TERAPKAN MANAJEMEN HAMA DAN PENYAKIT YANG EFEKTIF, PERTAHANKAN PRODUKTIVITAS HUTAN AKASI DI ASIA TENGGARA

ADMIN | Senin , 6-Mei-2019

YOGYA (biotifor.or.id) – Menurut Prof. Caroline Mohammed,  jika produktivitas hutan tanaman akasia ingin dipertahankan, penerapan manajemen hama dan penyakit yang efektif merupakan prioritas utama untuk Asia Tenggara.

“Hutan tanaman dari spesies kayu keras Australia di Asia Tenggara kini melebihi 7 juta ha. Kelangsungan hidup hutan tanaman ini semakin terancam oleh penyakit dan hama di beberapa daerah”, lanjutnya pada acara Final Review kegiatan Management Strategies for Acacia Plantation Diseases in Indonesia and Vietnam (FST/2014/068), di Swiss Belboutique Yogyakarta, Rabu (24/04/2019).

“Secara umum project ini bertujuan memberikan informasi untuk mengurangi dampak penyakit yang menurunkan produktivitas saat ini di hutan tanaman akasia, membangun kapasitas dan kolaborasi pada kesehatan hutan di Indonesia, Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara”, ujar Profesor dari University of Tasmania yang menjabat sebagai Project Leader kegiatan ini.

Project ini mempunyai tiga tujuan utama yaitu (1) Untuk mengurangi dampak yang terkait dengan penyakit busuk akar Ganoderma di hutan tanaman A. Mangium, (2) Untuk mengurangi dampak yang terkait dengan kanker serat dan penyakit layu Ceratocystis di hutan tanaman A. Mangium, dan (3) Untuk membangun kapasitas dalam patologi hutan dan manajemen kesehatan hutan di Asia Tenggara.

Tingkat pertumbuhan Acacia mangium di Sumatera dan di daerah-daerah yang terkena penyakit jamur (Ganoderma dan Ceratocystis) berkurang menjadi kurang dari 15 m3/ha/ tahun. Sedangkan di daerah yang tidak terkena dampak memiliki tingkat pertumbuhan di kisaran 22 hingga 35 m3/ha/tahun. Di Vietnam dan Malaysia, Ceratocystis dianggap sebagai ancaman ekstrem, dengan kerusakan hingga 20% di beberapa hutan tanaman akasia di Vietnam.

Sementara itu dalam sambutannya, Kepala B2P2BPTH yang diwakili oleh Kepala Bidang DIK, Retisa Mutiaradevi, S.Kom.,M.Ca mengatakan bahwa rekomendasi dari pertemuan ini sangat diharapkan, terutama untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman biotik dan management strategy dalam memahami pendekatan sistem transdisipliner untuk manajemen penyakit di Asia Tenggara.

Acara ini dihadiri oleh ACIAR Forestry Research Program Manager (Dr. Nora Devoe), Final Review Team (Dr. Ken Hobson, Dr. Lee Su See), ACIAR Indonesia Country Manager (Mirah Nuryati).

Project yang berlangsung dalam kurun waktu 2015-2019 ini melibatkan kolaborator yaitu University of Tasmania, University of the Sunshine Coast-Queensland, DPIWE, New South Wales Departement of Primary Industries, FORDA (CFBTI-Dr. Anto Rimbawanto as Project Coordinator), University of Gadjah Mada-Indonesia, VAFS-Vietnam, dan End-users seperti Riau Andalan Pulp Paper, Arara Abadi-Sinarmas, Musi Hutan Persada.

Hari kedua dilaksanakan field trip ke KHDTK Wonigiri, tepatnya pada Clone Bank Ceratocystis Acacias: Acacia mangium, Acacia auriculiformis. Sedangkan hari ketiga dilaksanakan pembahasan kegiatan kerjasama berikutnya yaitu Future-proofing forest and other tree species in SE Asia against biotic threats, yang akan dilaksanakan mulai Januari 2020, dan dilanjutkan berkunjung ke kantor B2P2BPTH di Laboratorium Hama dan Penyakit serta Laboratorium Genetika Molekuler.(mna)

Editor: Priyo K.

 

 

Foto: Dok. B2P2BPTH/mna