MENGANTAR JALAK BALI PULANG KE HABITATNYA

ADMIN | Jumat , 14-Des-2018

SURAKARTA (biotifor.or.id) – Kepala B2P2BPTH, Ir. Tandya Tjahjana, M. Si yang juga merangkap sebagai Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial mengapreasiasi segenap teman-teman penangkar dari Jawa Tengah yang telah melepasliarkan jalak bali ke habitat aslinya di Taman Nasional Bali Barat, hal itu dikatakannya dalam acara Festival Penangkaran 2018, di Taman Satwa Taru Jurug Surakarta, Sabtu (01/12/2018).

 

Acara yang diselenggarakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah ini mengambil tema "Penangkaran Mateng Jateng Gayeng". Beberapa instansi yang diundang antara lain instansi lingkup Kementerian LHK, pemerintah daerah perguruan tinggi dan masyarakat umum.

 

Indonesia tercatat sebagai negara berpredikat mega biodiversity memang cukup membanggakan dimana diantaranya tercatat memiliki 1.539 jenis burung. Jumlah burung tersebut merupakan 17 % dari seluruh jenis burung yang ada di dunia, namun demikian untuk mempertahankan predikat tersebut kita dituntut  tanggung jawab berat untuk mempertahankan dan mengatur kesenjangan kelestariaannya. Ancaman besar terhadap potensi keanekaragaman hayati adalah kerusakan habitat seperti kebakaran hutan, pembukaan hutan, penebangan hutan dan perburuan liar. Upaya pemerintah untuk melakukan konservasi berbagai spesies burung diharapkan dapat mencegah kepunahan dan berharap agar para penangkar sering berkonsultasi dengan pihaknya yang ada di lapangan yaitu Kantor Balai KSDA, tambah Tandya.

 

Balai KSDA Jawa Tengah dalam acara ini mengangkat tentang penangkaran jalak bali dan jalak putih dimana banyak informasi terbaru tentang landasan hukum dan sebagai edukasi konservasi. “Salah satu bentuk pemanfaatan satwa liar adalah kegiatan penangkaran,” ujar Kepala KSDA Jawa Tengah Ir. Suharman, M.M.  

 

Sebagaimana kita ketahui penangkaran satwa liar adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Satwa liar yang diperoleh dari hasil penangkaran yang telah memiliki izin dapat dimanfaatkan atau diperjualbelikan. Saat ini ada 30 penangkar yang terdaftar resmi di BKSDA antara lain Jalak Bali, Jalak Putih, Nuri Bayan  tuturnya.

 

Dalam sambutannya Suharman juga menyampaikan komitmen BKSDA Jawa Tengah untuk terus mendorong masyarakat pecinta satwa liar maupun tumbuhan untuk melakukan penangkaran tentunya sesuai dengan prosedur.

 

Beragam kegiatan festival satwa hasil penangkaran diantaranya mengumpulkan komunitas, penghobi dan penangkar satwa khususnya burung. Pada rangkaian cara ini juga diselenggarakan beberapa lomba mulai dari anak anak , remaja dan dewasa . Lomba yang di selenggarakan adalah Lomba mewarnai tingkat TK, Lomba mewarnai Tingkat SD kelas 1-3 , Lomba menggambar Tingkat SD kelas 4-6 , lomba foto On the Spot dan lomba penangkaran burung jalak bali.

 

Dari rangkaian festival ini nantinya diharapkan adanya peningkatan peran serta masyarakat dalam kegiatan penangkaran satwa liar. Selain itu dengan bertumbuhnya penangkaran satwa dapat mengurangi ketergantungan hasil tangkapan atau pengambilan burung berkicau dari alam. Dari sisi ekonomi upaya penangkaran legal ini juga bisa berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.(DS)

 

Editor : Nunuk Tri Retnaningsih