
Arti istidraj adalah sebuah istilah dalam agama Islam yang merujuk pada kondisi di mana Allah SWT memberikan kenikmatan dan kesenangan duniawi yang berlimpah kepada seseorang yang jauh dari-Nya. Hal ini merupakan ujian dari Allah SWT untuk melihat bagaimana respons hamba-Nya ketika dihadapkan dengan kenikmatan tersebut. Jika seseorang terlena dan semakin jauh dari Allah SWT, maka hal tersebut merupakan tanda istidraj. Contoh istidraj adalah ketika seseorang diberikan kekayaan yang melimpah, namun ia lupa bersyukur dan malah menggunakan hartanya untuk berbuat maksiat.
Istidraj merupakan sebuah peringatan dari Allah SWT agar hamba-Nya tidak terlena dengan kenikmatan duniawi. Sebab, kenikmatan tersebut dapat membuat seseorang lupa diri dan jauh dari jalan yang benar. Istidraj juga merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT agar hamba-Nya kembali kepada-Nya dan bertaubat atas segala dosa-dosanya.
Dalam sejarah Islam, terdapat banyak contoh tokoh yang tertimpa istidraj. Salah satunya adalah Fir’aun, yang diberikan kekuasaan dan kejayaan yang luar biasa oleh Allah SWT. Namun, ia justru menjadi sombong dan mengaku sebagai Tuhan. Akhirnya, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di Laut Merah.
arti istidraj
Istidraj merupakan ujian dari Allah SWT yang berupa kenikmatan duniawi berlimpah kepada seseorang yang jauh dari-Nya. Istidraj menjadi peringatan agar hamba-Nya tidak terlena dan kembali kepada-Nya. Berikut adalah 8 aspek penting terkait arti istidraj:
- Ujian dari Allah SWT
- Kenikmatan duniawi
- Orang yang jauh dari Allah SWT
- Peringatan dari Allah SWT
- Kembali kepada Allah SWT
- Bertaubat dari dosa-dosa
- Contoh: Fir’aun
- Relevansi: Menjaga keimanan di tengah kenikmatan duniawi
Kedelapan aspek tersebut saling berkaitan dan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang arti istidraj. Istidraj merupakan ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya yang jauh dari-Nya. Ujian tersebut berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah, yang dapat membuat seseorang terlena dan lupa diri. Istidraj juga merupakan peringatan dari Allah SWT agar hamba-Nya kembali kepada-Nya dan bertaubat dari dosa-dosa. Contoh nyata dari istidraj adalah kisah Fir’aun, yang diberikan kekuasaan dan kejayaan yang luar biasa, namun akhirnya justru menjadi sombong dan mengaku sebagai Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa istidraj dapat menimpa siapa saja, bahkan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu menjaga keimanan dan tidak terlena dengan kenikmatan duniawi.
Ujian dari Allah SWT
Istidraj merupakan ujian dari Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya yang jauh dari-Nya. Ujian tersebut berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah, seperti kekayaan, kekuasaan, atau kesehatan. Kenikmatan duniawi tersebut dapat membuat seseorang terlena dan lupa diri, sehingga semakin jauh dari Allah SWT. Istidraj menjadi peringatan dari Allah SWT agar hamba-Nya kembali kepada-Nya dan bertaubat dari dosa-dosa.
Ujian dari Allah SWT merupakan bagian penting dari arti istidraj karena menunjukkan bahwa istidraj bukan sekadar pemberian kenikmatan duniawi, melainkan sebuah ujian yang bertujuan untuk menguji keimanan dan ketaatan seseorang. Ujian tersebut dapat berupa kenikmatan atau kesulitan, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
Salah satu contoh nyata dari ujian dari Allah SWT dalam konteks istidraj adalah kisah Qarun. Qarun adalah seorang kaya raya yang hidup pada zaman Nabi Musa AS. Kekayaannya yang melimpah membuatnya menjadi sombong dan lupa diri. Ia bahkan mengaku sebagai Tuhan dan menantang Nabi Musa AS. Akhirnya, Allah SWT menenggelamkan Qarun beserta hartanya ke dalam bumi. Kisah ini menunjukkan bahwa ujian dari Allah SWT dapat menimpa siapa saja, bahkan orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT dan tidak terlena dengan kenikmatan duniawi.
