

YOGYA (biotifor.or.id) - Bonus demografi di Indonesia yang diperkirakan pada kurun waktu tahun 2025-2035 memiliki potensi positif dan harus digarap serius. Generasi milenial dan generasi Z yang jumlahnya cukup banyak pada era itu jika didukung oleh sistem pendidikan yang tepat akan dapat mewujudkan Negara Indonesia yang maju dan mandiri.

Hal ini disampaikan Prof. Ir. Rochmadi, S.U., Ph.D. selaku Keynote Speaker dalam Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST) 2018 di Kampus Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta, Sabtu (15/09/2018).

“Sistem pendidikan yang tepat bagi mereka dengan filosofi pendidikan KI Hadjar Dewantara ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani masih relevan yang digabungkan dengan sistem pendidikan 4.0.,” ujar Guru besar Teknik Kimia UGM ini.

Lebih lanjut, sistem pendidikan 4.0. (heutagogi) ini memungkinkan tatap muka antara dosen dengan mahasiswa digantikan dengan teleconference, modul online, waktu pembelajaran yang fleksibel dengan didukung oleh fasilitas dengan teknologi informasi yang memadai.

Tema SNAST 2018 adalah “Aplikasi Sains dan Teknologi yang Berwawasan Lingkungan untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa diikuti oleh para dosen dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi baik di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta, peneliti, praktisi industri, dan pengambil kebijakan di bidang industri.

Sebagai Invited Speaker adalah Ir. Sugeng Riyadi, MM, mantan Direktur Operasi Pertamina Drilling Services Indonesia menyampaikan bahwa karakteristik usaha hulu minyak dan gas (migas) antara lain resiko tinggi, padat modal, waktunya panjang, dan menggunakan teknologi tinggi dan muktahir.

“Negara Indonesia memiliki kekayaan migas yang sangat besar, oleh karena itu karakteristik usaha hulu di sektor migas ini harus dapat ditangani oleh sumberdaya manusia Indonesia sendiri agar dapat terwujud negara yang makmur,” tegas alumni AKPRIND ini.

Setelah ISHOMA, digelar Parallel Session, Lukman Hakim, S.Hut,MP., sebagai peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta menyampaikan artikel berjudul, “Pranajiwa (Euchresta horsfieldii (Lesch), Jenis Tanaman sebagai Bahan Baku Obat Herbal Potensial.”

Menurut Lukman, Pranajiwa merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat herbal, terutama obat penyegar kesehatan seperti halnya purwoceng yang sudah sangat terkenal. Namun disayangkan, penelitian jenis ini masih sangat terbatas.

“Tanaman ini termasuk jenis langka yang disebabkan eksploitasi di alam yang tinggi serta tidak diimbangi dengan kegiatan budidaya. Berdasarkan status kelangkaan ini, maka jenis ini termasuk yang akan ditanam dalam plot konservasi ex-situ di Taman Hutan Raya (TAHURA) Bunder, Gunungkidul pada akhir tahun 2018,” kata peneliti konservasi sumberdaya genetik ini.

Penelitian ini ingin mengetahui lebih jauh tentang status riset jenis ini dengan metode review pustaka dari buku, prosiding, jurnal baik cetak maupun online. Penelitian ini didukung data hasil evaluasi bibit di persemaian B2P2BPTH Yogyakarta dengan parameter diameter, tinggi dan kekokohan bibit.

“Hasil evaluasi bibit di persemaian diperoleh rata-rata diameter sebesar 0,78 cm, rata-rata tinggi 65,58 cm, dan rata-rata kekokohan bibit 8,4. Data 3 parameter ini menunjukkan bibit sudah siap tanam dengan memilki kekokohan yang tinggi,” tutup Lukman.

Plot konservasi ex-situ jenis-jenis tanaman langka di TAHURA Bunder diharapkan sebagai sumber benih. Selain itu kegiatan ini merupakan upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati untuk pemanfaatan lebih lanjut baik dari aspek sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Yogyakarta di masa depan. (LH)