PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK, LANGKAH PENTING DALAM PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL

ADMIN | Jumat , 1-Maret-2019

YOGYA (biotifor.or.id) -. “Penguatan kelembagaan iptek merupakan langkah penting dalam penguatan sistem inovasi nasional agar lembaga iptek dapat berkinerja tinggi dengan menghasilkan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas adopsi pengguna teknologi (masyarakat, industri, & pemerintah). Diharapkan dengan tumbuhnya inovasi & teknologi yang disertai dengan pemanfaatan oleh pengguna, kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat melalui pengembangan PUI.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BBPPBPTH, Dr. Nur Sumedi, S.Pi., MP. dalam sambutannya pada Rapat Koordinasi Sinergi antar Lembaga PUI lingkup Badan Litbang dan Inovasi diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) di Ruang Seminar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), Yogyakarta, Jumat (22/2/2019).

“Pengembangan PUI diharapkan akan menghasilkan lembaga litbang yang unggul dari sisi penguasaan iptek karena sesuai dengan tugas dan fungsi lembaga. Namun di sisi lain akan dihasilkan juga lembaga litbang yang unggul keinovasiannya karena tugas dan fungsi lembaga memungkinkan untuk mencapai hal tersebut,” lanjut Sumedi.

Kehadiran para peserta Rapat Koordinasi disambut langsung oleh Nur Sumedi yang didampingi oleh seluruh pejabat eselon. Dalam kesempatannya, Nur Sumedi memaparkan Pengalaman Pengelolaan Program Kerja dan Pencapaian Target Kinerja PUI BBPPBPTH yang telah ditetapkan sejak tahun 2016. B2P2BPTH telah mengikuti seleksi PUI dengan pusat unggulan “Pemuliaan Tanaman Hutan Tropis”. Pada kesempatan tersebut B2P2BPTH mendapat skor nilai 912 atau menembus batas minimal skor standar yang ditetapkan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti), yaitu 850.

“Pada tahun 2017 terdapat seleksi PUI bidang Inovasi industri, hal ini merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan mendapatkan dan hibah Kemenristek Dikti, melalui tema Pemanfaatan Teknologi benih unggul untuk mendorong industri minyak kayuputih di Indonesia Bagian Timur guna mengurangi ketergantungan pada minyak impor subsitusi.” tambah Sumedi.

Lanjut Sumedi “Hingga tahun 2018, BBPPBPTH telah mencapai skor 988 dari 1000. Hal inilah yang menjadi prestasi yang dapat dibagikan kepada satker-satker lain dalam mencapai skor tinggi.”

Selanjutnya Priyo Kusumedi, S.Hut., MP, Kepala Bagian Umum BBPPBPTH menjelaskan  tentang progres capaian indicator PUI Supervisi Tahap II 2018. Indikator Capaian PUI sebanyak 27 indikator yang terbagi dalam 3 kapasitas kelembagaan yaitu Absortive Capacity, Research and development Capacity dan disseminating capacity.

Menurut Priyo, banyak sub indikator yang sebenarnya berat untuk mendapat realiasasi capaian tersebut, namun nilai skornya ternyata kecil.

“Banyak sub  indikator yang sebenarnya berat untuk mendapat mendapat realiasasi capaian tersebut, namun nilai skornya ternyata kecil, contohnya pada indicator Kerjasama Riset pada Tingkat Internasional hanya mempunyai nilai 1 poin.” tambah Priyo. Beberapa capaian indikator yang cukup berat adalah menjadi pembicara dan pemakaah internasional, untuk capaian ini bisa dilakukan strategi dengan sinergi kegiatan yaitu seminar internasional antar lembaga PUI untuk mencapat target minimal capaia indikatornya yaitu minimal 3 pembicara internasional dan 5 pemakalah internasional. Selain itu, bisa bersinergi dalam kegiatan lainnya untuk capaian indikator lainnya.

Lebih lanjut Priyo menyampaikan bahwa yang penting dalam pengisian capaian 27 indiaktor dan 47 Sub Indikator yaitu harus dimulai dari awal tahun dilakukan pengumpulan data dukung secara bertahap yang dilakukan oleh masing-masing pokja. Jangan lupa setiap mengisi capain indikator selain mengisi matrik sesuai petunjuk teknis harus di upload data dukungnya bahkan narasinya agar dapat di klaim nilainya.

Hadir pula pada rapat koordinasi tersebut, Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Dr. Ir. Sylvana Ratina, M.Si. Pada sambutannya, beliau memberikan arahan bahwa Badan Litbang dan Inovasi mendapat predikat kelembagan Pusat Unggulan IPTEK (PUI) terbaik, karena telah berhasil mendorong para satker untuk meraih PUI, baik yang sudah mendapatkan maupun yang masih dalam taraf pembinaan.

“Kelembagaan ini merupakan isu terpenting dalam penguatan inovasi, faktor-faktor kriteria-kriteria yang betul-betul mengarah ke sana, baik kemampuan untuk menerima teknologi informasi dan diseminasi dan kegiatan risteknya sendiri dengan hasil yang mempunyai kriteria standar sangat tinggi (bertaraf internasional), baik pelaksanaannya maupun produk yang dihasilkan” lanjut Ratina.

Tahun 2018 menjadi tahun yang monumental bagi Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dimana pada tahun ini diperoleh apresiasi Pusat Unggulan Iptek untuk 12 Satker dari 19 satker yang ada. Perolehan apresiasi ini perlu dilanjutkan dengan pengelolaan yang baik agar tujuan penetapan Pusat Unggulan Iptek dapat terwujud.

Sinergi antar Lembaga PUI lingkup Badan Litbang dan Inovasi perlu ditumbuhkan agar setiap satker dapat mencapai target-target kinerja yang ditetapkan oleh Kementerian Ristekdikti sekaligus saling mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas dan kolaborasi riset khususnya di internal Badan Litbang dan Inovasi.

Pusat Unggulan Iptek bertujuan untuk mengembangkan Pusat Unggulan Iptek yang mampu menyerap kebutuhan pasar serta menghasilkan dan mengalirkan teknologi ke pasar. Sedangkan maksud dikembangkannya Pusat Unggulan Iptek adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas lembaga litbang mencakup kelembagaan, sumberdaya, dan jaringan iptek menjadi bertaraf internasional dalam bidang prioritas spesifik agar terjadi peningkatan relevansi dan produktivitas serta pendayagunaan iptek dalam sektor produksi untuk menumbuhkan perekonomian nasional dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini mendukung indikator kinerja utama Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, yaitu peningkatan kualitas lembaga litbang melalui peningkatan jumlah Pusat Unggulan Iptek.

Dalam kesempatan ini, Rapat Koordinasi diikuti oleh Kepala Satker dan Pengelola PUI dari 19 Satker lingkup Badan Litbang dan Inovasi dan Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi.(EW)

Editor: Priyo Kusumedi

Foto: BBPPBPTH | Edy Wibowo | 2019