Memahami hubungan antara ujian dari Allah SWT dan arti istidraj sangat penting bagi kita dalam menjalani kehidupan. Hal ini dapat membantu kita untuk bersabar dalam menghadapi cobaan dan selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Selain itu, pemahaman ini juga dapat membantu kita untuk menghindari kesombongan dan selalu rendah hati, karena kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Allah SWT dan dapat diambil kembali kapan saja.
Kenikmatan duniawi
Kenikmatan duniawi merupakan salah satu aspek penting dalam arti istidraj. Istidraj adalah ujian dari Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya yang jauh dari-Nya, berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah. Kenikmatan duniawi tersebut dapat berupa kekayaan, kekuasaan, kesehatan, atau hal-hal lain yang menyenangkan hati.
-
Peran Kenikmatan Duniawi dalam Istidraj
Kenikmatan duniawi berperan sebagai ujian bagi seseorang untuk melihat bagaimana ia menyikapinya. Apakah ia akan bersyukur dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, atau justru terlena dan semakin jauh dari-Nya. Kenikmatan duniawi juga dapat menjadi jebakan yang membuat seseorang lupa akan tujuan hidupnya yang sebenarnya, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.
-
Contoh Kenikmatan Duniawi yang Dapat Menjadi Istidraj
Ada banyak contoh kenikmatan duniawi yang dapat menjadi istidraj, di antaranya:
- Kekayaan yang melimpah
- Kekuasaan yang besar
- Kesehatan yang prima
- Popularitas dan pengakuan
-
Dampak Kenikmatan Duniawi dalam Arti Istidraj
Kenikmatan duniawi yang berlebihan dapat berdampak buruk bagi seseorang, di antaranya:
- Menimbulkan kesombongan dan keangkuhan
- Melalaikan kewajiban beribadah
- Menjauhkan diri dari Allah SWT
- Menjerumuskan ke dalam dosa dan maksiat
Dengan memahami hubungan antara kenikmatan duniawi dan arti istidraj, kita dapat terhindar dari jebakan tersebut. Kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT, namun tidak boleh terlena dan lupa diri. Kita harus tetap beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Orang yang jauh dari Allah SWT
Dalam konteks arti istidraj, “orang yang jauh dari Allah SWT” merujuk pada individu yang lalai dalam menjalankan kewajiban ibadahnya dan menjauhkan diri dari ajaran-ajaran agama. Mereka tenggelam dalam kesibukan duniawi dan melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah SWT.
-
Kurang Ibadah
Orang yang jauh dari Allah SWT cenderung malas beribadah atau bahkan meninggalkannya sama sekali. Mereka menganggap ibadah sebagai beban dan tidak memprioritaskannya dalam kehidupan.
-
Lalai dari Zikir
Zikir adalah mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan. Orang yang jauh dari Allah SWT lalai dari zikir dan lebih sibuk mengejar kesenangan duniawi.
-
Hati yang Keras
Hati yang keras merupakan tanda seseorang yang jauh dari Allah SWT. Mereka sulit menerima nasihat dan teguran, serta cenderung mengikuti hawa nafsu.
-
Tidak Mengikuti Ajaran Agama
Orang yang jauh dari Allah SWT tidak mengikuti ajaran agama dengan baik. Mereka mungkin menjalankan ibadah hanya sekedarnya, tanpa memahami makna dan hikmah di baliknya.
Kedekatan atau kejauhan seseorang dengan Allah SWT tercermin dari perilaku dan kesehariannya. Orang yang jauh dari Allah SWT rentan terjerumus dalam istidraj, yaitu ujian dari Allah SWT berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah. Ujian ini bertujuan untuk menguji keimanan dan ketaatan seseorang. Jika seseorang terlena dengan kenikmatan tersebut dan semakin jauh dari Allah SWT, maka itu merupakan tanda istidraj.
Peringatan dari Allah SWT
Arti istidraj sebagai ujian dari Allah SWT juga mengandung makna sebagai peringatan bagi hamba-Nya. Peringatan ini bertujuan untuk menyadarkan dan mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan kenikmatan duniawi dan selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah SWT.
Peringatan dari Allah SWT dalam arti istidraj dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, di antaranya:
- Kenikmatan duniawi yang berlimpah, seperti kekayaan, kekuasaan, atau kesehatan, yang diberikan kepada orang-orang yang jauh dari Allah SWT. Kenikmatan ini dapat membuat seseorang lupa diri dan semakin jauh dari ajaran agama.
