BERSINERGI UNTUK MEMECAHKAN MASALAH DALAM ANTISIPASI DAN MITIGASI BENCANA

ADMIN | Senin , 3-Des-2018

YOGYA (biotifor.or.id) – “Konferensi ini penting untuk diadakan, yang memungkinkan semua pemangku kepentingan termasuk peneliti, akademisi, sektor swasta, pembuat kebijakan dan para pihak berbagi ide dalam merumuskan temuan penelitian dan memecahkan masalah mengenai antisipasi dan mitigasi bencana,” kata Dr. Syaiful Anwar, Kepala Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim, ketika mewakili Kepala BLI memberikan sambutan pada Joint International Conference (JIC) On Hydro-Meteorological Disaster Mitigation Under Global Change, di Auditorium Merapi UGM, Kamis (29/11/2018).

Menurutnya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan output yaitu metode untuk mengurangi bencana, kebijakan untuk mengurangi bencana dan dampak bencana, penyediaan spesies adaptif dan diadakannya hutan tanaman dengan spesies yang secara genetik telah dimuliakan untuk menghindari/tahan terhadap bencana alam.

Menurut Syaiful, tema Mitigasi Bencana Hidro-meteorologi dalam Perubahan Global secara khusus dipilih dengan mempertimbangkan lokasi Indonesia yang ada di Cincin Api Pasifik, dan 90% wilayah Indonesia rawan gempa bumi. Indonesia juga berada di khatulistiwa, di mana bencana hidrometeorologi juga rentan terjadi. Selain itu, kebakaran hutan yang terjadi di kawasan hutan Indonesia menjadi semakin rumit untuk ditangani.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 2018, tsunami menghantam Palu, Donggala dan Mamuju di Sulawesi Tengah, dipicu oleh gempa berkekuatan 7,4 SR. Gempa itu tidak hanya menyebabkan menyebabkan tsunami namun juga likuifaksi.

Badan Nasional Penganggulangan Bencana atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan bahwa setidaknya 2.000 orang telah tewas, lebih dari 4000 luka-luka, sekitar 1300 hilang dan lebih dari 200.000 orang mengungsi. Menyusul gempa bumi dan tsunami, sejumlah besar tanah yang mengalami likuifaksi telah melanda beberapa daerah di Sulawesi Tengah yang dikhawatirkan menewaskan sekitar 2.000 orang di kecamatan Petobo.

Lebih lanjut Syaiful menerangkan, musim hujan atau kering yang ekstrim menyebabkan fenomena El Nino atau La Nina yang berpengaruh terhadap masa panen tanaman pangan, memicu inflasi dan memberikan tekanan keuangan yang parah pada segmen miskin penduduk Indonesia.

Terletak di daerah dengan tingkat aktivitas tektonik yang tinggi, Indonesia harus menghadapi risiko konstan letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir dan tsunami. Indonesia perlu mengantisipasi bencana alam yang menghancurkan yang mengakibatkan kematian ratusan ribu jiwa manusia dan hewan, ditambah memiliki efek merusak pada lahan termasuk infrastruktur, dan dengan demikian mengakibatkan membengkaknya biaya ekonomi.

Sementara itu, Prof. Suratman, Kepala Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) mengatakan, pemanasan global dan perubahan iklim sering terkait erat dengan bencana Hidro-Meteorologi yang terjadi di seluruh dunia.

“Salah satu fenomena yang dipengaruhi oleh pemanasan global adalah perubahan pola cuaca. Fenomena ini secara langsung mempengaruhi manusia. Perubahan cuaca mempunyai pola yang tidak dapat diprediksi, jumlah dan intensitas curah hujan, dan yang paling memprihatinkan adalah kelangkaan air,” papar Prof. Suratman. Sebagai konsekuensi dari perubahan iklim, bencana semakin sulit dihindari, dan dapat menyebabkan kerugian tidak hanya materi tetapi juga kerugian immaterial.

JIC diselenggarakan oleh KLMB, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Republik Indonesia.  Beberapa UPT di bawah BLI yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini adalah UPT yang mendapat predikat sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI), yaitu P3SEKPI, B2P2BPTH Yogyakarta, BP2TPDAS Solo dan BP2THHBK Mataram.

Salah seorang keynote speaker pada konferensi ini adalah Dr. Rina Laksmi Hendrati, peneliti B2P2BPTH. Pada paparannya membawakan makalah dengan judul Re-vegetation of Genetically Improved Species to Mitigate  Hydrometeorological  Disaster. Selain itu juga menghadirkan Prof. Ludwig Ellenberg dari Humboldt University-Berlin dan Prof. Seca Gandaseca dari Universiti Putra Malaysia. Konferensi dihadiri lebih dari 120 peserta yang berasal dari KLHK, UGM, BNPB dan beberapa pihak terkait.(mna)

 

Editor : Nunuk Tri R.

Foto : Dok. B2P2BPTH/mna