KEPALA BLI : BLI PERLU LAKUKAN TEROBOSAN-TEROBOSAN INOVATIF DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

ADMIN | Selasa , 29-Jan-2019

YOGYA (biotifor.or.id) - Di era revolusi industri 4.0 diperlukan terobosan-terobosan yang inovatif agar BLI bisa menghasilkan hasil litbang yang bermanfaat dan berdampak luas kepada pengguna. Hali ini disampaikan oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Dr. Agus Justianto, saat memberikan pembinaan sekaligus menghadiri pisah sambut Kepala B2P2BPTH, dari Ir. Tandya Tjahjana, M.Si. kepada Dr. Nur Sumedi, S.Pi.,MP., di Yogyakarta, Kamis (24/01/2019).

“Selain itu, hasil litbang perlu terus dikembangkan untuk mendorong lembaga litbang mampu menghasilkan produk iptek yang berbasis demand/market driven dalam rangka mendukung peningkatan daya saing pengguna teknologi (dunia usaha, industri kecil dan menengah), pemerintah, dan masyarakat sesuai potensi ekonomi daerah dan tema/isu strategis”, lanjutnya.

Di depan seluruh karyawan B2P2BPTH dan para undangan, Agus berkeinginan pada tahun 2019 dengan pimpinan baru di Balai Besar Litbang BPTH Yogyakarta, dapat mempertahankan prestasi-prestasi yang telah dicapai.

Ke depan juga diharapkan selalu menciptakan prestasi-prestasi baru di bawah koordinasi dari pimpinan baru, Bapak Dr. Nur Sumedi, untuk kejayaan BLI khususnya dan Kementerian LHK pada umumnya. “Kinerja akan meningkat didasari dengan disiplin kerja, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja inovatif/kreatif”, tegas Agus.

Sebagaimana diketahui bahwa contoh indikator kinerja yang baik adalah solidnya kerjasama tim (teamwork) dan komunikasi yang efektif dalam mengelola sumberdaya organisasi.
 
Dengan kedua faktor tersebut, tim Balai Besar Litbang BPTH berhasil mempertahankan lembaga ini sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Pemuliaan Tanaman Hutan Tropis untuk tahun ke-3 yang ditetapkan oleh Kemenristek Dikti sejak tahun 2016.  

Balai Besar Litbang BPTH juga telah menunjukkan prestasi dan komitmennya untuk senantiasa menjaga kinerja, khususnya dalam pencapaian realisasi pengelolaan DIPA BBPPBPTH yaitu sebesar 99,36% di tahun 2018. “Untuk itu saya sampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Balai Besar Litbang Yogyakarta”, tutur Agus.

Lebih lanjut Agus menyampaikan, tantangan dan peluang dunia riset dalam rangka menghadapi perubahan dunia yang kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0. Teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia, segala hal menjadi tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited).
 
Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang litbang dan inovasi. Tantangan dan peluang dalam menghadapi revolusi industri 4.0 harus direspon secara cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan di lingkungan BLI agar mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah persaingan global”, tegasnya.


Bagaimana menghadapi peluang dan tantangan revolusi industri 4.0 dalam dunia litbang dan inovasi? Agus menyampaikan, yang pertama adalah kita harus menyiapkan SDM yang cakap dan mumpuni dalam mengelola tantangan di era digital dan membangun kapasitas untuk menciptakan teknologi kunci dan mengembangkan produk/layanan hasil litbang yang kompetitif.

“Kedua, kita harus berani mengubah paradigma kebiasaan/perilaku. Riset tidak harus dilakukan secara mandiri tetapi bisa dilakukan dengan mekanisme kolaborasi/sinergi/kerjasama dengan lembaga lain yang mempunyai keunggulan pada aspek lainnya sehingga hasil riset bisa dihilirisasi dan dikomersialisasikan oleh industri”, lanjutnya.

Hilirisasi industri berbasis teknologi hasil riset adalah suatu keniscayaan dan menjadi peluang yang harus ditangkap untuk meningkatkan daya saing industri. Untuk itu Tingkat Kesiapterapan Teknologi (Technology Readiness Level/TRL) hasil riset harus selalu ditingkatkan. “Upaya ini bisa ditempuh melalui hilirisasi hasil litbang dan sinergi antar kepakaran, sinergi antar lembaga riset terkait, dan sinergi antar stakeholder”, imbuh Agus.

Orang nomor satu BLI ini juga menekankan bahwa manajemen riset di era revolusi industri 4.0, secara umum akan mengalami perubahan perilaku, dalam pengelolaan riset dan mendorong interaksi lebih intens antara industri dan aktifitas sains/riset.
“Oleh karena itu, dalam pengelolaan riset akan membangun relasi saling membutuhkan, menguntungkan dan saling ketergantungan semakin meningkat, sehingga hilirisasi hasil litbang dan sinergi litbang harus terus di dorong dengan dunia industri/mitra lainnya,” harapnya.

Pada acara yang dilaksanakan di lobby Kantor B2P2BPTH ini dihadiri oleh Tim Pakar PUI Balai Besar Litbang BPTH (Prof. Muhammad Naim dan Prof. Suratman), Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3E Jawa), Kepala Pusat Litbang, Kepala UPT lingkup BLI-KLHK, Kepala UPT LHK lingkup DIY, para mitra kerjasama riset (Direktur Perumda Taman Satwa Taru Jurug Solo), Pejabat Struktural,  Peneliti dan seluruh pegawai, lingkup Balai Besar Litbang BPTH Yogyakarta.(mna)