- Cobaan dan kesulitan hidup yang diberikan kepada orang-orang yang dekat dengan Allah SWT. Cobaan ini bertujuan untuk menguji keimanan dan kesabaran seseorang, sekaligus menjadi pengingat akan ketidakkekalan dunia.
- Nasihat dan teguran dari orang-orang saleh atau ulama. Nasihat dan teguran ini merupakan bentuk peringatan dari Allah SWT melalui perantara manusia.
Memahami peringatan dari Allah SWT dalam arti istidraj sangat penting bagi manusia. Dengan memahami hal ini, manusia dapat terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya. Selain itu, pemahaman ini juga dapat membuat manusia lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan hidup.
Salah satu contoh nyata peringatan dari Allah SWT dalam arti istidraj adalah kisah Qarun. Qarun adalah seorang kaya raya yang hidup pada zaman Nabi Musa AS. Kekayaannya yang melimpah membuatnya menjadi sombong dan lupa diri. Ia bahkan mengaku sebagai Tuhan dan menantang Nabi Musa AS. Akhirnya, Allah SWT menenggelamkan Qarun beserta hartanya ke dalam bumi. Kisah ini menunjukkan bahwa peringatan dari Allah SWT dapat datang dalam bentuk apa pun, termasuk kenikmatan duniawi yang berlimpah.
Dengan demikian, arti istidraj sebagai ujian dari Allah SWT juga mengandung makna sebagai peringatan bagi hamba-Nya. Peringatan ini bertujuan untuk menyadarkan dan mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan kenikmatan duniawi dan selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya. Memahami peringatan dari Allah SWT dalam arti istidraj sangat penting bagi manusia agar dapat terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama.
Kembali kepada Allah SWT
Dalam konteks arti istidraj, “kembali kepada Allah SWT” merujuk pada upaya hamba-Nya untuk bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT setelah terlena dengan kenikmatan duniawi. Hal ini menjadi bagian penting dari arti istidraj karena merupakan respons yang diharapkan dari hamba-Nya ketika diuji dengan kenikmatan tersebut.
Kembali kepada Allah SWT dalam arti istidraj memiliki beberapa implikasi penting, di antaranya:
-
Pengakuan atas Kekhilafan
Dengan kembali kepada Allah SWT, seseorang mengakui bahwa dirinya telah lalai dan jauh dari ajaran agama. Pengakuan ini menjadi langkah awal untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar. -
Pertobatan yang Tulus
Kembali kepada Allah SWT juga melibatkan pertobatan yang tulus atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Pertobatan ini harus disertai dengan penyesalan yang mendalam dan niat yang kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. -
Peningkatan Keimanan
Proses kembali kepada Allah SWT dapat meningkatkan keimanan seseorang. Dengan menyadari kelemahan dan kekurangan diri, seseorang akan lebih menghargai nikmat yang telah diberikan Allah SWT dan berusaha untuk selalu dekat dengan-Nya.
Memahami hubungan antara “kembali kepada Allah SWT” dan “arti istidraj” sangat penting bagi manusia. Hal ini dapat membantu manusia untuk terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya. Selain itu, pemahaman ini juga dapat menjadi motivasi bagi manusia untuk selalu memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Salah satu contoh nyata dari “kembali kepada Allah SWT” dalam arti istidraj adalah kisah Nabi Yunus AS. Nabi Yunus AS pernah melarikan diri dari tugasnya sebagai nabi karena takut akan ancaman kaumnya. Namun, setelah ditelan oleh ikan paus, Nabi Yunus AS bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji untuk kembali menjalankan tugasnya. Kisah ini menunjukkan bahwa “kembali kepada Allah SWT” selalu terbuka bagi siapa saja, tidak peduli seberapa besar kesalahan yang telah dilakukan.
Dengan demikian, “kembali kepada Allah SWT” merupakan bagian penting dari arti istidraj. Hal ini menjadi respons yang diharapkan dari hamba-Nya ketika diuji dengan kenikmatan duniawi. Dengan kembali kepada Allah SWT, seseorang mengakui kekhilafannya, melakukan pertobatan yang tulus, dan meningkatkan keimanannya. Memahami hubungan antara “kembali kepada Allah SWT” dan “arti istidraj” sangat penting bagi manusia agar dapat terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama.
