MENDORONG INDUSTRI MINYAK KAYUPUTIH DI INDONESIA

ADMIN | Jumat , 16-Agust-2019

Balai Besar Litbang BPTH (Yogya, 15/08/2019)_Industri minyak kayuputih merupakan industri agribisnis yang belum banyak diminati oleh investor. Selama beberapa dekade, produsen bahan baku minyak kayuputih tidak banyak berubah, yaitu masyarakat di Kep. Maluku yang memanfaatkan tegakan alam kayuputih, dan Perum Perhutani dan KPH Yogyakarta yang membangun kebun kayuputih menggunakan benih yang pada awal pembangunannya berasal dari P. Buru dan P. Seram.

Jumlah produksi minyak kayuputih juga relatif tidak banyak berubah. Dari kebun kayuputih seluas 27 ribu ha, Perum Perhutani menghasilkan sedikitnya 400 ton minyak tiap tahun. KPH Yogyakarta yang mengelola 4000 ha kebun, menghasilkan 40 ton minyak tiap tahun. Usaha penyulingan rakyat di P. Buru, P. Seram dan P. Ambon menghasilkan kurang lebih 100 ton, Sementara permintaan bahan baku minyak oleh industri farmasi dan kemasan terus mengalami peningkatan. Diperkirakan kebutuhan dalam negeri telah mencapai lebih dari 3500 ton tiap tahun. Situasi ini mengharuskan pelaku usaha melakukan impor minyak substitusi, yaitu minyak ekaliptus yang juga mengandung 1,8 cineole, salah satu komponen utama dalam minyak kayuputih yang mempunyai efek kesehatan.

Untuk mendorong perkembangan minyak kayuputih, maka dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) “Industri Minyak Kayuputih di Indonesia, Prospek dan Tantangan” yang diselengggaran oleh Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan di Ruang Seminar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Litbang BPTH) pada hari Rabu (14/08). Acara dibuka oleh Kepala Bidang Data Informasi dan Kerjasama, Retisa Mutiaradevi, S. Kom, MCA.

FGD ini tujuannya adalah untuk komunikasi dari hulu dan hilir, kami lembaga litbang punya kewajiban menyampaikan hasil-hasil riset kami yang tdak hanya menjadi data atau tulisan bagi peneliti namun benar-benar digunakan masyarakat dan sekarang pelaku industri, dengan adanya ini kami sangat senang bahwa hasil litbang kami diapresiasi dan yang paling penting telah digunakan masyarakat dari hulu ke hilir. Hilirnya nanti sampai ke industri dan dapat mensejahterakan masyarakat,” ujar Retisa.

Jadi diharapkan dari kegiatan ini maka kita bisa membangun komunikasi hulu-hilir para pelaku usaha minyak kayuputih untuk kemajuan industri minyak kayuputih di Indonesia. Di hulu ada pengelola kebun kayuputih dan penyulingannya, dan di hilir ada pabrik-pabrik farmasi dan pabrik pengemas minyak kayuputih. Kemudian juga membangun kesepakatan para pelaku usaha untuk memajukan industri minyak kayuputih bagi kesejahteraan masyarakat luas serta mendorong komitmen pemerintah memajukan industri minyak kayuputih tambah Retisa.

Dr. Ir. Anto Rimbawanto, M.Agr.Sc., peneliti Balai Besar Litbang BPTH sekaligus Koordinator Litbang Kayuputih menyampaikan bahwa FGD ini pertama kali bisa mengumpulkan pelaku hulu hilir kayuputih. Adapun forum ini kami desain sebagai forum diskusi; 1) IPTEk yang telah kami hasilkan; 2) pengelolaan/budidaya kebun dari Perhutani dan Sanggaragro; 3) Industri, bagaimana prospek derivate 1,8 cineol; 4) bagaimana menyelenggarakan kemitraan inti plasma agar masyarakat mendapat manfaat.

Direktur Inovasi Industri Kemenristekdikti, Ir. Santoso Yudo menyampaikan bahwa diskusi ini sangat menarik akan tetapi kenapa issue ini tidak masuk dalam Program Riset Nasional biasanya seluruh litbang diundang untuk menyampaikan issue strategis yang bisa masuk dalam Prioritas Riset Inovasi Nasional 5 tahun kedepan. ”Kami akan menjadikan ini sbg flagship kementerian, kami akan mensupport penuh kayuputih ini, ungkapnya.

Peserta FGD ini dihadiri oleh para pelaku usaha dan peneliti minyak atsiri pada umumnya serta minyak kayuputih pada khususnya. Pelaku usaha di hulu antara lain adalah: Perhutani KHP Madiun, Perhutani KPH Gundih, Perhutani KPH Indramayu, KPHL Bika Numfor, Pengelola kebun plasma kayuputih di Biak, Bangkalan, Wonosari, Lampung dan Pekanbaru dan PT. Sanggaragro Karyapersada Bima Sedangkan di hilir antara lain adalah: PT. Eagel Indo Pharma, PT. Indesso, PT. Konicare Disamping para pelaku usaha, juga diundang beberapa instansi pemerintah yang terkait, Dewan Atsiri Indonesia, dan peneliti dari Universitas. Dari instansi pemerintah/perguruan tinggi antara lain adalah: Direktur Inovasi Industri, Ditjen Inovasi Industri, Kemenristekdikti, Direktur Perbenihan Tanaman Hutan, Ditjen PDASHL, KLHK, Direktur Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka, Kemenperin, Dewan Atsiri Indonesia (DAI), Fakultas Farmasi UII, Fakultas Farmasi UGM, Jurusan Ilmu Teknologi Pangan IPB.

Setelah FGD terlaksana hari kedua diadakan Fieldtrip (15/08) melihat Kebun Kayuputih dan Kunjungan ke Pabrik Penyulingan Sendang Mole Gunungkidul.***(DS)

Dokumentasi: MNA, DS







Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun Pakem Sleman DI Yogyakarta (Indonesia)

Email                : breeding@biotifor.or.id

Website            : www.biotifor.or.id

Instagram          : www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook         : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

E-Journal             : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index