MENUJU KEJAYAAN KEHUTANAN INDONESIA DI TAHUN 2045

ADMIN | Rabu , 7-Nov-2018

YOGYAKARTA (biotifor.or.id) - “Dari sisi input mahasiswa, kita unggul secara akademik. Dari sisi proses, kita unggul karena berbagai akreditasi BAN PT dan internasional telah dilakukan dan pendukung untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang prima. Sedangkan output yang baik ditunjukkan dengan predikat kelulusan dan masa studi yang semakin pendek. Hal yang di luar kendali kampus adalah outcome atau impact-nya tidak sepenuhnya berdampak positif bagi perbaikan kondisi sumber daya hutan.”

Hal ini disampaikan Dr. Budiadi, S.Hut, M.Agr.Sc dalam Laporan Tahunan Fakultas Kehutanan (FKT) UGM Tahun 2018 di hadapan Civitas Akademika yang merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Dies Natalis FKT UGM ke-55 di Auditorium FKT UGM Yogyakarta, Jum’at (26/10/2018).

Keprihatinan Dekan FKT UGM terhadap fenomena pengelolaan hutan Indonesia yang kurang menggembirakan. Upaya FKT UGM dalam meluluskan para Sarjana Kehutanan dengan beberapa indikator kelulusan yang baik terus dilakukan, namun di sisi lain kinerja sektor kehutanan secara nasional semakin menurun.

Kondisi inilah yang mengilhami tema Dies Natalis tahun 2018 ”MENUJU KEJAYAAN KEHUTANAN INDONESIA.” “Hal ini merupakan upaya reorientasi pembangunan hutan menuju 1 abad kemerdekaan Indonesia pada tahun 2045 dengan memandang positif dan penuh optimisme akan pentingnya hutan sebagai sistem penyangga kehidupan,” kata Budiadi.

Penurunan kinerja sektor kehutanan juga diakui oleh Ir. Hartono, M.Sc selaku Ketua Kagamahut dalam Pidato Dies. Penurunan luas kawasan hutan Indonesia pada awal tahun 1980 berdasarkan THGK seluas 147,0 juta hektar. Luas hutan menjadi 135,98 juta hektar berdasarkan peta RTRWP pada era 1990, dan menurun lagi menjadi 120,6 juta hektar yang tertuang dalam RKTN 2011-2030.

“Penurunan luas kawasan hutan juga diiringi dengan turunnya kinerja ekonomi sektor kehutanan jika diukur dalam konstribusi terhadap PDB yang hanya 0,67% pada tahun 2017 serta penyediaan lapangan kerja yang tahun 2011 hanya 0,4% secara nasional,” kata Sekretaris BRG ini.

Walau menyumbangkan GDP dan lapangan kerja yang rendah, hutan memiliki nilai-nilai jasa ekosistem sebagai penopang dengan dampak multiplier yang besar bagi pembangunan infrastruktur dan mendukung sektor pemukiman, pertanian, pertambangan, perairan, transportasi, serta penghasil pangan, energi, air, obat-obatan, dll.

Rangkaian penyelenggaraan Dies Natalis sekaligus Reuni Akbar 5 tahunan FKT UGM 2018 dimulai dengan pertandingan tiga cabang olah raga, meliputi Tenis Lapangan, Badminton dan Tenis Meja yang diikuti oleh instansi Kehutanan lingkup DIY pada bulan September dan awal Oktober 2018. Selain itu ada Seminar Nasional Research Update yang diselenggarakan pada tanggal 25 Oktober 2018.

Menurut Prof. Dr. Ir. Muhammad Na’iem, M.Agr.Sc bahwa penelitian SILIN ini dimulai tahun 1995 dan dikembangkan pada tahun 2005 dalam skala pilot project di 6 HPH model yaitu PT. SBK, PT. SJM, PT. EJ, PT. Sarpatin, PT. BFI dan PT. Ikani. Hasil aplikasi teknik silvikultur intensif ini di lapangan menunjukan peningkatan efisiensi dalam penggunaan lahan secara luar biasa.

”Dengan meningkatnya potensi hutan, maka luas areal hutan alam yang digunakan sebagai fungsi produksi kayu tidak perlu terlalu luas, cukup sekitar 20% dari luas areal konsesi. Sehingga areal untuk konservasi genetik dan jasa lingkungan menjadi sangat luas,” kata Guru Besar Pemuliaan Pohon sebagai salah satu keynote speaker Semnas ini.

Dr. Hero Marhaento, S.Hut, M.Si sebagai keynote speaker lainnya mengatakan bahwa keberadaan kebun sawit monokultur di dalam kawasan hutan mempengaruhi lanskap ekosistem hutan alam yang heterogen menjadi agroekosistem baru yang menimbulkan dampak pada skala tapak maupun skala lanskap. Hal ini tentu berakibat pada penurunan kualitas fungsi ekosistem hutan sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan keaneragaman hayati, potensi sebagai konstributor emisi gas rumah kaca terutama di hutan rawa gambut, dan lebih jauh lagi akan memperlambat capaian target reduksi gas rumah kaca yang ditetapkan dalam NDC.

Solusi atas ekspansi sawit ke kawasan hutan di Sumatera sudah disampaikan oleh Alm. Prof. Dr. Ir. Suhardi dengan mencampur tanaman sawit dengan meranti pada awal tahun 2000. Kegiatan penelitian ini dilakukan di Kampus Lapangan Jambi dengan mengembangkan teknik rehabilitasi hutan tropis basah sekunder dengan hasil yang cukup prospektif baik secara ekonomi maupun ekologi.

Dalam rangkain penyelenggraan Dies Natalis FKT UGM, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan. B2P2BPTH menjadi juara 2 Tenis Lapangan dan juara 3 Badminton. Sedangkan Lukman Hakim, S,Hut, MP menjadi salah satu pemakalah dalam Semnas dengan membawakan makalah berjudul, ”Evaluasi Lima Bibit Jenis Tanaman Obat di Tingkat Persemaian.”

Perubahan paradigma pengelolaan hutan yang beroreantasi kayu menjadi berbasis ekosistem menempatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai produk hutan unggulan dalam industri kehutanan, termasuk jenis-jenis penghasil bahan obat-obatan tradisional.

“Tanaman penghasil obat-obatan seperti Kemuning, Temurui, Kuntobimo, Sala dan Salam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat herbal. Kelima jenis tanaman ini termasuk yang akan ditanam di plot konservasi ex-situ di Taman Hutan Raya Bunder, Gunungkidul pada akhir tahun 2018,” kata Lukman.

Hasil evaluasi terhadap lima jenis bibit di persemaian menunjukan bibit siap tanam berdasarkan urutan terbaik adalah Sala, Salam, dan Kemuning. Sedangkan Temurui dan Kuntobimo perlu tindakan pemeliharaan yang intensif, terutama pemupukan agar pada akhir tahun 2018 siap tanam di lapangan.