Bertaubat dari Dosa-Dosa
Bertaubat dari dosa-dosa merupakan bagian penting dari arti istidraj karena menjadi salah satu respons yang diharapkan dari seorang hamba ketika diuji dengan kenikmatan duniawi. Bertobat memiliki arti kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kesalahan atau dosa.
-
Pengakuan Kesalahan
Bertobat dari dosa-dosa diawali dengan mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Seorang hamba yang menyadari kesalahannya akan merasa menyesal dan ingin memperbaikinya. Pengakuan ini menjadi langkah awal untuk kembali ke jalan yang benar dan meraih ampunan dari Allah SWT.
-
Penyesalan yang Tulus
Bertaubat juga harus diiringi dengan penyesalan yang tulus atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Penyesalan ini bukan sekadar rasa bersalah, tetapi juga keinginan yang kuat untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
-
Meninggalkan Kemaksiatan
Bertobat juga berarti meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan perbuatan dosa. Seorang hamba yang benar-benar bertaubat akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi segala larangan Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya.
-
Memperbanyak Amal Kebaikan
Selain meninggalkan kemaksiatan, bertaubat juga mengharuskan seorang hamba untuk memperbanyak amal kebaikan. Dengan memperbanyak amal kebaikan, seorang hamba dapat menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan dan meningkatkan derajatnya di sisi Allah SWT.
Dengan memahami hubungan antara bertaubat dari dosa-dosa dan arti istidraj, seorang hamba dapat terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya. Selain itu, pemahaman ini juga dapat menjadi motivasi bagi seorang hamba untuk selalu memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Contoh
Kisah Fir’aun merupakan salah satu contoh nyata dari arti istidraj. Fir’aun adalah raja Mesir yang diberikan kekuasaan dan kejayaan yang luar biasa oleh Allah SWT. Namun, ia justru menjadi sombong dan mengaku sebagai Tuhan. Ia juga menindas dan memperbudak Bani Israil.
Sikap Fir’aun tersebut merupakan bentuk istidraj. Allah SWT memberikannya kenikmatan duniawi yang berlimpah untuk menguji keimanannya. Namun, Fir’aun terlena dengan kenikmatan tersebut dan semakin jauh dari Allah SWT.
Akhirnya, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya di Laut Merah. Kisah ini menunjukkan bahwa istidraj dapat menimpa siapa saja, bahkan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi. Istidraj menjadi peringatan bagi manusia agar tidak terlena dengan kenikmatan duniawi dan selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya.
Relevansi
Istidraj merupakan ujian dari Allah SWT yang berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah. Kenikmatan tersebut dapat membuat seseorang terlena dan lupa diri, sehingga semakin jauh dari Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga keimanan di tengah kenikmatan duniawi sangatlah penting.
Salah satu cara untuk menjaga keimanan di tengah kenikmatan duniawi adalah dengan selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Bersyukur akan membuat kita semakin menghargai nikmat tersebut dan tidak terlena dengannya. Selain itu, kita juga harus selalu mengingat bahwa semua kenikmatan duniawi bersifat sementara dan akan habis pada suatu saat nanti.
Praktik kesederhanaan juga dapat membantu kita menjaga keimanan di tengah kenikmatan duniawi. Dengan hidup sederhana, kita akan terhindar dari sifat sombong dan angkuh. Kita juga akan lebih mudah untuk bersyukur dan berbagi dengan orang lain.
Memahami arti istidraj dan menjaga keimanan di tengah kenikmatan duniawi sangatlah penting bagi kita. Hal ini akan membantu kita untuk terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama.
FAQ tentang Arti Istidraj
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang arti istidraj:
Pertanyaan 1: Apa yang dimaksud dengan istidraj?
Jawaban: Istidraj adalah ujian dari Allah SWT yang berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah, yang diberikan kepada orang-orang yang jauh dari-Nya. Kenikmatan tersebut dapat membuat seseorang terlena dan lupa diri, sehingga semakin jauh dari Allah SWT.
Pertanyaan 2: Apa saja bentuk kenikmatan duniawi yang dapat menjadi istidraj?
