PENDAPATAN MASYARAKAT MENINGKAT DENGAN PENGEMBANGAN KAYUPUTIH UNGGUL DI BIAK NUMFOR-PAPUA

ADMIN | Kamis , 28-Feb-2019

YOGYA (biotifor.or.id) - Pilot project pengembangan kayuputih (Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi) di KPHL Biak Numfor, Papua membuktikan bahwa pengembangan benih unggul kayuputih  dapat meningkatkan pendapatan petani. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Anto Rimbawanto dkk pada saat menyampaikan hasil kegiatan pengembangan di Kantor Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta (26/02).

Anto menyampaikan bahwa pilot project ini telah mengubah kebiasaan petani setempat, yang dulunya adalah peladang berpindah dan penebang pohon berhenti menebang pohon dan kemudian ikut berpartisipasi menanam kayuputih dan menjadi petani menetap. Bahkan dari menanam kayuputih tersebut, kesejahteraan petani menjadi lebih baik.

Keberhasilan pilot project pengembangan kayuputih ini dapat dievaluasi dari 2 aspek, yaitu pertumbuhan tanaman dan rendemen minyaknya, serta dampak ekonominya terhadap petani yang mengelola kebun kayuputih tersebut. Dari sisi pertumbuhan tanaman, tanah dan iklim Biak Timur yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman, telah memungkinkan pemanenan perdana dilakukan pada saat tanaman baru berumur 18 bulan, dengan hasil biomas daun seberat rata-rata 9 kg/pohon, dengan rendemen minyak 1% (rendemen ini akan meningkat setelah pohon berumur 2 tahun). Dari sisi petani, testimoni dari dua orang petani yang secara langsung terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan kebun ini, yaitu Bapak Moses Ronggeare dan Bapak Issac Warnares dari Kelompok Tani Kovarwis di Kampung Rimbajaya, membuktikan bahwa kebun kayuputih ini telah memberikan dampak yang positif.

Moses Ronggeare mengatakan bahwa dulu dia adalah penebang pohon (saya sudah tidak rahasia lagi), tetapi setelah ada penanaman kayuputih di Biak ini dia berhenti total menebang pohon. “Saya menanam kayuputih sebanyak 3000 pohon. Dari hasil suling hidup saya menjadi sangat berubah. Menjadi lebih baik. Saya bisa menguliahkan anak saya, ibu sekarang punya warung dan sekarang saya punya tabungan di Bank Mandiri 11 juta,” kata Moses.

“Saya mengucapkan terimakasih sekali kepada KPH Biak Numfor dan Balai Besar di Jogja,” kata Moses.

Lebih lanjut Issac Warnares, petani lainnya mengatakan bahwa “Dulu saya berkebun dengan berpindah-pindah. Tetapi sekarang setelah ada penanaman kayuputih saya berkebun di satu lahan saja karena saya bisa panen setiap tahun. Dari hasil penyulingan saya bisa membiayai anak saya sekolah. Saya bisa menabung.”

Menurut Anto, kebun kayuputih di Kampung Rimbajaya ini berpotensi memberikan pendapatan yang sangat baik bagi kelompok tani Kovarwis. Dengan jumlah pohon siap panen sebanyak 12.000 pokok, potensi daun yang dapat dipanen sebesar 4 kg x 12.000 = 48 ton. Dengan rendemen minyak sebesar 1.3%, maka dapat dihasilkan minyak kayuputih sebanyak 624 kg, atau setara dengan hampir Rp. 125 juta. Pemanenan daun dapat dilakukan setiap 6-9 bulan. Sementara ini hasil minyak nya dibeli oleh KPHL Biak Numfor, dan sebagian lainnya dipasarkan langsung oleh anggota kelompok tani ke pasar setempat.

Anto berharap dengan keberhasilan pilot project pengembangan kayuputih skala kecil di Biak ini dapat direplikasi di desa-desa lain di Indonesia, dan pada gilirannya nanti akan dapat mengurangi mengurangi import minyak subtitusi ekaliptus dari China yang selama ini digunakan sebagai bahan campuran untuk menutupi defisit produksi minyak kayu putih dalam negeri sebanyak kurang lebih 3.000 ton/tahun. Kebutuhan minyak kayu putih Indonesia selama ini sebanyak 3.600 ton/tahun dan hanya mampu dipenuhi sebanyak 600 ton/tahun.

Oleh karena itu, B2P2BPTH Yogyakarta gencar melakukan pengembangan industri minyak kayuputih dengan berbagai skema, baik skema kerjasama dengan industri skala besar seluas 4.000 ha dengan PT. Sanggaraggo Karyapersada di Kabupaten Bima, NTB dan rencana kedepan dengan skema inti-plasma antara petani dengan industri minyak kayuputih yaitu PT. Eagle Indho Pharma (Cap Lang) di beberapa lokasi dengan tujuan utama adalah untuk mengurangi import minyak subtitusi dan memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan menggunakan benih/klon unggul kayuputih yang telah dihasilkan oleh para peneliti B2P2BPTH.

“Tiga hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak kayuputih yaitu perbaikan mutu genetik tanaman, dengan menggunakan benih unggul, ekstensifikasi tanaman dengan perluasan areal tanaman kayuputih dan revitalisasi dan modernisasi industri penyulingan,” tutup Anto.

Keberhasilan pilot project pengembangan kayuputih skala kecil di Biak Numfor tidak terlepas dari kerjasama/kolaborasi dengan KPHL Biak Numfor, Kelompok Tani Kovarwis, dan PSKL Maluku Papua yang memberikan bantuan  alat suling dan tentunya partisipasi yang baik dari masyarakat setempat. (PK)

 

 


 Foto : Dok. B2P2BPTH/Tim Peneliti Kayu Putih