Jawaban: Bentuk kenikmatan duniawi yang dapat menjadi istidraj antara lain kekayaan, kekuasaan, kesehatan, popularitas, dan pengakuan.
Pertanyaan 3: Mengapa Allah SWT memberikan istidraj kepada hamba-Nya?
Jawaban: Allah SWT memberikan istidraj sebagai ujian untuk menguji keimanan dan ketaatan hamba-Nya. Selain itu, istidraj juga merupakan peringatan bagi hamba-Nya agar tidak terlena dengan kenikmatan duniawi dan selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya.
Pertanyaan 4: Apa saja dampak negatif istidraj?
Jawaban: Dampak negatif istidraj antara lain kesombongan, keangkuhan, lalai beribadah, menjauhkan diri dari Allah SWT, dan menjerumuskan ke dalam dosa dan maksiat.
Pertanyaan 5: Bagaimana cara terhindar dari istidraj?
Jawaban: Cara terhindar dari istidraj antara lain selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT, tidak terlena dengan kenikmatan duniawi, selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya, dan memperbanyak ibadah dan amalan kebaikan.
Pertanyaan 6: Apa hikmah yang dapat diambil dari memahami arti istidraj?
Jawaban: Hikmah yang dapat diambil dari memahami arti istidraj adalah kita menjadi lebih waspada terhadap jebakan kenikmatan duniawi, selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya, dan semakin dekat dengan Allah SWT.
Memahami arti istidraj sangat penting bagi kita agar dapat terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama.
Baca juga artikel selanjutnya: Istidraj: Ujian dari Allah SWT
Tips Mengenal Arti Istidraj
Istidraj adalah ujian dari Allah SWT yang berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah, yang diberikan kepada orang-orang yang jauh dari-Nya. Kenikmatan tersebut dapat membuat seseorang terlena dan lupa diri, sehingga semakin jauh dari Allah SWT. Memahami arti istidraj sangat penting bagi kita agar dapat terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama.
Tips Mengenal Arti Istidraj:
Tip 1: Pahami Definisi Istidraj
Istidraj adalah ujian dari Allah SWT berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah, yang diberikan kepada orang-orang yang jauh dari-Nya. Kenikmatan tersebut dapat berupa kekayaan, kekuasaan, kesehatan, popularitas, dan pengakuan.
Tip 2: Kenali Dampak Istidraj
Dampak negatif istidraj antara lain kesombongan, keangkuhan, lalai beribadah, menjauhkan diri dari Allah SWT, dan menjerumuskan ke dalam dosa dan maksiat.
Tip 3: Waspadai Jebakan Kenikmatan Duniawi
Kenikmatan duniawi dapat menjadi jebakan yang membuat kita lupa diri dan jauh dari Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan tidak terlena dengan kenikmatan tersebut.
Tip 4: Ingat Tujuan Hidup yang Sebenarnya
Tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan mengingat tujuan hidup ini, kita akan terhindar dari godaan istidraj.
Tip 5: Perbanyak Ibadah dan Amal Kebaikan
Memperbanyak ibadah dan amal kebaikan dapat membantu kita terhindar dari istidraj dan semakin dekat dengan Allah SWT.
Dengan menerapkan tips-tips ini, kita dapat lebih memahami arti istidraj dan terhindar dari jebakannya. Semoga kita semua dapat selalu dekat dengan Allah SWT dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama.
Baca juga artikel selanjutnya: Istidraj: Ujian dari Allah SWT
Kesimpulan Arti Istidraj
Arti istidraj merupakan konsep penting dalam ajaran Islam yang merujuk pada ujian dari Allah SWT berupa kenikmatan duniawi yang berlimpah. Kenikmatan tersebut diberikan kepada orang-orang yang jauh dari-Nya, sebagai ujian keimanan dan ketaatan. Istidraj memiliki dampak negatif yang besar, seperti kesombongan, keangkuhan, dan menjauhkan diri dari Allah SWT.
Memahami arti istidraj sangat penting bagi umat Islam agar dapat terhindar dari jebakan kenikmatan duniawi. Hal ini dapat dilakukan dengan selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, tidak terlena dengan kenikmatan tersebut, serta memperbanyak ibadah dan amalan kebaikan. Dengan menghindari istidraj, umat Islam dapat menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama dan semakin dekat dengan Allah SWT.
Youtube Video:
